Serangan di Kabupaten Sigi Tidak Menyasar Agama Tertentu

Masyarakat bisa melapor ke polisi jika menemukan dan mengetahui keberadaan 11 DPO tersebut. 

NASIONAL

Kamis, 03 Des 2020 11:10 WIB

Author

Aldrimslit Thalara, Wahyu Setiawan

Serangan di Kabupaten Sigi Tidak Menyasar Agama Tertentu

Daftar Pencarian Orang Mujahidin Indonesia Timur, Poso, Pimpinan Ali Kalora.

KBR, Jakarta- Kapolda Sulawesi Tengah Abdul Rakhman Baso memimpin operasi pencarian belasan anggota kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Sigi, Sulawesi Tengah. Kelompok itu saat ini dipimpin Ali Achmad alias Ali Kalora.

Kelompok MIT disebut sebagai dalang pembunuhan keji satu keluarga di Desa Lembantongoa, Kabupaten Sigi, Jumat (27/11) lalu.

Juru bicara Mabes Polri Awi Setiyono mengatakan Kapolri Idham Azis sudah memerintahkan Kapolda Sulteng berkantor di Poso dan memimpin operasi di daerah sekitarnya.

"Yang kami monitor sejak hari pertama kejadian Kapolda Sulawesi Tengah memang sudah di Sigi dan sampai sekarang stand by di sana. Sehingga memang Kapolda langsung memimpin pelaksanaan operasi di sana. Dan tim Satgas Tinombala, Densus 88, Brimob, dan teman-teman BKO dari TNI pun juga langsung di bawah kendali Kapolda," kata Awi di Mabes Polri, Rabu (2/12/2020).

Juru bicara Mabes Polri Awi Setiyono menambahkan, kepolisian sudah merilis 11 foto daftar pencarian orang (DPO) kelompok teroris MIT.

Yakni Ali Ahmad alias Ali Kalora, Qatar alias Farel alias Anas, Askar alias Haid alias Pak Guru, Abu Alim alias Ambon, Nae alias Galuh alias Mukhlas.

Kemudian Khairul alias Irul alias Aslan, Jaka Ramadhan alias Krima alias Rama, Alvin alias Adam alias Musab alias Alvin Ashori, Rukli, Suhardin alias Hasan Pranata, dan terakhir Ahmad Gazali alias Ahmad Panjang.

Awi berharap masyarakat bisa melapor ke polisi jika menemukan dan mengetahui keberadaan 11 DPO tersebut.

Penyerangan Tidak Menyasar Agama Tertentu

LSM Setara menilai insiden penyerangan keji di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, tidak menyasar warga dari agama tertentu. Meski dalam penyerangan itu terdapat satu rumah ibadah yang dibakar kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT).

Wakil Ketua Badan Pengurus Setara Bonar Tigor Naipospos menyebut serangan itu tidak bisa dikaitkan dengan agama, kendati pergerakan kelompok MIT terinspirasi paham ekstrimis Islam.

"Saya tidak bisa mengatakan bahwa ini adalah kemudian serangan pada kelompok agama tertentu. Saya harus mengatakan begitu. Karena kalau kita lihat dari korban, tahun ini saja, kan korbannya ada dari Muslim, kemudian ada yang beragama Hindu, dan ini sekarang dari gereja Kristiani. Jadi sasarannya juga bukan hanya agama tertentu. Tapi mereka yang tidak segolongan. Jadi meskipun satu agama tapi tidak satu golongan dengan mereka, mereka akan sikat juga. Jadi bagi mereka siapa pun yang menentang mereka, tidak mendukung mereka, mereka akan sikat," kata Bonar dalam konferensi pers 'Menyikapi Insiden Kekerasan Bernuansa Agama di Poso', Rabu (2/12/2020).

Tiga Momentum

Sementara itu, Tamrin Amal Tomagola dari lembaga kajian demokrasi Public Virtue Institute, menilai, ada tiga momentum di balik alasan kelompok MIT melakukan penyerangan.

Pertama untuk menarik perhatian menjelang Natal, mengalihkan perhatian pemerintah dari kasus Rizieq Shihab, dan untuk memberi pesan akan keberadaan mereka.

Tamrin mendesak pemerintah dan aparat keamanan, terlebih dahulu melakukan kajian matang sebelum bertindak meringkus mereka.

Pada 27 November 2020, sekelompok orang membunuh satu keluarga dan membakar tujuh rumah di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Berdasarkan keterangan saksi, pelaku diduga delapan orang dari kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora.

Warga Takut Kembali ke Rumah

Saat ini, puluhan kepala keluarga di Desa Lembantongoa, takut kembali ke rumah, pasca-teror pembantaian dan pembakaran rumah di daerah mereka. Puluhan kepala keluarga itu kini mengungsi di balai desa setempat.

Anggota TNI dan Korem 132 Tadulako, dan anggota biro SDM Polda Sulawesi Tengah berupaya memulihkan trauma yang dialami warga.

Kepala Sub Bidang Penerangan Masyarakat Polda Sulteng Sugeng Lestari menjelaskan pemulihan trauma dilakukan kepada orang dewasa dan anak-anak.

Editor: Sindu Dharmawan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Utang Negara Kian Meningkat

Kabar Baru Jam 7

Peran UMKM Pangan dalam Pemberdayaan Ekonomi Gambut

Kabar Baru Jam 8

Desakan Memberantas Intoleransi di Sekolah