Bagikan:

Refleksi 2021: Target Herd Immunity COVID-19 dan Ancaman Omicron

Pemerintah menargetkan bisa mencapai mencapai herd immunity atau kekebalan kelompok melalui vaksinasi 70 persen secara nasional pada akhir tahun ini. Namun, virus varian Omicron membuat waswas.

BERITA | NASIONAL

Selasa, 28 Des 2021 20:58 WIB

Refleksi 2021: Target Herd Immunity COVID-19 dan Ancaman Omicron

Petugas menyuntikkan vaksin COVID-19 pada anak dalam kegiatan vaksinasi massal anak di Kota Madiun, Jawa Timur, Selasa (28/12/2021). (Foto: ANTARA/Siswowidodo)

KBR, Jakarta - Pemerintah menargetkan vaksinasi Covid-19 dosis pertama mencapai 70 persen dari populasi penduduk di Indonesia, pada akhir tahun ini.

Vaksinasi pertama dilakukan perdana pada Presiden Joko Widodo dan sejumlah pejabat publik dan tokoh masyarakat pada awal Januari lalu. Dilanjutkan pada Februari, dengan vaksinasi secara bertahap untuk kelompok prioritas yang rentan terpapar COVID-19, khususnya tenaga kesehatan.

Juru bicara Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito mengklaim target itu berhasil dicapai. Ini tidak lepas dari keterlibatan banyak pihak, termasuk pihak swasta yang membantu percepatan distribusi vaksin.

"Akhirnya di akhir tahun ini, Indonesia mencapai target vaksinasi oleh WHO di mana 70 persen populasinya sudah divaksin dosis pertama, dan 40 persen populasi telah divaksin dosis kedua,” kata Wiku dalam konferensi pers, Selasa (28/12/2021).

Wiku juga menyinggung soal upaya pemerintah menjamin ketersediaan vaksin jangka panjang serta mendorong kemandirian anak bangsa, dengan menetapkan kandidat vaksin Merah Putih untuk didukung sepenuhnya, termasuk rangkaian proses produksi serta hilirisasinya. 

Dalam upaya mempercepat vaksinasi guna mencapai target herd immunity, pada Mei 2021 pemerintah juga bermitra dengan pihak swasta seperti sektor industri, untuk menjadi penyelenggara vaksinasi atau melaksanakan vaksinasi gotong royong.

Baca juga:

Belum Merata

Sementara itu, Wakil Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan menyebut capaian vaksinasi di pulau Jawa dan Bali bahkan lebih tinggi dari rata-rata nasional. Meskipun jika dilihat dari cakupan geografis, capaian vaksinasi belum merata.

“Dapat kami laporkan juga bahwa capaian vaksinasi umum dan lansia di Jawa dan Bali juga terus meningkat. Capaian vaksinasi dosis satu dan dua di Jawa dan Bali, masing-masing telah mencapai lebih dari 80 persen dan 60 persen. Sementara hasil sero-survei nasional yang menunjukan tingkat kekebalan masyarakat cukup tinggi. Namun masih terdapat beberapa kabupaten kota, dengan vaksinasi dosis satu di bawah 50 persen. Pemerintah terus mendorong peran serta pemerintah daerah untuk memaksimalkan suntikan vaksin di wilayahnya,” kata Luhut dalam keterangan pers, Senin (27/12/2021).

Epidemiolog Universitas Airlangga Laura Navika Yamani mengapresiasi pencapaian tersebut. Hanya saja, Laura menyarankan pemerintah segera meningkatkan target dan capaian vaksinasi Covid-19. Ini tidak lepas dari kemunculan bermacam varian Covid-19, termasuk varian Omicron.

“Dengan capaian vaksinasi yang bisa dikatakan baik, ini tentunya harus dipertahankan. Dan kalau bisa harus ditingkatkan. Karena ini kan kemunculan varian baru, kita nggak tahu ya seperti apa nanti kondisinya. Target vaksinasi yang di awal itu sekitar 70 persen, itu kan identifikasi dari virus awal yang datang dari Wuhan. Yang memiliki daya tular itu satu orang bisa menularkan ke tiga sampai empat orang. Sedangkan saat ini, itu kan sudah berkembang varian-varian yang baru ya. Ada alfa, beta, delta, bahkan sekarang Omicron," kata Laura dalam diskusi MNC Trijaya bertajuk ‘THT Petang: Capaian Vaksinasi dan Kekebalan Komunal’, Kamis (23/12/2021). 

Laura juga menyinggung soal adanya perubahan karakteristik virus yaitu peningkatan daya transmisi. Terutama saat ini ada varian Omicron yang disebut lebih menular dibandingkan dengan varian Delta, sampai 5 kali. 

"Kalau dari saya hitungan kita, kala Delta bisa 7-10 orang. Berarti cakupan vaksinasinya juga kan tidak lagi 70 persen. Jadi satu dibagi misalkan tadi daya tularnya 10 ya, Maka 0,1. Berarti bisa dihitung 1 dikurangi 0,1 itu kan butuh 90 persen,” kata Laura.

Laura menyebut dengan capaian vaksinasi saat ini, kekebalan komunal bisa dikatakan sudah terbentuk. Tapi untuk mempertahankannya, masyarakat tetap wajib dan terus menerapkan protokol kesehatan.

Baca juga:

Di lain pihak, Penasihat Dirjen Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Gender dan Pemuda, Diah Satyani Saminarsih mengatakan WHO merekomendasikan vaksinasi masyarakat di seluruh dunia, mencapai 40 persen dari populasi, untuk tersebar secara merata.

Diah mengakui belum ada penyesuaian rekomendasi pascamunculnya varian Omicron. WHO masih berfokus pada ketimpangan sebaran vaksinasi Covid-19 secara global.

“Kenyataannya banyak negara yang sudah sangat banyak, sudah 70-80 persen bahkan lebih, bahkan sampai booster vaksin ketiga keempat, bahkan anak-anak sudah divaksin. Tapi di sisi lain banyak negara juga yang cakupan vaksinnya baru 8 persen, palin tinggi 10 persen. Jadi sangat jauh ketimpangannya. Tentu kita mendorong 40 persen ini dengan harapan tidak ada ketimpangan lagi. Taoi catatannya adalah kalau ada banyak negar amencapai hingga 80-90 persen tapi di sisi lain banyak negara juga masih belum 10 persen, Itu tidak akan menghentikan pandemi ini,” ucapnya (23/12/21).

Editor: Agus Luqman

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Laporan Temuan Ombudsman soal Penanganan Bencana

Most Popular / Trending