covid-19

'Negeri Kompak' Ajaran Gus Dur

Permainan untuk mengenang ajaran Gus Dur soal toleransi.

NASIONAL

Minggu, 28 Des 2014 02:16 WIB

'Negeri Kompak' Ajaran Gus Dur

gusdur, negeri kompak

KBR, Jakarta - Sebuah permainan dirancang untuk mengajarkan generasi muda mengenal ajaran mendiang Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Permainan ini dirancang untuk murid SMA agar lebih toleran kepada sesama.

Nama permainan itu 'Negeri Kompak'. Negeri Kompak mirip seperti monopoli atau pun ular tangga. Namun perbedaan mencolok, 'Negeri Kompak' menuntut si pemain harus sedikit berpikir. 'Negeri Kompak' ini dibuat dan perbanyak oleh The Wahid Institute (WI).

Program Officer The Wahid Institute Alamsyah M Dja'far mengatakan awal dibuatnya 'Negeri Kompak' ini lantaran ada data yang menyebutkan sikap intoleransi subur di komunitas sekolah negeri.

Jaringan WI menyebutkan lebih dari 40 persen siswa di sekolah SMA negeri mendukung ide dan gerakan kelompok intoleran. Semisal melakukan tindakan diskriminasi penyegelan rumah ibadah. Parahnya, gagasan dan ide itu didukung oleh guru-guru di sekolah negeri.

"Nah, kita cari bagaimana caranya untuk merespon masalah itu. Lalu, idenya adalah membuat papan permainan. Di mana papan permainan itu targetntya membuat pelajar atau kalangan muda itu menginternalisir nilai-nilai toleransi dan perdamaian. Tidak melakukan distriminasi kepada kelompok yang berbeda. Makanya kita buat 'Negeri Kompak'. Ide dasarnya, meski berbeda-beda, suatu bangsa itu kompak," kata Alam kepada KBR saat ditemui di Universitas Indonesia pertengahan Desember 2014 lalu.

'Negeri Kompak' itu berbentuk papan permainan. Permainan ini terdiri dari 5 track, dengan masing-masing track berisi jalur yang dimulai dari 'start' sampai 'finish'. Pemain harus melawati jalan dengan bantuan dadu. Seberapa jumlah langkah sebuah keping ditentukan oleh hasil jumlah titik dadu yang muncul saat dijatuhkan.

Setiap langkah pemain akan menemukan kolom yang berisi pernyataan. Pernyataan itu harus diucapkan dengan keras oleh pemain. Ini lah letak perbedaannya!

Pernyataan yang harus dibacakan dalam kolom papan permainan berisi 'petuah'. Pernyataan itu akan mengingatkan si pemain soal apa yang harus dilakukan untuk menjadi sosok yang toleran. Semial pernyataan "besar hati terima kalah", "Sama atau beda tetap gandengan", atau juga "ngumpul bareng untuk berkarya".

Permainan ini tentu mencari pemenang. Pemenang permainan yang bisa diikuti maksimal 6 orang itu adalah dia yang berhasil mengumpulkan kartu 'Kartu Kemenangan' paling banyak. Kartu ini jumlahnya terbatas, hanya 3 buah dalam setiap track.

'Kartu Kemenangan' itu bisa didapat dengan menukarkan kartu 'Hati Kompak'. Kartu 'Hati Kompak' ini bisa didapat dengan mengikuti instruksi seiap perjalanan permainan. Kartu 'Hati Kompak' itu berisi pertanyaan yang juga harus dijawab untuk melakukan langkah selanjutnya.

"Dari pernyataan itu kita ingin mendorong para pemain untuk berpikir dan berinteranksi. Menguji pikirannya mereka selama ini tentang perbedaan," jelasnya.

Ide pembuatan

Papan permainan dirancang oleh tim creatif 'Semakin Berdetak'. Namun untuk dirancang, WI harus mengadakan diskusi dengan banyak kalangan. Inti diskusi itu untuk meramu bentuk permainan yang asik dan mendidik.

"Sebelum dicetak ada FGD dengan para ahli. Ada aktivis, pengajar, aktivis HAM, dan wartawan juga kita undang. untuk merumuskan bagaimana membuat papan permainan yang cocok untuk pelajar untuk mendukung kampanye toleransi dan perdamaian. Maka disepakati papan permainan dibuat dengan prinsip pancasila," jelas Alam.

Merancang papan permainan ini sejak Juli 2014 kemarin. Sampai akhir tahun ini papan permaian itu sudah dimainkan oleh 500 pelajar SMA se-Jabodetabek. WI mencetak papan permainan itu sebanyak 800 cetakan.

Komunitas atau sekolah bisa mendapatkan papan permainan itu dengan gratis. "Tinggal datang saja ke kantor WI di Matraman. Tapi persediaannya terbatas," tutup Alam.

Serial tulisan terkait Gus Dur ini kami turunkan dalam rangka peringatan lima tahun meninggalnya tokoh toleransi Indonesia. Selain tulisan, kami juga menyajikan kutipan-kutipan menarik dari Gus Dur.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Mampukah Polisi Respons Cepat Kasus yang Libatkan Anggotanya?