Bagikan:

Banyak Diminati, Investasi Tekstil 2022-2023 Sentuh US$979,5 Miliar

"Ada pernah beberapa pihak menyatakan bahwa industri TPT merupakan sunset industry. Itu salah besar. Kebangkitan ini akan memberikan semangat kepada industri dan perusahaan lain"

BERITA | NASIONAL | KABAR BISNIS

Kamis, 23 Des 2021 12:01 WIB

Author

Ranu Arasyki

Ilustrasi: Pengunjung melihat kain lunggi/tenun songket Sambas di Desa Sumber Harapan, Sambas, Kalba

Ilustrasi: Pengunjung melihat kain lunggi/tenun songket Sambas di Desa Sumber Harapan, Sambas, Kalbar, Sabtu (13/11/21). (Foto:Antara/Jessica Helena Wuysang)

KBR, Jakarta- Sejumlah investor telah menyatakan minat untuk membangun industri tekstil dan produk tekstil (TPT) di Indonesia pada 2022 hingga 2023.

Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jemmy Kartiwa menyebut, saat ini sudah ada 96 perusahaan yang berencana berinvestasi dengan total nilai US$979,5 miliar pada 2022 dan 2023.

"Angka tersebut menunjukkan industri TPT nasional mulai bangkit kembali dengan kinerja yang tidak kalah baik sebelum pandemi. Bahkan dalam jangka waktu yang cukup singkat. Data tersebut juga membuktikan bahwa industri TPT merupakan industri yang amat menjanjikan," ujarnya pada acara Groundbreaking dan Penandatanganan Prasasti Perluasan 8 Perusahaan Tekstil & Produk Tekstil, Kamis (23/12/2021).

Sementara, lanjut dia, pada tahun ini terdapat 97 perusahaan yang menanamkan investasi berupa perluasan unit dan pembaruan mesin produksi dengan total investasi senilai US$526,6 miliar.

Baca Juga:

Pemerintah Bakal Naikkan Porsi KUR Rp350 Triliun di 2022

Jokowi Tawarkan Konsesi Minerba ke Pemuda NU

Menurut dia, industri TPT mengalami pemulihan yang sangat cepat pasca puncak pandemi Covid-19. Pemulihan ini ditandai dengan dengan peningkatan utilisasi yang mayoritas mencapai lebih dari 70 persen dan tingginya realisasi serta rencana investasi pada 2021 hingga 2023. Industri TPT, lanjut dia, memiliki ketahanan yang cukup tinggi serta memiliki pertumbuhan yang cukup besar.

"Potensi ini semakin berkembang dengan adanya program substitusi impor yang dilakukan selama beberapa tahun terakhir sehingga memberikan ruang bertambah bagi industri dalam negeri," pungkasnya.

Bukan Sunset Industry

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, TPT menjadi salah satu kelompok industri pengolahan yang dikategorikan sebagai industri strategis. Pengembangan TPT masuk ke dalam industri prioritas nasional sesuai sebagaimana yang tercantum di Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN).

Kinerja industri TPT di masa pandemi 2021 masih mengalami penurunan, yakni minus 3,34 persen year on year/yoy. Sementara kontribusi industri ini terhadap PDB manufaktur mencapai 6,08 persen pada triwulan III/2021.

Meski demikian, lanjut Agus, pertumbuhan industri TPT secara triwulan mengalami perbaikan atau meningkat 4,27 persen quarter to quarter/qtq, dibandingkan triwulan II/2021 sebesar 0,48 persen.

Agus mengurai, ekspor TPT pada Januari-Oktober 2021 mengalami peningkatan sebesar 19 persen, atau senilai US$10,52 miliar. Lebih lanjut, investasi TPT juga mengalami kenaikan sebesar 12 persen, menjadi Rp5,6 triliun.

Baca Juga:

"Ada pernah beberapa pihak menyatakan bahwa industri TPT merupakan sunset industry. Itu salah besar. Kebangkitan ini akan memberikan semangat kepada industri dan perusahaan lain untuk mengembangkan dan investasi di Indonesia produk-produk yang berkaitan dengan TPT. Ini juga bentuk kontribusi dari para pelaku usaha TPT dalam mensosialisasikan program kami di Kementerian Perindustrian yang disebut dengan substitusi impor 35 persen." paparnya.

Substitusi Impor 35%

Saat ini, katanya, pemerintah telah banyak mengeluarkan kebijakan untuk mendukung industri nasional, termasuk TPT. Dukungan itu berupa insentif fiskal, tax allowance dan tax holiday, serta program substitusi impor 35 persen yang diyakini tercapai di akhir 2022.

Agus melaporkan, sampai pada triwulan III/2021, capaian program substitusi impor mencapai 13,4 persen dibandingkan 2019."

"Kalau ada teman-teman media bertanya apakah pak menteri optimis untuk mencapai target 35 persen pada 2022 substitusi impor, saya katakan optimistis. Karena apa? Karena subsektor-subsektor yang kita targetkan untuk mendukung program substitusi impor ini memang sudah kita terapkan secara detail. Termasuk langkah-langkahnya untuk menuju ke sana. Juga kebijakan atau program pemerintah dalam pengembangan neraca komoditas dan verifikasi kemampuan industri dalam rangka perbaikan rantai pasok bahan baku. Dan dukungan terhadap IKM (industri kecil dan mengengah) melalui material center, juga kebijakan pengendalian impor. Ini yang barangkali sangat bermanfaat bagi industri TPT," pungkasnya.


Editor: Rony Sitanggang

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

100 Hari Kerja Menteri ATR/BPN, Reforma Agraria Belum Memihak Petani

Most Popular / Trending