Tekan Angka Stunting, Bulog Siap Salurkan Beras Fortifikasi

Kementerian Kesehatan mendukung Bulog salurkan beras fortifikasi

BERITA | NASIONAL

Rabu, 11 Des 2019 21:37 WIB

Author

Febryan Kevin Candra Kurniawan

Tekan Angka Stunting, Bulog Siap Salurkan Beras Fortifikasi

Pekerja menyiapkan beras Bulog untuk operasi pasar dan BPNT di Gudang Bulog Subdivre Tangerang, Banten, Kamis (5/12/2019).ANT/Fauzan

KBR, Jakarta - Perum Bulog mendorong percepatan penyediaan beras bervitamin atau fortifikasi untuk menekan jumlah kasus stunting atau kurang gizi kronis. 

Beras fortifikasi diklaim sebagai beras sehat dengan diperkaya vitamin A, vitamin B1, vitamin B3, vitamin B6, asam folat, vitamin B12, zat besi dan seng (Zn).

Direktur Pengembangan Bisnis Bulog Imam Subowo mengakui saat ini produksi beras fortifikasi masih terbatas. Penyaluran beras itu baru diutamakan untuk daerah dengan angka stunting tinggi.

"Saat ini kita baru punya mesin mixer tiga. Tentu kalau inginnya seluruh Indonesia butuh banyak. Tiga itu pun kita proses rata-rata satu hari bisa 12-18 ton," kata Imam Subowo dalam acara Seminar Integrasi Penyiapan Beras Fortifikasi di Kantor Bulog, Jakarta, Rabu (11/12/2019). 

Imam mengatakan Bulog juga bakal menggencarkan sosialisasi ke masyarakat untuk mengenalkan beras fortifikasi.

"Kita ingin pemahaman masyarakat, pemerintah tentang fortifikasi, tahu dulu. Itu yang paling dasar," lanjutnya. 

Pada kesempatan yang sama, Wakil Direktur Utama Bulog Gatot Trihargo mengatakan siap berkoordinasi dengan kementerian/lembaga hingga pemerintah daerah untuk mempercepat penyediaan beras ini.

"Perum Bulog siap bekerja sama dengan semua pihak yang memiliki tujuan untuk penyediaan tambahan gizi masyarakat, maupun konsumen di tiap lini," kata Gatot.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan mendukung langkah Bulog menyediakan beras fortifikasi. 

Sekretaris Ditjen Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan Eni Agustina mengatakan banyak keuntungan yang diperoleh masyarakat dengan mengkonsumsi beras fortifikasi.

"Kalau per satuan masyarakat beli satu-satu. Beli vitamin B1, B2 dst dibandingkan sudah menjadi satu kesatuan. Jauh lebih murah, lebih efektif dan lebih luas," ujar Eni. 

Menurut Eni fortifikasi pangan bukan hal baru di Indonesia. Pada 1986 silam, pemerintah mewajibkan fortifikasi garam dengan Iodium. Kemudian pada 2003, ada fortifikasi tepung terigu dengan enam jenis vitamin dan mineral. Fortifikasi minyak goreng dengan vitamin A juga sudah dilakukan beberapa tahun lalu. 

Editor: Ninik Yuniati 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Stephanie: Mengubah Stigma Menjadi Empati