Kompolnas : Alasan Polisi Tak Tahan Rasyid Amrullah Bisa Diterima

Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) tidak mempersoalkan penanganan kasus tabrakan maut yang melibatkan Rasyid Amrullah, putra Menteri Perekonomian Hatta Radjasa.

NUSANTARA

Senin, 14 Jan 2013 14:32 WIB

Author

Ade Irmansyah

Kompolnas : Alasan Polisi Tak Tahan Rasyid Amrullah Bisa Diterima

polisi, rasyid amrullah

Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) tidak mempersoalkan penanganan kasus tabrakan maut yang melibatkan Rasyid Amrullah, putra Menteri Perekonomian Hatta Radjasa.

Anggota Kompolnas Adrianus Meliala mengatakan, hal ini menanggapi tudingan Indonesia Police Watch kalau polisi lamban ketika menangani kasus yang melibatkan anak pejabat negara. Menurut Adrianus, alasan polisi tidak menahan Rasyid karena anak Hatta Radjasa ini sakit, bisa diterima.

"Nah memang dalam konteks anak menteri ini, memang apa pun yang dilakukan oleh Polri bisa politis, maknanya gitu ya. Sebab menurut saya juga, soal penahanan itu bukan soal anak menterinya, tapi lebih kepada soal keperluannya. Contoh misalnya, katanya saudara Rasyid ini sakit. Menurut saya kalau memang sakit memang sebaiknya tidak ditahan karena kalau ditahan dan kemudian sakit, yang rugi Polri juga kan. Artinya dari segi kerepotannya dan juga kemudian habisnya masa penahanan gara-gara sakitnya dan membuatnya harus diperpanjang dan lalu itu ujung-ujung membuat repot. Jadi memang sebaiknya tidak ditahan kalau memang yang bersangkutan sakit,” ungkap Adrianus.

Sebelumnya, Indonesia Police Watch (IPW) memandang sikap Polda Metro Jaya yang main kebut dan tidak kunjung menahan Rasyid Rajasa perlu dipertanyakan Komisi II DPR RI.

Ketua Presidium IPW, Neta S Pane mengatakan, polisi banyak melakukan kejanggalan ketika menangani kasus tabrakan yang melibatkan anak Hatta Radjasa. Seperti penyusunan berkas perkara yang singkat, juga tidak ditahannya Rasyid Amrullah dengan alasan tersangka dalam kondisi trauma dan sakit. Penanganan seperti ini tak diberikan polisi ketika menangani kasus tabrakan lain yang juga menewaskan banyak orang.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Survei Sebut Mayoritas Masyarakat Ingin Pandemi Jadi Endemi