Bagikan:

HIDUP USAI TEROR Season 2 : Tentang Bumi Syam dan Jerat ISIS di Dunia Maya (Part 1)

NASIONAL | RAGAM

Rabu, 22 Des 2021 19:09 WIB

HIDUP USAI TEROR Season 2 : Tentang Bumi Syam dan Jerat ISIS di Dunia Maya (Part 1)

Ilustrasi Podcast Hidup Usai Teror Season 2. (FOTO : KBR)

“Sampai gue tuh punya pikiran ‘rasanya kayanya hadiah Sweet 17 tuh bisalah nyampe ke negeri yang diberkahi itu’. Ketika gue nyampe ‘wah ini udah wilayahnya mereka’, gue tuh sujud syukur. Sesampainya gue disana, itu sih gue kaget, ‘Kok beda ya dengan yang dahulu diceritakan’, ada memang beberapa yang baik, tapi gak sedikit juga yang buruk gitu lho,”

Kamu mendengarkan Hidup Usai Terror. Di Season ke 2 ini, KBR berkolaborasi dengan ruangobrol.id. Kami menghadirkan kisah anak muda, bekas simpatisan ISIS dan returnee dari Suriah.

Dengarkan juga : Hidup Usai Teror Season 1

Hai, saya Malika. Kita jumpa lagi di serial Hidup Usai Teror produksi KBR, berkolaborasi dengan Ruangobrol.id. Sebuah narasi di media sosial, menguatkan tekad seorang anak muda untuk meninggalkan tanah air. Narasi itu berbunyi, “Bumi Syam adalah bumi yang diberkahi, bumi yang dinaungi oleh sayap-sayap para malaikat. Bahwa apabila kalian pindah ke sana berhijrah maka akan hidup sejahtera penuh keadilan dan semua terfasilitasi”. Nur Syadrina Khaira Dania atau yang biasa dipanggil Dania, usianya baru 16 tahun ketika bertekad hidup dibawah naungan ISIS. Dia membujuk 26 orang anggota keluarganya untuk ikut bersamanya ke Suriah, pada 2015 yang lalu. Apa yang dia temui disana? Kita simak cerita Dania.

“Gue Dania, gue mantan returnee dari Suriah. Sekitar 2015, gue memutuskan untuk keluar dari sekolah, di kelas 2 SMA karena gue pengen ke Suriah waktu itu. Mungkin ada yang bertanya-tanya ya, kenapa sih masih kelas 2 SMA, umur masih 16 tahun, sekitar akhir 2014. Gue tau pertama kali isu atau kabar kemunculan Khilafah ini dari paman gue. Paman gue juga tau dari internet. Gue yang dulu sekitar 2013-2014 itu lagi jadi mungkin sekarang namanya pemuda hijrah. Gue lagi pencarian jati diri, lagi mulai semangat-semangatnya belajar islam. Baca-baca buku islami, seperti buku ke-khilafah-an nabi dan sahabatnya, artikel islami di media sosial.

Ketika gue dapet kabar itu dari paman gue, jiwa kekepoan gue itu tergerak untuk mencari tahu, ‘masa sih jaman sekarang masih ada khilafah lagi?’. Gue yang sebelumnya sering menghabiskan waktu di media sosial, gue cari lah info-info mereka itu di media sosial, di Facebook, Tumblr, dan juga Twitter. Gue baca-baca kan mereka itu bilang ini khilafah seperti zaman Nabi, pokoknya kaum muslimin itu wajib lah berhijrah, belum lagi mereka itu menyampaikan dalil-dalil dari Al-Qur’an Sunnah. Gue sebagai anak muda yang waktu itu masih belajar Islam dan mereka menyampaikannya itu dalil, gue menganggap ‘gak mungkin mereka itu bohong. Itu pasti bener’. Paling kuat itu salah satunya seperti bahwa Bumi Syam adalah bumi yang diberkahi, bumi yang dilindungi sayap-sayap para malaikat. Dan beberapa juga fasilitas yang mereka ceritakan, bahwa apabila kalian pindah kesana berhijrah maka akan hidup sejahtera, penuh keadilan, dan semua pokoknya terfasilitasi.

So gue tuh kaya mengambil kesimpulan, surga dunia dan akhirat tuh kita akan dapetin dengan kesana. Gue share lah ke keluarga gue kan, keluarga inti lebih tepatnya ayah, bunda, kakak dan adik. Ya orangtua gue kaya ga peduli lah sama yang begituan, don’t care lah gak ngedengerin. Bahkan ketika ayah gue ngasih argumen, pendapat dia tentang hal ini, gue ga mau ngedengerin. Gue jawab dengan artikel atau argumen yang gue dapat dari internet dari media-media khilafah di Suriah ini. Gue menganggap, cukup keras juga ya, gue menganggap ‘ayah gue tau apa sih soal agama?’, karena kenapa sih gue banyak ngehabisin waktu di media sosial? Karena jujur ya, keluarga gue alhamdulillah yang termasuk perekonomian-nya baik, akademisnya juga baik, pokoknya gak kekurangan lah. Tapi gue merasa, ‘kok hidup gini-gini aja?’, orang tua gue semuanya sibuk, sodara juga sibuk dengan sekolah nya masing-masing, gak ada waktu untuk kita berdiskusi apalagi masalah agama.

Makanya gue lebih sreg dan seneng di media sosial waktu itu. Sampai akhirnya gue makin kuat bahwa harus berhijrah. Belum lagi di akhir 2014 itu ramai berita anak-anak Inggris umur 15 dan 16 tahun itu berhijrah kesana sendiri. Dan itu memotivasi gue untuk pengen segera kesana. Bahkan di awal 2015 itu gue berharap bisa segera kesana, kan gue kelahiran April ya, sampai gue tuh punya pemikiran rasanya itu kayanya hadiah ‘Sweet 17’ gue bisa lah nyampe ke negeri yang diberkahi itu.

Gue lagi kelas 2 SMA ya tahun 2014, nilai gue tuh bagus banget, gue juara kelas, dan sebagainya. Sampai di awal 2015, yaitu naik ke semester 2, nilai gue udah mulai turun. Karena jujur otak gue udah pikirannya udah kepikiran kesana mulu, pengennya segera berhijrah. Tapi gak mungkin kan gue itu bisa pergi kesana sendiri, duit dari mana, gue gak ngerti kayak visa-visaan gitu. Sehingga gue kaya nge-dorong orang tua untuk segera ‘udahlah keluarin aja, aku pengen keluar dari sekolah biar bisa fokus untuk keberangkatan kesana’, tapi mereka juga udah gak peduli lagi sampai akhirnya ya gue kabur dari rumah, gue ninggalin surat di rumah bahwa gue bakal balik ke rumah sampai orang tua itu ngasih keterangan bahwa gue udah keluar dari sekolah.

Keesokan harinya bunda gue ke sekolah dan ngurusin surat keluar gue dari sekolah. Akhirnya orang tua gue, luluh lah hatinya demi menjaga anaknya, takut lah kalo anaknya pergi sendiri kesana, ke negeri yang menurut mereka masih belum diketahui. Takutlah kalo ada kaya human trafficking dan sebagainya. Gue bilang lah ke ayah ‘ayah ga bakal kok kehilangan pekerjaan kok’, karena yang gue dapetin di media khilafah ini semuanya akan terjamin, bahkan gaji lebih besar, gak akan kehilangan pekerjaan, terus ke adek gue juga bahwa disana kita pendidikan gratis anak-anaknya, semua sejahtera. Sampai kakak gue pun ikut karena dia terpaksa.

Di Agustus 2015, kami sekeluarga besar yang beranggotakan 26 orang itu berangkat dari Jakarta ke Turki. 26 orang memang bukan jumlah yang sedikit. Masing-masing kita itu mempunyai motivasi dan latar belakang atau niat yang berbeda-beda. Ada yang ingin hidup di bawah naungan ke-khilafah-an, negeri yang diberkahi, ada yang menjaga keluarga, ada yang ya terpaksa ikut, ada yang karena kesehatan, ada yang memang dijanjikan dibantu untuk membayar hutang, kesehatan gratis, dan lain sebagainya. Berangkat, sekitar 2 minggu di Turki. Dari 26 orang itu yang berhasil masuk ke wilayah teritorial Suriah itu hanya 19 orang.

Hard to say sih sebenarnya gue males, tapi ini harus dijelasin karena sangkin dulu gue senengnya ya, gue kepengen banget sampe ketika gue nyampe ‘wah ini udah wilayahnya mereka’, gue tuh sujud syukur. Ya bersyukur banget lah, yang dulu gue damba-dambakan gue akhirnya nyampe ke sebuah negeri yang diberkahi.

Tapi…apa yang gue bayangkan sebelumnya, kan gue emang via media sosial aja itu ya, nge-baca berita mereka, apalagi terkhususnya Tumblr. Di Tumblr itu kan ada beberapa orang yang udah tinggal di sana, dia itu sering membagikan pengalaman dia, testimoni orang-orang yang udah hijrah kesana. Via Twitter, dia nulis ke buku harian gitu lah, namanya kan ‘Diary of Muhajirah” itu ada di Tumblr. Ternyata sesampainya gue disana, tepatnya gue waktu itu di tempatin di sebuah asrama yang mana isinya orang dari berbagai belahan dunia. Itu sih gue kaget kok beda ya dengan yang dahulu diceritakan. Ada memang beberapa yang baik, tapi gak sedikit juga yang buruk. Kayak masalah sepele sebenarnya, kebersihan itu kan sebagian dari iman. Tapi ketika di asrama kurang sekali mengenai kebersihan itu, kotor. Bahkan kita yang sudah jelas muslim itu adalah bersaudara tapi disana aja kadang berkelahi karena masalah sepele itu, berantem dan parahnya bisa sampe lempar-lemparan pisau.

Dan tadi yang due gapetin di Internet dibilangnya ‘anyone can be anything’, sesampainya disana kalo lu mau dapetin apa yang dijanjikan mereka atau fasilitas itu lu harus gabung dulu. Sedangkan memang tujuan kita kan bukan untuk bergabung menjadi kombatan gitu, oh engga. Kita hanya ingin menjadi warga sipil, hidup di wilayah negara kawasan mereka, wilayah khilafah. Tapi ya kami tidak mendapatkan karena kami tidak mau bergabung. Beberapa janji-janji yang tadi katanya membantu pembayaran hutang, hijrah cost atau biaya hijrah dari Indonesia itu akan diganti tapi kenyataannya tidak. Juga manner mereka, bagaimana ketika mereka memberi advice ke sesama muslim itu dengan perlakuan yang kasar. Kemudian ketika diingati untuk berubah mereka merasa yang paling benar, menyombongkan diri.

Ya jadi berbagai macam kejadian-kejadian yang tidak sesuai dengan apa yang mereka janjikan bahkan bertentangan dengan isi Al-Qur’an atau bertentangan dengan ajaran-ajaran islam itu sendiri. Ketika kami sharing ke keluarga kami yang dari Indonesia bahwa kondisinya sangat jauh, itulah akhirnya kami bulat (tekad) dan kami memutuskan untuk kembali.

Untuk keluar itu sangat-sangat sulit daripada ketika masuk,”

Dania dan keluarganya menjadi bagian dari ratusan warga Indonesia yang kecewa dan merasa tertipu. Kehidupan di sana ternyata tidaklah seperti surga yang digambarkan dalam propaganda ISIS. Mereka memutuskan kembali ke tanah air dan upaya itu tidak mudah. Setelah kembali ke Indonesia pada 2017 lalu, Dania dan keluarganya mengikuti program deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Ayah-nya dan paman-nya diadili karena bergabung dengan ISIS. Apa saja yang dilalui Dania hingga akhirnya bisa kembali? Bagaimana dia melihat pengalaman itu?

Simak cerita Dania, di bagian ke 2.

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Upaya Pemerintah Mengatasi KLB Polio

Most Popular / Trending