Faktor Penyebab Biaya Logistik di Indonesia Termahal di Asia

Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menjelaskan penyebab tingginya biaya logistik impor di pelabuhan.

BERITA | NASIONAL

Jumat, 31 Des 2021 12:17 WIB

Author

Ranu Arasyki

Biaya Logistik di Indonesia Termahal di Asia

Ilusttasi aktivitas bongkar muat peti kemas di IPC Terminal Peti Kemas Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (26-12-2021). Foto: ANTARA

KBR, Jakarta— Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menjelaskan penyebab tingginya biaya logistik impor di pelabuhan. Peneliti Ahli Muda Pusat Kebijakan Ekonomi Makro BKF Kemenkeu Nunuk Nugraha menjelaskan faktor itu ialah naiknya biaya dari sisi eksternal.

"Faktor eksternal terdiri dari freight dan asuransi. Data menunjukkan, dalam kurun waktu empat tahun, khususnya saat terjadi pandemi, kenaikan rerata biaya impor eksternal bersumber freight mengalami peningkatan tajam. Kenaikan freight (biaya pengiriman) disebabkan karena adanya pengurangan jumlah pelayaran," ujarnya daring, Kamis (30/12/2021).

Dia menyebut, kenaikan biaya pengiriman mencapai 76 persen dari total biaya logistik impor. Kenaikan itu diikuti tren biaya yang kian melonjak dari sebelumnya 63,9 persen pada 2018, naik menjadi 76 persen pada 2021. Sementara biaya asuransi juga meningkat, kendati tidak signifikan, yakni 4,9 persen pada 2018 menjadi 6,1 persen pada 2021.

Hal itu membuat biaya logistik impor berdasarkan hitungan per feet peti kemas meningkat dari Rp1,7 juta menjadi Rp2 juta per peti kemas. Masing-masing biaya itu dikalikan berdasarkan ukuran peti kemas yang ada, yakni 20 feet dan 40 feet.

"Jadi kalau 20 feet, kan ada dua jenis 20 feet dan 40 feet. Kalau 20 feet berarti Rp2 juta kali 20 feet berarti Rp40 juta per peti kemas. Kalau 40 feet berarti Rp80 juta per peti kemas. Di mana, kalau melihat dari nominal ini mayoritas di tahun 2021 itu adalah dari biaya eksternalnya, yaitu freight dan asuransi. Sedangkan dari internal justru megalami penunurunan dalam kurun waktu empat tahun ini," sambungnya.

Nunuk menyebut, kenaikan di segi eksternal tersebut tidak dapat diintervensi pemerintah, seperti halnya untuk biaya di terminal operator atau biaya Perusahaan Pengurusan Jasa Kepabeanan (PPJK) dan biaya depo.

Termahal di Asia

Berdasarkan studi dari World Bank pada 2015, biaya logistik Indonesia mencapai 18 persen dari total penjualan. Proporsi biaya logistik ini masih tinggi dibandingkan Malaysia sebesar 15 persen dan Thailand sebesar 13 persen. 

Sementara berdasar studi yang dilakukan Pusat Pengkajian Logistik Rantai Pasok Institut Teknologi Bandung (ITB), estimasi biaya logistik nasional sekitar 24,6 persen dari product domestik bruto (PDB) pada 2011.

Biaya logistik impor Indonesia masih mengalami lonjakan yang signifikan dalam kurun waktu empat tahun terakhir (2018-2021). Hal tersebut membuat Indonesia menjadi negara peringkat tertinggi di kawasan Asia, yang memiliki biaya logistik mahal.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengakui, biaya logistik di Indonesia masih menjadi termahal di kawasan Asia. Oleh karena itu, isu biaya logistik menjadi komponen krusial dalam mendukung daya saing perdagangan internasional.

Biaya yang tinggi itu bisa mengurangi daya saing ditambah adanya disrupsi rantai pasok global akibat Covid-19 yang membuat harga semakin melambung.

Baca juga:

Editor: Sindu

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 12

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7