Bagikan:

Ancaman Terorisme dan Radikalisme Masih Tinggi Tahun Depan

Dua hal itu masih akan menjadi skala prioritas penanganan polri.

BERITA | NASIONAL

Selasa, 29 Des 2015 20:25 WIB

Author

Eli Kamilah

Ancaman Terorisme dan Radikalisme Masih Tinggi Tahun Depan

Kapolri Badrodin Haiti. Foto: KBR

KBR, Jakarta- Ancaman terorisme dan radikalisme masih akan tinggi pada tahun depan. Kepala Polri Badrodin Haiti menjelaskan dua hal itu masih akan menjadi skala prioritas penanganan polri. 

Selain terorisme dan radikalisme, masyarakat juga diminta waspada terhadap cyber crime dan premanisme di jalanan. Saat ini, Polri sudah menyusun strategi untuk mengantisipasi tren tersebut. Diantaranya, pengungkapan kejahatan lewat teknologi kepolisian yang disebut Scientific Investigation. 

"Gangguan Kamtibnas, terutama yang menonjol dan kita tempatkan terorisme dan radikalisme pada tingkat pertama, narkoba,dan  perdagangan manusia. Termasuk cyber crime, premainisme dan kejahatan jalanan itu juga," ujarnya, Selasa (29/12/2015).

Badrodin Haiti menambahkan, Sepanjang tahun ini, kata dia, sebanyak 74 terduga teroris berhasil ditangkap Densus 88 Mabes Polri.  Dari jumlah itu sebanyak 65 orang diantaranya sudah ditetapkan sebagai tersangka dan menjalani proses penyidikan. Sedangkan 9 lainnya dipulangkan ke keluarga karena tidak cukup bukti.

Berdasarkan catatan polri, sejak tahun 2000-2015, Polri telah melakukan ?pengungkapan terhadap 171 aksi terorisme, diantaranya bom Bali I tahun 2002, bom Hotel Marriot tahun 2003, bom kedubes Australia (2004), bom Bali II pada 2005, dan bom Ritz Carlton dan JW Marriot pada 2009.  

Editor: Malika

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Jalan Buntu Penolakan Pemekaran Wilayah Papua