PMI: Khawatirkan Aset, 4 Ribu Korban Gempa Pilih Tinggalkan Pengungsian Induk

Lebih dari empat ribu pengungsi korban gempa di Kabupaten Pidie Jaya memilih meninggalkan tempat pengungsian utama dan kembali ke rumah.

BERITA | NASIONAL

Senin, 12 Des 2016 12:27 WIB

Author

Agus Lukman

PMI: Khawatirkan Aset, 4 Ribu Korban Gempa Pilih Tinggalkan Pengungsian Induk

Warga berada di tempat pengungsian Masjid At-Taqwa, Pidie Jaya, Aceh, Minggu (11/12). Foto: ANTARA


KBR, Jakarta - Lebih dari empat ribu pengungsi korban gempa di Kabupaten Pidie Jaya memilih meninggalkan tempat pengungsian utama dan kembali ke rumah. Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Aceh, Rudianto mengatakan, ribuan warga itu tidak mau disatukan di posko pengungsian induk yang ditunjuk pemerintah dan memilih mengungsi bersama keluarga di dekat rumah mereka yang rusak. Sebabnya, warga menghawatirkan aset-aset yang ditinggal.

"Satu sisi mereka mungkin tidak nyaman dengan keramaian pengungsi yang terpusat. Lalu khawatir aset-aset mereka terganggu. Juga merasa mereka harus cepat berbenah. Yang dikhawatirkan dengan kondisi seperti ini, mereka akan kurang terkoordinir. Kurang terfokuskan pelayanannya," kata Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Aceh, Rudianto pada KBR, Senin (12/12/2016).

Baca juga: Gempa Pidie Jaya, Perbaikan Sekolah Baru Dilakukan Awal Tahun Depan

Rudianto menambahkan, dari data Pusat Posko Pengendalian Bencana Gempa, jumlah pengungsi di tempat pengungsian induk berkurang dari semula 43 ribu jiwa menjadi 38 ribu jiwa. Para korban gempa yang meninggalkan pengungsian terutama di Kecamatan Pringgading Utama, Kabupaten Pidie Jaya.

"Ada warga yang datang ke PMI. Mereka melaporkan dirinya tidak mau berada bersama rekan lain di pengungsian induk. Mereka khawatir lokasi yang mereka tempati itu akan terganggu keamanannya. Sehingga mereka memutuskan berdiam di tempat asal, misalnya rumah mereka roboh ya mereka berdiam di depan rumahnya yang roboh itu," kata Rudianto.

Baca juga: BNPB Pastikan Dana Bantuan Gempa Pidie Jaya Transparan

Untuk mengatasi hal itu, PMI mengerahkan pelayanan bergerak dalam penyaluran bantuan ke tempat-tempat pengungsian swadaya itu. Namun Rudianto khawatir jika nanti pelayanan pengungsi tidak maksimal karena pengungsi tidak berada di satu tempat.

"Tapi kalau pemerintah tidak lakukan hal yang sama, akan menyulitkan pemerataan pelayanan terhadap pengungsi yang tidak mau dipindahkan ke posko besar. Secara teknis akan merepotkan. Apa boleh buat, karena mereka tidak nyaman, ya kita tetap berupaya. Kita koordinasikan denga pemerintah bahwa ada titik pengungsian yang tidak mau terpusatkan," lanjut Rudianto.

Rudianto memperkirakan PMI akan melakukan operasi penanganan bencana selama empat hinga enam bulan di Kabupaten Pidie Jaya, sampai para korban gempa bisa kembali ke kehidupan normal dan pulih kembali seperti sedia kala. Saat ini PMI masih berkonsentrasi melakukan pemerataan penyaluran air bersih ke daerah-daerah yang terdampak gempa dan minim sanitasi.

Baca juga: 93 Korban Jiwa Gempa Pidie Sudah Teridentifikasi





Editor: Quinawaty
 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Pesantren Khusus Disabilitas di Banyuwangi

Kabar Baru Jam 14

Kabar Baru Jam 13

Kabar Baru Jam 12

Kabar Baru Jam 11