Dua Bulan Gelar Trade Expo, RI Raup US$6,06 Miliar dari Transaksi Perdagangan Digital

"Kita ekspor Januari-November ini sudah mencapai US$209 miliar, yang artinya tertinggi dalam sejarah. Yang terakhir itu tahun 2011 sekitar US$203 miliar."

BERITA | NASIONAL | KABAR BISNIS

Selasa, 21 Des 2021 15:42 WIB

Author

Ranu Arasyki

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menyampaikan laporan transaksi perdagangan di Trade Expo Indonesi

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menyampaikan laporan transaksi perdagangan di Trade Expo Indonesia Digital Edition 2021, Selasa (21/12/21). (Foto:Kemendag)

KBR, Jakarta - Transaksi perdagangan virtual terbesar berbasis katalog digital pada acara Trade Expo Indonesia Digital Edition (TEI-DE) 2021 membukukan capaian memuaskan. 

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menjelaskan dalam acara yang digelar 4 Oktober hingga 4 Desember 2021 itu, Indonesia berhasil mengantongi total transaksi senilai US$6,06 miliar sepanjang berlangsungnya acara tersebut. Angka tersebut melampaui target yang ditetapkan pemerintah senilai US$1,5 miliar.

"Ini setara dengan yang dihasilkan oleh Trade Expo Indonesia meski digital edition pada tahun ke-36 ini, dengan hasil capaian US$6,06 miliar. Transaksi terbesar adalah energi fosil atau batubara US$2,52 miliar, hasil pertanian US$792 juta, produk-produk kimia US$316,7 juta, kelapa sawit US$307,8 juta, herbal dan spesimen US$300 juta, kertas dan kertas olahan US$298 juta," kata Muhammad Lutfi pada saat penutupan Trade Expo Indonesia Digital Edition, Selasa, (21/12/2021).

Republik Rakyat Tiongkok (RRT) menempati posisi pertama dengan pembelian sekitar US$1,68 miliar atau 27,8 persen dari total pembelian, Mesir senilai US$560,2 juta atau 9,2 persen, Brazil senilai US$285,8 juta atau 4,7 persen, Jepang US$252,6 juta atau 4,2 persen, sisanya India senilai US$204,3 juta atau 3,4 persen.

Baca Juga:

Sepanjang digelarnya acara itu, total pengunjung menyentuh angka 32 ribu orang. Pengunjung itu termasuk 8.220 pembeli dari 136 negara. Dia merinci, pembeli mancanegara sebanyak 3,7 ribu orang, sedangkan 4,4 ribu lainnya adalah pengunjung lokal.

Sebanyak 834 exhibitor berkecimpung dalam ajang virtual itu. Mereka memasarkan beragam produk dari berbagai segmen, mulai dari manufaktur, digital lifestyle and services, food and beverage products, fashion and beauty product, medical and healthcare dan living comfort and amenities. Tak lupa, di sana juga ada produk halal.

Perolehan transaksi di perdagangan digital ini turut serta menyumbang rekor baru capaian ekspor Indonesia sepanjang Januari-November 2021. 

Lutfi berujar, ekspor Indonesia per Januari-November mencapai US$209 miliar. Bahkan, ekspor nonmigas Indonesia pada tahun ini melonjak tajam senilai U$45,2 miliar.

"Kita ekspor Januari-November ini sudah mencapai US$209 miliar, yang artinya tertinggi dalam sejarah. Yang terakhir itu tahun 2011 sekitar US$203 miliar. Dan ini neraca perdagangannya positif sekitar US$34 miliar, tertinggi dalam sejarah. Yang paking penting itu ekspor non migasnya sebesar US$45,2 miliar menjadikan tonggak sejarah baru, tren baru ekspor Indonesia di masa yang akan datang," ujarnya.

Saat ini, katanya, Kemendag memiliki dua pilar baru yang akan menjadi primadona Indonesia ke depan, yakni industri halal Indonesia, dan menjadikan Indonesia sebagai kiblat baru fesyen Islam dunia.

Baca Juga:

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Survei Sebut Mayoritas Masyarakat Ingin Pandemi Jadi Endemi