Share This

Aksi Peringatan 1 Desember Papua Sempat Diwarnai Kericuhan

Aksi ratusan mahasiswa Papua memperingati Hari Ulang Tahun Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang digelar di Surbaya sempat ricuh.

BERITA , NASIONAL

Sabtu, 01 Des 2018 15:43 WIB

Aksi Peringatan 1 Desember Papua Sempat Diwarnai Kericuhan

Aksi Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) di Surabaya memperingati 1 Desember membawa spanduk berisi tuntutan untuk menentukan nasib sendiri, Sabtu (1/12/2018). (Foto: KBR/ Budi Prasetiyo)

KBR, Surabaya - Aksi ratusan mahasiswa Papua memperingati Hari Ulang Tahun Organisasi Papua Merdeka (OPM)  1 Desember yang digelar di Surbaya, sempat ricuh. Beberapa orang dari massa penentang aksi mengadang peserta unjuk rasa dari Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) di kawasan Jalan Pemuda Surabaya, Sabtu (1/12/2018) pagi.

Massa tandingan yang membawa atribut sejumlah ormas seperti Pemuda Pancasila  dan Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan TNI/Polri (FKPPI) itu menginginkan aksi dibubarkan. Namun berdasarkan pantauan jurnalis KBR di lokasi, polisi lantas menghalau kerumunan dan memisahkan kedua kelompok.

Massa aksi pun digiring ke kawasan Jalan Kalasan untuk menghindari bentrok.

Pengacara HAM Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Veronica Koman mengapresiasi kerja aparat keamanan. Ia bersyukur aksi dan penyampaian tuntutan pada peringatan HUT OPM 1 Desember ini berjalan lancar.

"Ya ini kan sedang bubaran menuju Kalasan sampai asrama tidak bentrok. Saya kira hari ini kepolsian cukup diapresiasi bisa mengamankan massa Papua begitu semangat," kata Veronica di Surabaya, Sabtu (1/12/2018).

Ia pun mengatakan, sejak awal mengetahui bahwa akan ada aksi tandingan. Vero mengungkapkan, kelompoknya menghargai perbedaan pendapat tersebut.

"Memang sejak awal sikap kami awalnya memang berseberangan dan kami menghargai pendapat berbeda dan dua duanya bagus bisa mengeluarkan ekspresinya."

Baca juga: KNPB Ungkap Peringatan HUT OPM di Jakarta 2017 Diwarnai Penangkapan

Dalam aksi kali ini Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) menyuarakan delapan tuntutan. Salah satunya mendesak pemerintah memberikan kebebasan kepada warga Papua untuk menentukan nasibnya sendiri.

"Pencurian perampokan dimana mana kawan kawan. Hingga saat ini orang Papua hanya minoritas di tanahnya sendiri kawan kawan," kata salah satu orator yang berdiri di atas mobil komando pada aksi Sabtu (1/12/2018).

Tuntutan lain di antaranya mengakui bangsa Papua Barat  telah merdeka sejak 1 Desember 1961 dan mengembalikan manifesto politik bangsa Papua Barat. Massa juga meminta pasukan militer organik dan non-organik ditarik seluruhnya dari Bumi Cenderawasih.

Desakan juga menyinggung soal tuntutan untuk menutup sejumlah perusahaan seperti Freeport dan LNG, PBB juga diminta terlibat aktif dalam proses penentuan nasib warga Papua dan pelanggaran HAM di provinsi ini.

Isu mengenai akses bagi jurnalis internasional serta kebebasan berekspresi di Papua juga termasuk salah satu yang disuarakan.

Dalam aksi, salah satu orator menyerukan agar perjuangan warga Papua menuntut hak tidak boleh melemah. Tetapi ia menekankan, agar seluruh aksi dan bentuk menyuarakan pendapat dilakukan dengan damai.

"Perjuangan rakyat Papua adalah perjuangan bermartabat kawan kawan. Jangan terprovokasi dan jangan melakukan tindakan anarkis kawan kawan," sambung sang orator aksi mengingatkan.

Dari pantauan, sembari melakukan orasi, ratusan mahasiswa Papua tampak berlompatan dan mengitari mobil komando sambil mengepalkan tangan meneriakkan jargon menuntut kemerdekaan. Beberapa di antara mereka mengenakan atribut bintang kejora berupa ikat kepala. Sejumlah poster yang dibentangkan berisi protes atas kekerasan yang berulang kali terjadi di Papua.

Setelah beberapa jam melaukan aksi, para mahasiswa itu akhirnya disuruh membubarkan diri. Mereka digiring menuju asrama mahasiswa Papua di jalan Kalasan Surabaya. Aksi itu sempat memanas, setelah beberapa ormas mencoba merangsek untuk melakukan pembubaran.

Baca juga:




Editor: Nurika Manan
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.