Bagikan:

Sektor Industri Masih Jadi Penyumbang Nilai Ekspor Terbesar 2021

Tetapi, dari segi nilai, sektor industri ini memiliki peranan yang cukup penting dari peningkatan ekspor secara keseluruhan,

BERITA | NASIONAL | KABAR BISNIS

Jumat, 10 Des 2021 16:23 WIB

Author

Ranu Arasyki

Sektor Industri Masih Jadi Penyumbang Nilai Ekspor Terbesar 2021

Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Belawan Medan Sumatera Utara, Senin (22/11/2021). (Foto: ANTARA/Fransisco Carolio)

KBR, Jakarta - Sektor industri masih menjadi penyumbang dengan nilai terbesar yang berkontribusi terhadap peningkatan ekspor sepanjang Januari hingga Oktober 2021.

Staf Ahli Menteri Perdagangan Bidang Hubungan Internasional Kemendag Arlinda Imbang mengatakan, per Januari-Oktober 2021, ekspor sektor industri melesat mencapai US$143,76 miliar, disusul sektor pertambangan senilai US$29,30 miliar, migas senilai US$9,85 miliar, dan pertanian senilai US$3,41 miliar.

Namun, jika dilihat berdasarkan persentase, sektor pertambangan masih mendominasi di antara sektor lainnya.

"Kalau kita lihat nilai dan pertumbuhan ekspor di bulan Januari-Oktober, memang pertumbuhan yang besar itu ada di sektor pertambangan, berdasarkan prosentase ya. Kemudian migas, baru alat industri, dan pertanian. Tetapi, dari segi nilai, sektor industri ini memiliki peranan yang cukup penting dari peningkatan ekspor secara keseluruhan," kata Arlinda Imbang dalam diskusi daring, Jumat (10/12/2021).

Baca Juga:

Arlinda berujar, masih berdasarkan nilai, sepanjang Januari-Oktober 2021, minyak nabati masih berada di posisi pertama untuk ekspor non migas mencapai US$27,31 miliar. 

Di posisi kedua diisi sektor batubara senilai US$ 25,46 miliar, produk lainnya US$ 17,25 miliar, kemudian besi dan baja US$ 16,62 miliar.

Kemendag juga mencatat terjadinya peningkatan impor dibandingkan tahun lalu (yoy), seperti impor bahan baku/penolong senilai US$117,43 miliar atau meningkat 39,64 persen (yoy), disusul barang modal US$22,39 atau 19,50 persen (yoy), dan barang konsumsi US$15,69 miliar atau 34,81 persen (yoy). 

Menurut Arlinda Imbang, peningkatan impor bahan baku/penolong dan barang modal diperlukan untuk mendorong stimulasi pergerakan ekonomi nasional pada saat pandemi.

Di segi impor, besi dan baja masih mencatat nilai impor terbesar mencapai nilai US$9,5 miliar, kemudian impor ampas/sisa industri makanan US$3,33 miliar, dan gula/kembang gula mencapai US$2,43 miliar.

Arlinda mengatakan, pada Januari-Oktober 2021, Amerika Serikat memberikan surplus terbesar atas raihan neraca perdagangan mencapai US$11,52 miliar. Tak hanya itu, Filipina dan India juga mencatatkan kenaikan, masing-masing senilai US$ 5,86 miliar, dan US$4,76 miliar. 

Beberapa negara tujuan ekspor pada tahun ini tampak mengalami defisit. Negara tersebut di antaranya, Australia hingga minus US$4,8 miliar, Singapura minus US$2,8 miliar, dan Thailand minus US$1,54 miliar.

Editor: Agus Luqman

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Jalan Buntu Penolakan Pemekaran Wilayah Papua