Share This

Polisi Kejar Pelaku Penembakan Puluhan Pekerja Trans Papua

"Kenapa pihak keamanan dalam hal ini Kepolisian tidak memberikan perlindungan yang maksimal?"

BERITA , NASIONAL , NASIONAL

Selasa, 04 Des 2018 20:14 WIB

Author

Heru Haetami, Resky Novianto

Polisi Kejar Pelaku Penembakan Puluhan Pekerja Trans Papua

Anggota TNI dibantu warga mempersiapkan peti jenazah untuk korban penembakan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Wamena, Papua, Selasa (4/12/2018). (Foto: Antara)

KBR, Jakarta- Kepolisian bersama TNI telah  mengidentifikasi dan mengejar kelompok bersenjata yang diduga sebagai pelaku penembakan puluhan pekerja dari PT Istaka Karya (BUMN) yang melakukan pembangunan jembatan penguhubung Jalan Trans Papua, di Kali Yigi dan Kali Aurak, Kabupaten Nduga, Papua, Senin (3/12/2018).

Juru bicara Polri, M Iqbal   menyesalkan aksi dari Kelompok Bersenjata Papua ini.

"Kita sangat menyesalkan aksi dari KKB   ini. Bayangkan ini adalah pekerja yang ingin membangun Papua. Membangun jalan, membangun proyek, menyejahterakan Papua. Kita tidak tahu motifnya apa dilakukan penembakan yang berakibat ada beberapa yang tewas. Jelas Polri di-back-up TNI akan melakukan upaya-upaya penegakan hukum, kita akan kejar. Ada beberapa yang sudah teridentifikasi di kelompok-kelompok mana," ucap Iqbal disela acara Hakordia 2018 di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Selasa (4/11/2018).

Iqbal mengatakan, Polisi bersama TNI sedang melakukan pengecekan ke lokasi kejadian.

"Tugas prioritas adalah menyelamatkan korban yang masih hidup," katanya.

Saat ini, situasi di Papua Barat relatif kondusif, termasuk di Kabupaten Nduga Distrik Yili.

Sementara itu, Anggota Komisi III DPR RI, Nasril Djamil, menyayangkan adanya sebanyak 31 pekerja Trans Papua tewas diserang oleh Kelompok Bersenjata Papua. Menurutnya, pekerja tersebut seharusnya mendapat perlindungan. Ia juga mempertanyakan perlindungan pekerja Transpapua selama mereka bekerja.

"Kenapa kemudian pihak keamanan dalam hal ini Kepolisian tidak memberikan perlindungan yang maksimal? Karena itu kan perlu diusut dari sisi perlindungan dan juga bagaimana kemudian aparat Kepolisian bekerja untuk melindungi warga di sana khususnya para pekerja," kata Nasril Djamil, di gedung DPR, Jakarta, Selasa (04/12/2018)

Menurut Nasril, daerah yang masih terdapat kelompok bersenjata yang rawan konflik seharusnya mendapat perlindungan maksimal.

"Kami juga tidak begitu memahami dalam pengertian kenapa daerah-daerah yang masih ada kelompok bersenjata itu. Kenapa pekerja itu tidak mendapatkan perlindungan yang maksimal," ujarnya.

Nasir juga menyayangkan pernyataan petugas keamanan, yang menyebutkan jalur menuju lokasi terisolir dan menyebabkan aparat tidak bisa memasuki tempat kejadian.

Seharusnya, lanjut politisi Partai Keadilan Sosial ini, medan seperti itu diketahui sejak awal dan bukan menjadi alasan, termasuk sarana dan prasarana untuk masuk area, karena sudah ada anggaran yang besar untuk itu.

"Nah, sejak awal sebenarnya sudah diketahui bagaimana medan, dan situasi daerah di sana. Sebenernya tidak ada alasan kemudian situasinya terisolasi, daerahnya terisolasi, atau tempatnya sulit dijangkau dan sebagainya," tutur Nasril.

Editor: Kurniati 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.