Metode Disepakati, KLHS Kendeng Mulai Digarap

Presiden meminta adanya kajian strategis di sana, November lalu.

BERITA | NASIONAL

Selasa, 13 Des 2016 19:41 WIB

Author

Rio Tuasikal

Metode Disepakati, KLHS Kendeng Mulai Digarap

Warga Kendeng melakukan aksi jalan kaki menuju kantor gubernur Jawa Tengah. Mereka menuntut Gubernur Ganjar mencabut izin PT Semen Indonesia, sesuai vonis MA, (5/12). (Foto: Musyafa/KBR)


KBR, Jakarta- Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah memulai penyusunan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) pegunungan Kendeng. Ketua Tim Panel Pakar KLHS Kendeng, Sudharto P Hadi, menjelaskan tim penyusun dan tim penilai telah menyepakati metode yang akan digunakan. Kajian itu akan dimulai dengan analsiis rencana tata ruang dan rencana pembangunan.

ā€œDiharapkan tahun ini sampai pada memulai analisis data sekunder yang ada," terangnya kepada KBR, Selasa (13/12/2016) siang.

"Selama ini kan di dua provinsi itu, yang tercover di Kendeng Utara itu sudah punya rencana tata ruang, punya Rencana Pembangunan Jangka Menengah dan Panjang (RPJMP), itu yang akan kita kaji," tambahnya.

Sudharto menjelaskan, pihaknya akan menggunakan teknik overlay, juga dukungan data-data geologi. Analisis data akan dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Kata dia, pihaknya juga berencana bertemu dengan stakeholders termasuk masyarakat. Pihaknya akan menggelar diskusi teraraf (FGD) dan wawancara. "Kami akan menghimpun pandangan mereka tentang lokasi itu (Kendeng)," ujarnya.

Kata dia, penyusunan KLHS tidak memiliki aturan baku mengenai metode yang digunakan. Setiap penyusunan KLHS, ujarnya, melihat kondisi dan jenis data yang akan digunakan.

Penyusunan KLHS Kendeng diperintahkan oleh Presiden Joko Widodo, November lalu, usai bertemu perwakilan warga Kendeng. KLHS ditargetkan rampung April tahun depan, lebih cepat dari perkiraan awal yang mencapai satu tahun.

Editor: Dimas Rizky 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Bekas Napi Koruptor Harus Jeda Lima Tahun Sebelum Maju di Pilkada