Komnas HAM: Penyelidikan Tewasnya 6 Anggota FPI Semakin Terang

Beka yakin Komnas HAM mampu menyelesaikan penyelidikan ini dalam waktu sekitar sebulan.

BERITA | NASIONAL

Selasa, 15 Des 2020 15:03 WIB

Author

Wahyu Setiawan

Komnas HAM: Penyelidikan Tewasnya 6 Anggota FPI Semakin Terang

Anggota Bareskrim Polri memperagakan rekonstruksi kasus penembakan enam anggota laskar FPI di Karawang, Jabar, Senin (14/12/20). Antara Foto/ M Ibnu Chazar.

KBR, Jakarta - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyatakan penyelidikan atas tewasnya enam anggota Front Pembela Islam (FPI) semakin menemui titik terang.

Komisioner Komnas HAM Beka Ulung Hapsara mengatakan, lembaganya saat ini masih mendalami bukti-bukti dan petunjuk yang ada, salah satunya mobil-mobil yang digunakan saat insiden terjadi.

Beka yakin Komnas HAM mampu menyelesaikan penyelidikan ini dalam waktu sekitar sebulan.

Di sisi lain, Beka menghormati jika pemerintah hendak membentuk tim independen pencari fakta dalam insiden ini. Namun, ia memastikan Komnas HAM tidak akan masuk ke dalam tim tersebut dan akan bekerja secara independen.

Berikut wawancara jurnalis KBR Wahyu Setiawan dengan Komisioner Komnas HAM Beka Ulung Hapsara.

Bagaimana perkembangan penyelidikan hingga saat ini?
"Ya begini. Yang jelas bukti-bukti semakin lengkap begitu. Terus kemudian kronologi peristiwanya juga semakin detail dan artinya ini juga bagaimana kemudian merekonstruksi peristiwa itu menjadi lebih mudah."

Bukti-bukti atau petunjuk yang dikumpulkan Komnas HAM, itu sudah menunjukan sinyal kuat untuk mempermudah Komnas HAM memberi kesimpulan?
"Tentu saja sudah semakin terang lah ya, semakin terang begitu. Tapi memang kita belum berani mengambil kesimpulan. Kenapa? Karena masih harus ada pendalaman-pendalaman. Misalnya kemarin dari Bareskrim soal forensik sama autopsi sama balistik begitu. Ini kan harus kami harus mengonfirmasi ulang lagi seperti apa. Butuh pendalaman-pendalaman itu."

Selain soal forensik, apa lagi yang akan didalami Komnas HAM?
"Kalau saksi kami sudah lebih dari 10 orang sudah diwawancarai. Terus kemudian ini yang akan didalami, kami ingin melihat secara fisik mobil-mobil yang dipakai baik oleh polisi maupun yang dipakai oleh anggota FPI. Ini untuk memberi gambaran lebih utuh seperti apa. Karena ini baru digambarkan a b c-nya. Tapi secara fisik kami ingin melihat."

Termasuk mobil yang dalam reka ulang disebut menjadi tempat penembakan empat anggota FPI ya?
"Betul, iya. Artinya semua mobil yang dipakai oleh anggota polisi dan FPI.

Adakah persamaan atau perbedaan antara temuan Komnas HAM dengan reka ulang kepolisian kemarin?
"Komnas HAM belum bisa mengutarakan lagi. Karena Komnas HAM sudah olah TKP, dua kali bahkan. Tapi kemudian rekonstruksi dari kepolisian kan baru disampaikan ke Komnas kemarin, lengkap begitu, detail per detailnya. Nah ini kami sedang menganalisis berdasarkan olah TKP yang kami lakukan dibandingkan rekonstruksi dari kepolisian."

Bagaimana sejauh ini komunikasi dan koordinasi antara Komnas HAM dengan kepolisian maupun FPI. Apakah ada hambatan di situ?
"Sampai saat ini kami belum mendapat hambatan. Komunikasi dengan FPI terjalin bagus, kawan-kawan FPI memberikan keterangan dan kemudian kalau nanti dibutuhkan lagi keterangan dari FPI, akan kami dalami lagi. Pun demikian dengan kepolisian. Sejauh ini kepolisian sangat terbuka dan bahkan kemarin setelah memberikan keterangan, Kapolda Metro Jaya memberikan komitmennya bahwa kepolisian akan terbuka dengan penyelidikan yang dilakukan oleh Komnas HAM. Artinya terbuka ini memberikan akses baik untuk melihat bukti-bukti yang dimiliki oleh polisi, maupun akses-akses yang lain yang diperlukan oleh Komnas HAM."

Kapan target Komnas HAM bisa memberikan rekomendasi?
"Kami berharap dalam waktu sebulan ini selesai. Harapannya begitu. Tapi kalau semakin cepat semakin baik, terus kemudian kalau meleset-meleset sedikit harap dimaklumi."

Sejumlah elemen masyarakat, mulai dari Muhammadiyah maupun LSM lain mendesak dibuatnya tim independen pencari fakta untuk mengungkap peristiwa ini secara terang-benderang. Komnas HAM apakah mendukung itu?
"Kami menghormati keinginan masyarakat kalau memang mau membentuk TGPF independen. Itu aspirasi publik. Tapi Komnas HAM akan berusaha semaksimal mungkin sesuai dengan mandat kami sebagai lembaga negara independen untuk bekerja secara independen. Dan sampai saat ini kami semua belum ada yang merasa begitu ada tekanan segala macam. Kami bekerja dengan sekuat tenaga dan kemudian aspirasi juga ditampung dan ya nanti pada waktunya publik akan membaca hasilnya seperti apa begitu."

Alasan Penembakan

Empat anggota Front Pembela Islam (FPI) ditembak mati oleh polisi di dalam mobil usai ditangkap di Jalan Tol Jakarta-Cikampek. Itu terungkap dari hasil reka ulang dini hari kemarin.

Polisi berdalih, empat orang itu berusaha menyerang aparat saat berada di dalam mobil. Juru bicara Mabes Polri Ahmad Ramadhan mengatakan, mobil itu diisi tujuh orang, tiga dari polisi dan empat anggota FPI. Saat berada di dalam mobil, keempatnya tidak diborgol.

"Kenapa dilakukan penindakan tegas dan terukur? Karena yang bersangkutan ingin merebut senjata milik daripada petugas. Tentunya ketika direbut, merupakan suatu hal yang berpotensi untuk membahayakan petugas. Sehingga dilakukan tindakan tegas dan terukur, jelas ya," kata Ramadhan di Mabes Polri, Senin (14/12/2020).

Dari hasil reka ulang, diketahui dua anggota FPI lainnya tewas saat terlibat baku tembak dengan aparat.

Ramadhan mengklaim reka ulang tersebut berdasarkan keterangan dan petunjuk yang didapat penyidik.

"Tentunya keterangan dari anggota, dan ada petunjuk dari bukti-bukti yang ada. Semalam sudah disampaikan, ini dari 28 saksi. Di sana ada saksi dari masyarakat, dari pihak polisi juga ada," jelasnya.

Editor: Ardhi Rosyadi

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 7

Vaksin COVID-19: Kenali Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI)

Kabar Baru Jam 8

Cinta Produk Indonesia