Bagikan:

COVID-19 Bayangi Nataru, Epidemiolog: Vaksin Booster Kunci Utama

"Booster itu sangat penting untuk jadi modal kita, mengurangi ancaman kerawanan dari kelompok-kelompok berisiko tinggi. Ini yang harusnya terkait atau sebagai mitigasi ,ketika mobilitas meningkat."

NASIONAL

Rabu, 07 Des 2022 21:26 WIB

COVID-19

Petugas menyiapkan vaksin COVID-19 dosis penguat atau booster di Polres Madiun, Jawa Timur, Selasa (6/12/2022). (Foto: ANTARA/Siswowidodo)

KBR, Jakarta - Epidemiolog Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman mengatakan, suntikan vaksin ketiga atau vaksin booster COVID-19 perlu menjadi syarat utama bagi pelaku perjalanan menjelang peningkatan mobilitas masyarakat di Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Dicky Budiman mengatakan vaksin booster merupakan modal penting untuk menghindarkan masyarakat dari keparahan bahkan kematian akibat COVID-19.

Ia menyarankan pemerintah tidak henti-hentinya terus meningkatkan cakupan booster secara nasional.

"Sekali lagi booster itu sangat penting untuk jadi modal kita, mengurangi ancaman kerawanan dari kelompok-kelompok berisiko tinggi. Ini yang harusnya terkait atau sebagai mitigasi ,ketika mobilitas meningkat. Untuk meningkatkan booster ya tentunya ini harus disertai dengan strategi komunikasi risiko dengan penyediaan vaksin yang memadai," ujar Dicky kepada KBR, Rabu (7/12/2022).

Dicky Budiman mengatakan, upaya pengendalian pandemi tetap harus mengutamakan hak kesehatan masyarakat.

Pemerintah, kata dia, harus melindungi masyarakat dengan booster serta penguatan testing, tracing, dan treatment (3T) untuk mengatasi lonjakan kasus.

"Dalam gelombang berapapun, dengan penyebab varian apapun ya tetap sama, memang dengan 3T dan vaksinasi," tuturnya.

Baca juga:

Pembatasan tetap diperlukan

Epidemiolog Universitas Griffith Australia Dicky Budiman menambahkan, momen libur Natal dan Tahun Baru harus disikapi pemerintah dengan langkah antisipatif mengingat COVID-19 masih ada.

Kata dia, perubahan perilaku, peningkatan kualitas sirkulasi udara dalam ruangan, dan pembatasan tertentu tetap penting dilakukan.

"3T itu tentu, tapi dalam aspek testing memang tidak semasif sebelumnya. Pembatasan pun tidak perlu seperti sebelumnya, tapi setidaknya di level 1 atau 2 tergantung kondisi masing-masing daerah," jelasnya.

Sebelumnya, Presiden Jokowi meminta para menteri terus mengantisipasi dan melakukan mitigasi terhadap penanganan Covid-19. Meskipun, saat ini terjadi penurunan kasus secara signifikan.

Hal ini disampaikan presiden dalam sambutannya di Sidang Kabinet Paripurna tentang kondisi perekonomian tahun 2023, evaluasi penanganan Covid-19, ketahanan pangan dan energi di Istana Negara, Jakarta, Selasa lalu (6/12/2022).

Baca juga:


Editor: Agus Luqman

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 7

Laku Ramah Lingkungan dari Bilik Kecil Kantin Sekolah di Bali

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 11

Most Popular / Trending