Share This

Punya Pasukan Banyak, Kapolri Optimistis Tangkap Pelaku Penembakan di Nduga

"Sangat yakin kita, sebentar lagi bisa kita kendalikan"

BERITA , NASIONAL

Rabu, 05 Des 2018 14:21 WIB

Author

Dian Kurniati

Punya Pasukan Banyak, Kapolri Optimistis Tangkap Pelaku Penembakan di Nduga

Kapolri Tito Karnavian. (Foto: ANTARA)

KBR, Jakarta- Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Tito Karnavian optimistis tim abungan Polri dan TNI bisa segera menangkap pelaku penembakan puluhan pekerja proyek pembangunan jalan Transpapua di Kali Yigi-Kali Aurak, Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua.

Kapolri yakin, pasukan gabungan TNI-Polri jauh lebih besar dibanding kelompok penembak, yang diperkirakan hanya 30 sampai 50 orang.

Apalagi, kata Tito, Panglima TNI Hadi Tjahjanto dan Wakapolri Ari Dono Sukmanto juga telah berangkat ke Papua, untuk memimpin penangkapan pelaku penembakan.

"Kekuatan mereka tidak banyak. Lebih kurang 30 sampai 50 orang dengan 20-an pucuk senjata. Jadi, kekuatan yang kita kirim jauh lebih besar. Sangat yakin kita, sebentar lagi bisa kita kendalikan. Persoalannya adalah medan yang berat, hutan, dan lain-lain, dan luas sehingga mereka mungkin akan lari ke satu tempat ke tempat lain," kata Tito ditemui di Istana Merdeka, Rabu (05/12/2018).

Tito mengatakan, personil TNI-Polri di Papua sudah mencukupi untuk menangkap pelaku penembakan. Apalagi, kemarin juga ada tambahan 150 personil TNI-Polri ke Papua.

Selain itu, Kapolda dan Pangdam Cenderawasih Papua juga sangat kompak menangkap kelompok bersenjata tersebut.

Hanya saja, kata Kapolri, tantangan terbesar menangkap kelompok bersenjata adalah medan berupa hutan belantara yang sangat menyulitkan.

Informasi resmi dari pemerintah, sebanyak 20 korban tewas dalam penembakan di Nduga, yang terdiri dari 19 pekerja dan seorang anggota TNI. Data itu meralat berbagai informasi sebelumnya yang menyebut korban penembakan sebanyak 31 orang.

Seorang anggota TNI tewas saat kelompok penembak menyerang pos penjaga, selang sehari setelah menembaki pada pekerja.

Pasukan Elite

Ketua DPR, Bambang Soesatyo meminta TNI dan Polri segera menerjunkan pasukan elite untuk menangkap kelompok penembak yang menembaki 31 pekerja di Kabupaten Nduga, Papua.

Bambang menilai, TNI dan Polri harus bergerak cepat menangkap pelaku, agar peristiwa serupa tak terulang. Serangan pada pekerja proyek tanpa senjata itu, lebih mengerikan dibanding terorisme.

Baca: Penembakan Pekerja Trans Papua, Menhan: Pemberontakan  

"Kita memang harus memperhatikan HAM. Tapi untuk urusan keamanan negara dan keselamatan masyarakat, penegak hukum dan pasukan kita harus bertindak tegas dan keras. Urusan HAM kita bicarakan setelah masalah itu selesai," kata Bambang ditemui di kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (05/12/2018). 

Apakah itu artinya DPR setuju pemerintah represif?

"Apa pun yang bisa dilakukan untuk menuntaskan itu, DPR pasti setuju. Ini melebihi gerakan teroris yang langsung merenggut nyawa dengan tindakan yang sangat kejam, dan menyerang petugas," jawab Bambang.

Bamsoet, begitu ia kerap disapa, mengatakan penyerangan pada pekerja itu tak boleh dianggap remeh. Komisi Pertahanan DPR juga akan segera memanggil Panglima TNI Hadi Tjahjanto, sementara Komisi Hukum akan memanggil Kapolri Tito Karnavian, untuk membicarakan penanganan peristiwa tersebut.

DPR, kata Bamsoet, juga akan mendorong pemerintah bergerak maksimal untuk menangkap kelompok penembak di Nduga.

Bambang meminta, setelah kejadian penembakan tersebut, TNI dan Polri harus lebih serius menjaga keselamatan warga Papua. Ia juga mendukung sikap pemerintah yang tetap mengerjakan proyek Transpapua, dengan penjagaan lebih ketat dari polisi dan TNI.

Baca juga:

Editor: Kurniati

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.