Bagikan:

PT Perhutani Dituduh Aniaya dan Rebut Lahan Petani Indramayu

PT. Perhutani, polisi kehutanan, dan tentara dituding memaksa petani Indramayu Jawa Barat, Ranto untuk menyerahkan lahan garapannya .

NASIONAL

Minggu, 29 Des 2013 21:05 WIB

PT Perhutani Dituduh Aniaya dan Rebut Lahan Petani Indramayu

perhutani, petani, indramayu, kekerasan

KBR68H, Jakarta - PT. Perhutani, polisi kehutanan, dan tentara dituding memaksa petani Indramayu Jawa Barat, Ranto untuk menyerahkan lahan garapannya . Ranto merupakan petani anggota Serikat Tani Indramayu. Pimpinan Serikat Tani Indramayu Syafruddin mengatakan, sebanyak 10 preman memukuli Ranto dan membawanya ke kantor PT Perhutani. Mereka kemudian memaksa Ranto untuk menandatangani surat penyerahan lahan garapannya yang seluas 1 hektar.

"Karena dengan terpaksa, ada ancaman untuk menandatangani, akhirnya ditandatangani, Ranto dikasih waktu tiga hari untuk melepaskan lahan garapannya, diambil paksa, tapi nanti diberikan lagi ke orang lain. Hal yang terpenting yang kita lakukan adalan mempertahankan lahan garapan karena sudah lama sekali digarap petani dan ini menjadi satu-satunya lahan garapan petani," ujar Pimpinan Serikat Tani Indramayu Syafruddin ketika dihubungi KBR68H, Minggu (29/12).

Syafruddin menambahkan, para petani akan menggugat tentara yang menyokong intimidasi tersebut. Sebelumnya, pemaksaan serupa berlangsung bulan lalu terhadap anggota STI. Preman dikerahkan untuk memaksa petani menandatangani surat penyerahan tanah garapan. Padahal, mereka sudah mengerjakan tanah yang terbengkalai itu selama puluhan tahun. Hingga berita ini disiarkan pihak PT Perhutani belum memberikan tanggapan atas tudingan tersebut.


Editor: Taufik Wijaya

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Jalan Buntu Penolakan Pemekaran Wilayah Papua