Bagikan:

Pertemuan Tokoh Agama R20 Bali: Agama dan Praktiknya Mampu jadi Solusi Perdamaian

Bahwa agama mampu jadi solusi dan bukan jadi masalah.

NASIONAL | INTERNASIONAL

Kamis, 03 Nov 2022 13:00 WIB

Author

Wydia Angga

Forum agama G20 atau Religion of Twenty (R20)

Ket Foto: Forum agama G20 atau Religion of Twenty (R20) dihelat di Bali. Kredit foto: LTN PBNU

KBR, Bali - Para tokoh agama yang menjadi pembicara dalam Forum Agama G20 atau Religion of Twenty (R20) di Bali, mengungkap bagaimana kehidupan beragama mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. 

Mereka meyakinkan bahwa agama serta praktiknya mampu menjawab tantangan zaman untuk berdampingan menjalin perdamaian, bersama berbagai komunitas agama yang berbeda. Bahwa, agama mampu jadi solusi dan bukan jadi masalah.

Salah satu pembicara, Elder Gary E. Stevenson, Member of the Quorum of the Twelve Apostles, Church of Jesus Christ of Latter-day Saints dari Amerika Serikat mengakui mencapai misi universal tersebut memang membutuhkan waktu, begitupun dengan gereja. 

Ia menyadari bahwa tiap agama memiliki kisahnya untuk menjadi seperti saat ini. Tapi pencapaian yang bisa diceritakan saat ini adalah pihaknya telah memperkuat prioritas untuk melayani sesama dan memuliakan persatuan dalam perbedaan.

"Kami memperkuat prioritas kami untuk melayani orang lain dan merayakan persatuan dan keragaman. Nilai bersama kita dari orang-orang beriman menghimpun kita untuk membangun jembatan pemahaman hubungan antaragama untuk meningkatkan harmoni dan mempromosikan keadilan bagi semua di masyarakat kita)," kata Stevenson, dalam Pertemuan R20 di Bali, Kamis (3/11/2022).

Stevenson mengatakan nilai yang dijunjung bersama orang beriman lainnya mendorong mereka untuk membangun jembatan pemahaman antar keyakinan, berkolaborasi dengan organisasi kemanusiaan global, membina hubungan harmonisas antar ras dan memastikan keadilan bagi semua di segala kelompok masyarakat. Menurutnya, upaya berkolaborasi itu demi menumbuhkan rasa saling percaya.

Ia juga mencontohkan beberapa bulan lalu anggota komunitas gerejanya telah bekerja sukarela dalam kerja kemanusiaan dalam skala global. Selain itu mereka juga berpartisipasi dalam diskusi event-event serta pembicaraan-pembicaraan yang bermakna dengan para anggota dari berbagai ras-etnis, kebudayaan. 

Dengan kolaborasi bersama kelompok Afro-Amerika dan kelompok lain di Afrika, kata Stevenson, pihaknya juga berupaya membangun jembatan pemahaman antar mereka. 

Bahkan, demi mengatasi ketidakpedulian terhadap kelompok lain, pihaknya baru saja berkolaborasi dengan kelompok umat Islam dalam mencetak booklet yang membantu orang memahami kemiripan alih-alih perbedaan.

Stevenson menambahkan dengan mendengarkan pengalaman para pihak, akan membuat mereka mencapai kebenaran dan makin dekat mencapai ide-ide universal, bahwa semua orang sama di hadapan Tuhan.

"Solusi akan datang saat masyarakat membuka hatinya kepada mereka yang memiliki perbedaan, saat bekerja membangun ikatan persahabatan yang tulus, dan saat memandang satu sama lain sebagai saudara dan saudari)," kata Stevenson.

Ia menyebut bahwa Injil Yesus yang dianutnya memanggil mereka untuk mengasihi orang orang dari semua keyakinan, budaya, ras dan bangsa dalam kebaikan karena semuanya sama di mata Tuhan, sebagaimana keyakinan mereka.

Baca Juga:

Pada kesempatan yang sama, pembicara dari Indonesia, KH. Imam Addaruqutni sebagai Pimpinan Pusat Muhammadiyah meyakinkan bahwa organisasinya juga mampu menjadi bagian dari solusi persatuan. 

Imam mengatakan selama 100 tahun berdiri, pihaknya tidak pernah berpikir dan membuat agenda untuk menggantikan sistem di negara Indonesia. 

Ia menyebut bahwa pengajaran dari pemimpin Muhammadiyah yang juga merupakan salah satu pendiri negara, tak pernah mengajarkan mereka untuk mengubah apa yang menjadi landasan dasar negara ini.

"Muhammadiyah telah mendedikasikan visi dan misi, tidak pernah berpikir atau menetapkan agenda untuk menggantikan sistem negara kita. Petinggi Muhammadiyah bahkan pernah menjadi salah satu pendiri negara Republik Indonesia ini," kata Imam dalam forum R20 di Bali, Kamis (3/11/2022).

Imam menambahkan, dalam perkembangannya, pihaknya terus berkomitmen mengembangkan sistem pendidikan yang lebih maju sebagai bagian pengembangan negara Indonesia. Imam menyebut ada 200 Universitas Muhammadiyah yang mengakomodasi lebih dari seribuan mahasiswa non muslim.

Baca Juga:

Sementara itu, Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Ulil Abshar Abdallah menceritakan kisah Gus Dur, Presiden ke-4 Indonesia yang juga pernah memimpin NU, menjadi tokoh di organisasinya yang membuka jalan perbincangan lintas agama. 

Kata Ulil, Gus Dur di tahun 70-an memberikan kuliah agama Islam di sebuah Universitas Kristen. Saat itu digambarkan Ulil bahwa yang dilakukan Gus Dur tersebut tak lepas dari pertentangan berapa ulama, tak terkecuali di internal.

"Pada waktu itu ide dialog antar agama belum populer di kalangan ulama atau cendekiawan kita. Kemudian bergerak maju, pada akhir tahun '80, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjadi salah satu ikon atau simbol penting dari dialog antaragama," kata Ulil di acara yang sama, Kamis (3/11/2022).

Namun sekarang, perkembangan pesat yang bisa disaksikan bersama adalah organisasi yang sama, yakni NU, justru menginisiasi forum agama internasional R20 untuk pertama kalinya. 

Menurut Ulil, Ketua Umum PBNU yang sekarang, Kh Yahya Cholil Staquf dinilainya menjadi penerus apa yang telah dilakukan Gus Dur sebelumnya.

"Untuk mempertemukan para pemimpin yang berbeda keyakinan, tradisi, agama untuk duduk bersama di Bali)," kata Ulil.

Ia meyakini bahwa perjalanan yang luar biasa dari waktu ke waktu ini menunjukkan bahwa agama mampu menjawab tantangan waktu sebagai bagian solusi, bukan masalah.

"Bagi saya atau bagi kita di Nahdlatul Ulama adalah pentingnya kelanjutan dari perjalanan ini. Ia memprakarsai forum dengan percaya bahwa Islam dan semua agama dapat menyelesaikan masalah di zaman modern ini," kata Ulil.

Forum agama G20 atau Religion of Twenty (R20) di Bali, berlangsung dari 2-3 November 2022, dan dihadiri lebih dari 400 undangan dari dalam dan luar negeri. Mereka merupakan para pemimpin agama, sekte, dan aliran kepercayaan dari berbagai negara dengan jutaan pengikut.

Editor: Agus Luqman

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Kejar Tayang Pengesahan RKUHP

Most Popular / Trending