Pelemahan Rupiah, Dilema Bagi Pengusaha Ritel Indonesia

Pelemahan nilai Rupiah yang hampir mendekati Rp 13 ribu, berimbas pada usaha ritel (eceran) di dalam negeri. Saat ini mereka tak bisa serta merta menaikkan harga jual produk karena daya beli masyarakat juga melemah setelah penaikkan harga BBM bersubsidi p

NASIONAL

Kamis, 18 Des 2014 10:23 WIB

Author

Irvan Imamsyah

Pelemahan Rupiah, Dilema Bagi Pengusaha Ritel Indonesia

rupiah, dolar

KBR, Jakarta - Pelemahan nilai Rupiah yang hampir mendekati Rp 13 ribu, berimbas pada usaha ritel (eceran) di dalam negeri. Saat ini mereka tak bisa serta merta menaikkan harga jual produk karena daya beli masyarakat juga melemah setelah penaikkan harga BBM bersubsidi pada 17 November lalu. 


Wakil Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Ritel Indonesia (APRINDO) Tutum Rahanta mengatakan pelemahan Rupiah saat ini berimbas pada kenaikan harga barang produk impor, seperti produk elektronik dan juga buah impor. Produk dalam negeri yang juga akan naik harganya yakni; pakaian, tahu dan tempe, dan produk lainnya. Menurutnya penaikkan harga jual 5 hingga 8 persen tak bisa dihindari.


"Ada tidak pengeluarannya akan sama berat. Sehingga masyarakat akan memprioritaskan untuk cicilan-cicilannya. Nahm di situ terpengaruh dengan sisa uang yang dibelanjakan di sektor ritel. Prioritas pada makanan, produk secondary drop akhirnya. Karena kelebihan uang yang biasa digunakan untuk ganti baju atau makan di luar secara keluarga. Yang paling mungkin kita gencarkan promo, tapi tetap keranjang kering," jelas Tutum Rahanta saat dihubungi KBR Kamis, (18/12).


Dia menambahkan, pemerintah harus menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk mengendalikan nilai tukar Rupiah. Jika tidak, tak hanya pengusaha yang terpuruk, tapi juga warga yang terus susut daya belinya. 


Sebelumnya, nilai Rupiah terhadap mata uang dollar Amerika Serikat hampir mendekati Rp 13 ribu rupiah. Sementara Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) memprediksi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat akan stabil pada level Rp 12.500. 


Kemarin Rupiah ditutup menguat 57 poin. Data Bloomberg menunjukkan, Rupiah pada perdagangan kemarin ditutup di level 12.667 per USD, atau naik 0,45 persen. Kenaikan ini merupakan penguatan terbesar kedua diantara 13 mata uang utama di kawasasan Asia Pasifik. Rupiah hanya kalah dari Dolar New Zealend yang menguat 0,51 persen.


Editor: Antonius Eko 


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Pemerintah Sebut Sertifikasi Layak Nikah Tak Wajib

Super You by Sequis Online, Asuransi Online untuk Milenial