Bagikan:

Kuartal IV/2021 Tren Restrukturisasi Kredit Mulai Turun

"Semua lembaga pembiayaan akan kita minta membuat cadangan, karena ini tidak evergreen, suatu saat akan ita normalkan, kebijakannya akan kita cabut. Begitu kita cabut jangan sampai tidak siap"

BERITA | NASIONAL

Senin, 06 Des 2021 13:17 WIB

Author

Ranu Arasyki

Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso pada acara Kuliah Umum. Senin, (6/12/21). (Foto: OJK)

Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso pada acara Kuliah Umum. Senin, (6/12/21). (Foto: OJK)

KBR, Jakarta- Restrukturisasi kredit debitur perbankan dan jasa pembiayaan pada kuartal IV/2021 tampak mengalami penurunan seiring pelonggaran PPKM dan percepatan vaksinasi yang dilakukan pemerintah.

Berdasarkan data yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (POJK), per Oktober 2021 restrukturisasi kredit pembiayaan mencapai Rp714,02 triliun year to date (ytd) dengan 4,41 juta debitur. Outstanding restrukturisasi kredit akibat Covid-19 itu berasal dari sektor UMKM senilai Rp267 triliun (ytd) dari 3,21 juta debitur, dan non UMKM senilai Rp446,43 triliun dari 1,19 juta debitur.

Sementara, outstanding kredit restrukturisasi perusahaan pembiayaan per 18 Oktober 2021 mencapai Rp216,22 triliun (ytd) dengan 5,19 juta kontrak debitur.

Baca Juga:

Masuki Masa Pemulihan, OJK Beberkan Sejumlah Tantangan yang Bakal Dihadapi Perbankan

OJK Tetap Waspadai Risiko Kredit, Meski Tumbuh 3,25 Persen

"Jadi kredit yang kemarin yang betul-betul terkena itu ada hotel, transportasi, rumah makan, toko, mal. Itu rata-rata yang sangat berat, dan size-nya gede. Kalau warung tegal itu tutup sementara, begitu orang lalu lalang, kemudin buka lagi. Tetapi kalau mal, hotel berbintang lima mau buka itu kan harus memanggil pegawainya dulu, dibersihin dulu perlu persiapan," kata Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso saat  kuliah umum  di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta bertema "Kebijakan Strategis OJK dalam Mengakselerasi Pemulihan Ekonomi dan Langkah ke Depan" secara daring, Senin (6/12/2021).

Penetrasi penyaluran kredit juga terpantau mengalami pergerakan positif. Menurut Wimboh, kredit UMKM tumbuh sebesar 3,35 persen atau Rp1,12 triliun (ytd), demikian dengan korporasi tumbuh mencapai 2,4 persen atau Rp2,7 triliun (ytd), retail 3,01 persen atau Rp1,5 triliun (ytd), dan kredit lain mencapai Rp16,30 persen Rp106,9 triliun (ytd) .

Menurut Wimboh, seluruh jenis kredit meningkat secara year on year (yoy), tetapi untuk kredit investasi masih mengalami kontraksi sebesar minus 0,12 persen. Kredit untuk jenis modal/kerja bertumbuh sebesar 5,312 persen atau Rp2,5 triliun, disusul konsumsi sebesar 3,08 persen atau Rp1,5 triliun.

Wimboh mengatakan, program restrukturisasi kredit dari OJK akan diperpanjang hingga 2023. Dia juga telah memerintahkan kepada perbankan dan jasa keuangan untuk membuat cadangan agar dapat dijadikan penyangga untuk menekan kredit bermasalah.

"Semua lembaga pembiayaan akan kita minta membuat cadangan, karena ini tidak evergreen, suatu saat akan ita normalkan. Kebijakannya akan kita cabut. Ya sekarang ini 2023, begitu kita cabut jangan sampai tidak siap," ujarnya.

Editor: Rony Sitanggang

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 7

“Konversi Kompor Induksi untuk Tekan Subsidi Elpiji”

HUT RI Ke-77, Nasionalisme dan Prestasi Anak Bangsa

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Most Popular / Trending