Pastur di Banyuwangi Bangun Musala

Wujud toleransi beragama karena banyak umat Muslim yang menanyakan tempat untuk ibadah.

BERITA | NASIONAL

Kamis, 26 Des 2019 08:45 WIB

Author

Hermawan Arifianto

Musala yang dibangun seorang pastur di Banyuwangi (Foto: Hermawan)

Musala yang dibangun seorang pastur di Banyuwangi (Foto: Hermawan)

KBR, Banyuwangi - Seorang pastur di Gereja Maria Ratu Damai Banyuwangi, Jawa Timur, Tiburtius Catur Wibawa membangun sebuah musala untuk tempat ibadah umat Islam di Griya Ekologi Kelir.

Menurut Tiburtius Catur Wibawa, ia membangun musala karena banyak orang yang berkunjung ke Griya Ekologi Kelir dan menanyakan tempat untuk salat. Meski Gria Ekologi Kelir adalah tempat berkegiatan bagi umat Katolik di Banyuwangi, namun banyak juga umat Islam yang memakai tempat itu untuk berbagai kegiatan. 

Karenanya ia berinisitif membangun musala sejak beberapa bulan lalu sebagai wujud toleransi beragama. 

"Banyak tamu Muslim, mereka yang tekun beribadah tanya kalau salat di mana? Kadang mereka salat di kamar. Kalau berjamaah jumlahnya 10 biasanya di ruang kosong, di aula. Kami merasa bahwa mereka butuh yang lebih nyaman. Kemudian juga saya memandang bahwa kita semua sama berkaitan di hadapan Tuhan," kata Tiburtius Catur Wibawa di di Griya Ekologi Kelir Banyuwangi.

Tiburtius Catur Wibawa menambahkan, selain membangun mushollah, dia juga berencana akan membangun tempat ibdah agama lain di lokasi ini, seperti pura untuk umat Hindu, wihara untuk umat Budha dan tempat ibadah untuk agama lainnya yang ada di Indonesia. 

Griya Ekologi Kelir adalah tempat pelatihan ekologi  yang berdiri di atas lahan seluas 2 hektar. Tempat ini milik  SMA Katolik Hikma Mandala, di bawah naungan Yayasan Karamel Keuskupan Malang. Griya Ekologi Kelir memiliki lingkungan alam yang asri. Bangunan yang didirikan berornamen rumah adat oseng Banyuwangi.  

Editor: Citra Dyah Prastuti

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Pemkot Cirebon Siapkan Database Warga Penerima Kompensasi Terdampak Covid-19

Anjuran Penggunaan Masker bagi Semua

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Cegah Penyebaran Covid-19, WHO Dukung Kebijakan Penggunaan Masker untuk Semua Orang