Bagikan:

Pro Kontra Pembebasan PR di Surabaya

Anak SD-SMP Surabaya bebas PR dibahas asyik di Podcast What's Trending!

NASIONAL

Rabu, 02 Nov 2022 17:03 WIB

Author

Lea Citra

Surabaya bebas PR

Surabaya bebas PR

KBR, Jakarta- Mulai 10 November 2022, pelajar SD dan SMP di Surabaya, Jawa Timur akan dibebaskan dari pekerjaan rumah (PR). Pembebasan siswa dari PR diklaim untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam bersosialisasi. Menurut Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, selama ini PR dianggap membebani para pelajar. Kata Eri, pemerintahannya lebih mengedepankan proses pertumbuhan karakter siswa.

“Sebetulnya PR itu jangan membebani anak-anak, tapi yang saya ubah PR itu adalah untuk kegiatan pembentukan karakter. Saya harap meskipun ada PR tapi tidak terlalu berat dan terlalu banyak, yang penting adalah pertumbuhan karakter mereka,” kata Wali Kota Eri Cahyadi.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya, Yusuf Masruh mengungkapkan, nantinya pelajar SD-SMP akan mendapatkan ekstra 2 jam untuk pendalaman karakter siswa. Sedangkan untuk penyelesaian PR bagi siswa di tingkat SD dan SMP, Yusuf menerangkan, bisa dilakukan melalui kelas pengayaan untuk diselesaikan di sekolah.

“Jam belajar selesai pukul 12.00 WIB dan pendalaman sampai pukul 14.00 WIB. Artinya dua jam sudah efektif, anak-anak bisa mengikuti pola pembelajaran melalui pengembangan bakat masing-masing. Ada lukis, menari, mengaji, dan lainnya,” kata Yusuf.

Baca Juga:

Gus Yahya Harap Para Pemimpin Agama Saling Jujur dan Terbuka di Forum R20

Ini Strategi Indonesia Percepat Transformasi Digital

Puluhan Gedung Sekolah Rusak, Pemkab Banyuwangi Butuh Dana Perbaikan Rp50 Miliar

Pola pembelajaran seperti itu, diklaim lebih segar ketimbang pola pemberian PR yang selama ini dianggap membebanan anak-anak. Sebab, menurut Yusuf, pola pembelajaran pendalam karakter ini akan melatih para siswa untuk lebih aktif, mandiri, dan berani memberikan pendapat untuk menciptakan desain atau rencana pengembangan pengetahuan siswa.

Menanggapi hal ini, Peneliti Bidang Sosial The Indonesian Institute (TII) Nisaaul Muthiah menilai, kebijakan ini perlu dikaji efektivitasnya. Bagaimana anak-anak akan mengembangkan minatnya, apakah sesuai dengan kebutuhan anak atau malah melenceng dari tujuan sebenarnya.

"Menurut saya ada perbedaan antar anak ya. Baik itu yang sekolah di sekolah negeri dengan swasta. Mungkin juga, bisa juga dilihat antar anak yang dari kelas ekonomi atas dan bawah ya. Biasanya kan anak yang dari kalangan keluarga mampu nih, biasanya sepulang sekolah itu langsung diikutkan ke les-les bermacam-macam les gitu kan. Nah kalau yang kurang mampu kan tidak bisa ikut les tuh, jadi bebannya sebenarnya juga beda, dan itu juga ngaruh ke ketimpangan proses belajar sih ya. Yang didasari oleh ketimpangan ekonomi sebenarnya," ujar Nisa.

Mau tau kelanjutan dari pembebasan PR di Surabaya? Yuk dengarkan What's Trending KBR di link berikut ini:

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

IPK Anjlok, Indonesia Makin Korup?

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 11

Most Popular / Trending