Bagikan:

Resesi, Asosiasi: 30 Ribuan Pekerja Tekstil Dirumahkan

"Dirumahkan, misal begini. Dari kapasitas 100 ton menjadi 50 persennya kan berarti ada mesin yang mati kan."

NASIONAL

Rabu, 09 Nov 2022 08:57 WIB

resesi

Ilustrasi: Produksi kain sarung di Pabrik Tekstil Kawasan Industri Majalaya, Kabupaten Bandung, Jabar. (Antara/Raisan Al Farisi)

KBR, Jakarta- Sekretaris Jenderal Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Rizal Tanzil Rakhman menyebut ada 30 ribuan pekerja tekstil yang dirumahkan karena industri tekstil merasakan dampak resesi di tingkat global. Angka tersebut hanya merupakan data yang terangkum sebagai anggota API. 

Kata dia angka itu, belum termasuk dari perusahaan yang bukan anggota API ataupun sekadar tidak memutakhirkan datanya pada asosiasi.

"Saya garis bawahi ya bukan PHK, itu di tekstil dihindari. Tapi dirumahkan, misal begini. Dari kapasitas 100 ton menjadi 50 persennya kan berarti ada mesin yang mati kan. Itu ada operatornya, ada karyawannya. Nah karyawan itu yang dirumahkan sampai menunggu ada order selanjutnya yang bisa dikerjakan. Sehingga mereka bisa dipanggil kembali kerja di pabrik. Nah kalau angka pastinya itu dari anggota kita saja yang sudah tersurvei, itu anggota API maksud saya, itu ada 30 ribuan," ujar Rizal saat dihubungi KBR (08/11/22).

Sekretaris Jenderal Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Rizal Tanzil Rakhman menekankan bahwa fenomena yang terjadi di industri tekstil kali ini menjadi peringatan bagi seluruh pihak termasuk pemerintah. Perlu ada upaya yang dilakukan agar Indonesia tak merasakan dampak resesi global yang terlampau dalam.

"Jadi pemerintah dan pengusaha harus segera berdialog, layoutnya seperti apa. Terutama penanganan-penanganan yang berdampak segera dimitigasi dalam jangka pendek. Kita harus bicara dulu dengan pemerintah, ini kan harus ditangani bersama-sama. Komunikasi sudah kita bangun dan terus kita bangun. Sementara sih semua berusaha semaksimal mungkin untuk bertahan," tegasnya.


Baca juga:

Ia menjelaskan industri tekstil merasakan langsung dampak resesi karena banyak perusahaan tekstil yang memasarkan produknya ke luar negeri.

"Saat ini resesi yang terjadi di negara utama tujuan utama ekspor kita, seperti Amerika dan Uni Eropa, itu menyebabkan market yang mengecil. Ada penundaan order. Sehingga imbasnya pada produksi industri tekstil kita di dalam negeri. Dampak ini yang perlu diantisipasi dampak sosialnya," imbuhnya.

Editor:Rony Sitanggang

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 7

Tergoda Perpanjangan Masa Jabatan Kepala Desa

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 11

Most Popular / Trending