Bagikan:

Waspada XBB, Kenaikan Kasus Diiringi Tingkat Kematian

Epidemiolog memperingatkan pemerintah terkait lonjakan kasus COVID-19 di Indonesia. Karena, kenaikan kasusnya kini bahkan diiringi dengan tingkat kematian yang juga cukup tinggi.

NASIONAL

Jumat, 11 Nov 2022 15:17 WIB

kematian

Ilustrasi. Petugas medis lakukan simulasi penanganan COVID-19 di Ruang Isolasi RSUD Prof Dr Margono, Purwokerto, Jateng (3/2/2020). (Foto: ANTARA/Sumarwoto)

KBR, Jakarta - Kalangan Epidemiolog memperingatkan pemerintah terkait lonjakan kasus COVID-19 di Indonesia. Karena, kenaikan kasusnya kini bahkan diiringi dengan tingkat kematian yang juga cukup tinggi.

Berikut wawancara Jurnalis KBR, Resky Novianto bersama Ahli Epidemiologi dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman pada Jumat (11/11/2022). Selengkapnya:

Ditengah eskalasi kasus COVID-19 dan juga angka kematian yang cukup tinggi, langkah apa yang seharusnya diambil pemerintah?

Beberapa kasus menunjukkan bahwa potensi dia menyebabkan terjadinya infeksi sekunder, artinya menurunnya daya tahan tubuh. Sehingga akhirnya si penderita lebih mudah terinfeksi oleh infeksi sekunder bakteri, bahkan mungkin jamur atau virus lain.

Itu menjadi membuat situasi kenaikan atau tren gelombang pada saat ini tidak bisa diremehkan. Khususnya pada kelompok yang rawan seperti Lansia dan anak-anak di bawah 6 tahun dan juga Balita, ibu hamil dan orang dengan komorbid.

Peningkatan kasus yang terjadi di Indonesia saat ini di tengah keterbatasan testing yang rendah, harus memberi sinyal serius. Karena ini berarti adalah pola ataupun suatu kasus yang mencerminkan fenomena gunung es, karena berarti missing case-nya atau kasus yang luput dari deteksi itu masih banyak.

Kita ada masalah serius di sistem kesehatan yang belum terselesaikan. Selama pandemi ini, dari mulai deteksi dini sampai masalah rujukan atau upaya pemenuhan pasien. Ini artinya suatu kasus kematian ini sebetulnya bisa merepresentasikan lebih banyak kasus infeksi yang tidak terdeteksi.

Ini yang artinya kalau tidak diperkuat deteksi 3T (testing, tracing dan treatment)-nya juga pencegahan lain termasuk 5M ditambah lagi bahwa hampir 74% dari kasus yang terinfeksi ini kan belum di booster.

Rendahnya angka vaksinasi COVID-19 di Indonesia, menurut Anda apa yang harus diperbaiki dari hal tersebut?

Kenapa sampai saat ini masih banyak yang tidak mau divaksin atau mendapatkan vaksinasi? Bahkan kalau melihat vaksinasi dua dosis saja, itu masih di 80% kurang lebih.

Sedangkan kalau kita bicara vaksinasi booster atau dosis ketiga, itu tidak beranjak signifikan masih di angka 27%. Ini salah satunya kalau bicara literatur atau riset itu akibat strategi komunikasi risiko pemerintah yang lemah atau bahkan mungkin buruk dua.

Lemah atau buruk ini bisa terlihat dari antara lain bahwa selama pengendalian pandemi ini seringkali nuansa yang disampaikan berita komunikasi penyampaian dari pemerintah itu lebih bersifat positif saja. Memang bagus tetapi seringkali tidak realistis atau berbasis juga membangun persepsi risiko. Artinya kewaspadaannya kurang sehingga masyarakat cenderung yang sudah tadi malas atau tidak mau itu menjadi euforia atau merasa aman.

Baca juga:

- XBB Mengancam, Lakukan Pengetatan dengan Masker dan Booster

- COVID-19 Varian XBB, Wapres Minta Masyarakat Waspada

Untuk mengantisipasi lonjakan kasus COVID-19 di Indonesia, langkah apa yang harus ditempuh pemerintah?

Saat ini, melihat respon konser segala macam sebetulnya tidak menjadi masalah. Selama konser ataupun event besar itu memenuhi atau menerapkan protokol kesehatan. Dalam artian prinsipnya adalah yang datang ke situ atau ke event itu sudah berstatus booster. Terproteksi masih dalam durasi proteksi artinya sejak suntikan ketiga itu masih tidak lebih dari 5 bulan atau 6 bulan maksimal. Misalnya kemudian semua memakai masker.

Kemudian setidaknya maksimal sekali satu meter persegi per orang itu yang harus dipenuhi kalau bisa 2 meter persegi orang maka bagus sekali, tapi setidaknya satu per seorang kemudian dilakukan di ruang terbuka dan pengaturan supaya tidak ada singgungan dalam artian namanya kontak fisik, jaga jarak itu dalam artian jangan sampai kerumunan. Hal-hal seperti itulah yang harus dilakukan bahkan termasuk di era pertemuan KTT G-20.

Editor: Fadli

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Episode 5: Gen Z: Si Agen Perubahan Penentu Masa Depan

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 11

Most Popular / Trending