Bagikan:

Menanti Kenaikan UMP 2023 di Tengah Ancaman Resesi

Berapa kenaikan UMP yang ideal di 2023? Dibahas asyik di Podcast What's Trending!

NASIONAL

Kamis, 03 Nov 2022 16:00 WIB

Author

Lea Citra

UMP

UMP

KBR, Jakarta- Jelang akhir tahun, isu kenaikan upah minimun kian gencar diperbincangkan. Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) memastikan upah minimum (UM) 2023 bakal naik. Namun Menteri Tenaga Kerja, Ida Fauziah belum bisa memastikan berapa kenaikan upah minimum provinsi (UMP) 2023. Sebab Kemnaker masih membahas rencana kenaikan upah dan pengumumannya paling lambat diberikan pada 21 November 2022.

"Penetapan Upah Minimum kan bulan November. Tentu kalau kita pakai peraturan yang sudah ada, PP nomor 36. Sekarang Bu Dirjen lagi mendengarkan masukan, pandangan, aspirasi dari semua stakeholder, apakah itu pengusaha, maupun pekerja. Sudah berjalan, sejak 2 minggu lalu. Makanya saya minta bu Dirjen mendengarkan aspirasi," katanya.

Baca Juga:

Menaker: Penyaluran BSU Capai 71,6 Persen

Stok Pemerintah Menipis, Harga Beras Melonjak

Jagat Nusantara, Metaverse IKN Bikinan Pemerintah

Tapi bagaimana dengan resesi?

Sejumlah lembaga internasional memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2023 berada pada kisaran 2,3-2,9 persen. Proyeksi tersebut mengalami penurunan dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi dunia untuk tahun 2022 yang berada pada kisaran 2,8-3,2 persen.

“Tentunya Indonesia ada faktor positif berada di lingkup ASEAN, di mana pertumbuhan ekonomi ASEAN diperkirakan sebesar 4,9 persen. Di regional, kita ini masih ada pertumbuhan sehingga tentu di Indonesia menjadi sumber pertumbuhan ke depan,” ungkap Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di keterangan persnya.

Sementara itu, kalangan buruh meminta kenaikan upah untuk tahun depan, minimal 13 persen. Kata Ketua Departemen Bidang Komunikasi dan Media Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Kahar S. Cahyono, angka ini muncul setelah kalangan buruh memperhitungkan inflasi dan pertumbuhan ekonomi.

"Janganlah itu dijadikan sebagai alasan untuk menakut-nakuti buruh, alasan untuk tidak menaikkan upah buruh. Karena berdasarkan indikator yang ada, resesi tahun depan itu tidak berdampak bagi Indonesia begitu. Dan kita juga ditegaskan IMF, bahwa Indonesia bukan termasuk negara yang akan jadi pasien IMF terkait dengan resesi di tahun depan itu" tegas Kahar kepada KBR, 1 November 2022.

Untuk membahas lebih lengkap bagaimana dampak resesi terhadap kenaikan upah di 2023. Yuk dengarkan podcast What's Trending KBR, berikut ini:

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 7

Tergoda Perpanjangan Masa Jabatan Kepala Desa

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 11

Most Popular / Trending