Bagikan:

Pembentukan Komponen Cadangan Masih Jadi Polemik, Rekrutmen Anggota Jalan Terus

Menghabiskan anggaran hingga 1 triliun rupiah pertahun, rekruitmen anggota komcad akan terus ditambah. Salah satunya akan dilaksanakan oleh TNI Angkatan Udara (AU) pada Maret 2022.

NASIONAL | BERITA

Kamis, 30 Des 2021 22:08 WIB

Author

Dwi Reinjani

Pembentukan Komponen Cadangan Masih Jadi Polemik, Rekrutmen Anggota Jalan Terus

Upacara Pelantikan Komcad, di Pusdiklatpasus, Bandung.

KBR, Jakarta - Oktober 2021 lalu Presiden Joko Widodo melantik 3000an anggota Komponen Cadangan (Komcad) di Bandung, Jawa Barat bersama Menteri Pertahanan Prabowo Subiyanto. 

Presiden Jokowi mengatakan pembentukan unit tambahan ini bertujuan untuk memperkuat pertahanan negara. Kendati demikian, Jokowi menegaskan anggota komcad hanya akan diaktifkan dalam situasi tertentu.

"Masa aktif komponen cadangan tidak setiap hari tidak setiap saat setelah penetapan ini saudara-saudara kembali ke profesi masing-masing anggota komponen cadangan tetap berprofesi seperti biasa masa aktif komponen cadangan hanyalah pada saat mengikuti pelatihan dan pada saat mobilisasi tetapi anggota komponen cadangan harus selalu siaga jika dipanggil negara," ujar Jokowi, saat melantik anggota Komcad di Bandung, Jawa Barat, (8/10/2021).

Baca juga:

Menghabiskan anggaran hingga 1 triliun rupiah pertahun, rekruitmen anggota komcad akan terus ditambah. Salah satunya akan dilaksanakan oleh TNI Angkatan Udara (AU) pada Maret 2022. 

Asisten Potensi Dirgantara TNI AU, Bowo Budiarto mengatakan, pembukaan rekrutmen ini dimaksudkan untuk menabah sumber daya manusia dalam satuannya.

"Untuk TNI Angkatan Udara Tahun 2022 mungkin alokasi pertama kita 500 orang kemudian akan kita Didik pelatihan dasar kemiliteran yang akan dilaksanakan di Bandung dan Insyaallah perintah dari kemenhan itu kita akan melaksanakan mungkin 1 Maret selama 3 bulan," ujar Bowo, kepada wartawan, Kamis (16/12/2021).

Selain TNI AU, Rekrutmen juga mulai menyasar para ASN pasalnya, bulan ini Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB), Tjahjo Kumolo mengeluarkan Surat Edaran nomor 27 tahun 2021, tentang Peran Serta Pegawai ASN sebagai Komponen Cadangan dalam Mendukung Upaya Pertahanan Negara. Namun ia menegaskan, aturan ini bersifat sukarela, bukan hal wajib yang harus diikuti semua ASN.

"Di dalam SE No. 27/2021 tersebut tidak disebutkan bahwa ASN wajib mengikuti pelatihan Komponen Cadangan. Program pelatihan Komponen Cadangan bersifat sukarela, sehingga tidak ada yang menyebutkan bahwa ASN wajib mengikuti," kata Tjahjo dalam keterangan tertulisnya, Kamis (30/12/2021).

Sejak awal wacana komcad mencuat hingga dilantiknya ribuan anggota, tidak sedikit yang mengkritik dan mempertanyakan alasan dibalik kebijakan tersebut. 

Baca juga:

Beberapa pengamat dan masyarakat sipil bahkan khawatir, keberadaannya akan menimbulkan permasalahan hukum baru.

Salah satu yang bersuara adalah Direktur Imparsial Gufron Mabruri. Ia menilai pembetukan unit baru itu tidak memiliki dasar yang mendesak dan penting. Bahkan ia khawatir malah akan menimbulkan konflik horizontal di masyarakat.

"Pertama potensi abuse penggunaannya di lapangan kan kita punya masalah terkait dengan paramiliter nah keberadaan komcad dengan kerangka pengaturannya yang problematik kemudian mekanisme kontrol pengawasan yang lemah nah di lapangan di lapangan dia berpotensi untuk disalahgunakan untuk tujuan-tujuan diluar sektor pertahanan karena kan bisa saja dia digunakan untuk tujuan-tujuan keamanan dalam negeri soal pengamanan unjuk rasa kemudian juga ancaman hibrida dan lain sebagainya," ujar Gufron, saat dihubungi KBR.

Selain Gufron, Pakar Militer Connie Rahakundini juga khawatir pelatihan yang singkat tidak bisa membentuk jiwa prajurit yang kuat. 

Ia mengatakan, anggota TNI digembleng secara bertahap dalam waktu panjang, sedangkan komcad hanya digembleng selama tiga bulan. Ia khawatir akan terjadi kekacauan, apa lagi para komcad dibekali senjata jika turun ke lapangan.

"Yang sekarang ini menurut saya agak membingungkan karena tadi pertama pendidikannya sangat pendek kedua diberi senjata yang menurut saya canggih banget senjata tentara beneran kita saja belum tentu seperti itu mereka sepertinya pakai assault rifle (SS2-VA A1)padahal seharusnya mereka pakai SS1-M1 sudah cukup," ujar Connie, Rabu (24/11/2021).

Editor: Agus Luqman

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 12

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7