FOMOSapiens : Karantina Mandiri Pejabat Dan Spider-Man Bikin Sempit Layar Buat Film Lokal

Karantina Mandiri Pejabat Dan Spider-Man Bikin Sempit Layar Buat Film Lokal

BERITA | NASIONAL | RAGAM

Jumat, 17 Des 2021 14:20 WIB

FOMOSapiens : Karantina Mandiri Pejabat Dan Spider-Man Bikin Sempit Layar Buat Film Lokal

Ilustrasi highlight berita sepekan. (FOTO : KBR)

KBR, Jakarta – Anggota DPR RI dari Fraksi Gerindra, Mulan Jameela bikin netizen makin gerah dengan aturan karantina pemerintah. Warga biasa kudu karantina 10 hari di fasilitas yang sediakan pemerintah atau hotel dengan biaya sendiri. Sementara, Mulan dibolehkan karantina mandiri dengan alasan aturan memungkinkan pejabat negara melakukan itu. Aturan yang mana? Meski pemerintah yang bikin aturan, tiap instansi punya beda persepsi soal aturan karantina ini. Kok bisa?

Film “Yuni” dan “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas” yang baru tayang di bioskop dalam negeri, diturunkan jaringan bioskop dari layar untuk memberi ruang bagi film “Spiderman No Way Home”. Bukankah ada UU yang mewajibkan bioskop dalam negeri buat buka layar lebih banyak untuk film dalam negeri?

Kabar-kabar di atas menjadi bahasan di FOMO Sapiens minggu ini.

1. Karantina Mandiri Pejabat

Per 3 Desember 2021 lalu, masa karantina bagi pelaku perjalanan luar negeri diperpanjang hingga 10 hari di fasilitas karantina atau hotel rujukan pemerintah. Namun, tidak demikian dengan Anggota DPR RI, Mulan Jameela yang baru pulang dari perjalanan dinas di Turki. Bersama keluarganya, Mulan melaksanakan karantina mandiri di rumah. Ketika ramai disorot publik, beda pendapat pun bermunculan dari instansi pemerintah sendiri. Kok bisa?

Baca juga : Pemerintah Tetapkan Tanggap Darurat Cegah Penyebaran Varian Omicron

2. Spiderman Bikin Sempit Layar Bioskop Film Lokal

Pekan ini, para pecinta layar lebar tanah air dihebohkan dengan tayangnya “Spider-Man No Way Home”, film Marvel dengan salah satu fanbase terbesar. Sayangnya, besarnya animo masyarakat, bikin dua film lokal yang baru tayang “Yuni” dan “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas” terpaksa harus ngalah alias diturunkan. Padahal, ada ketentuan yang mewajibkan bioskop menanyangkan film lokal dalam jangka waktu 6 bulan berturut-turut. Memang ada kampanye #KembaliKeBioskop untuk memulihkan perfilman Indonesia. Tapi kenapa malah film lokal yang digeser?

Selengkapnya akan dibahas melalui obrolan Ian Hugen dan Aika Renata di FOMOSapiens pekan ini! Akan ada juga obrolan mengenai langkah Kementerian Agama untuk mencegah terjadinya kekerasan seksual di pesantren atau lembaga pendidikan berbasis agama yang lainnya juga soal Dukcapil Jaksel buka pintu untuk Transgender merekam e-KTP di Kelurahan.

Baca juga : Amar Alfikar: Transpria, Pesantren dan LGBTIQ+ Dalam Islam

*Kami ingin mendengar saran dan komentar kamu terkait podcast yang baru saja kamu simak, melalui surel ke podcast@kbrprime.id

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Meningkat Netizen Pakai Petisi di Platform Digital