Bagikan:

Menaker: Ironi, Jumlah Pekerja Disabilitas Menurun

Data BPS per 2021 mencatat jumlah pekerja dengan disabilitas di Indonesia mencapai 7,04 juta orang atau 5,37 persen dari total penduduk yang bekerja. Angka ini turun dibanding 2020.

NASIONAL

Senin, 21 Nov 2022 14:04 WIB

Author

Shafira Aurel

disabilitas

Warga difabel mengikuti pelatihan kerja menjahit di Klewor, Kemusu, Boyolali, Jawa Tengah, Kamis (3/11/2022). (Foto: ANTARA/Aloysius Jarot Nugroho)

KBR, Jakarta - Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah menilai tren peningkatan proporsi penyandang disabilitas yang berwirausaha sebagai ironi bagi para pengusaha dan pemerintah.

Ida Fauziyah melansir data Badan Pusat Statistik (BPS) per tahun 2021 dimana jumlah pekerja formal dengan disabilitas di Indonesia mencapai 7,04 juta orang atau 5,37 persen dari total penduduk yang bekerja.

Angka ini turun dibanding tahun 2020 dimana jumlah pekerja dengan disabilitas mencapai 7,67 juta orang atau 5,9 persen dari total penduduk yang bekerja.

Ida Fauziyah menyebut kondisi ini sebagai salah satu indikator dampak pandemi. Menurut Ida, tren peningkatan proporsi penyandang disabilitas yang berwirausaha muncul sebagai alternatif mereka untuk bertahan hidup, sekaligus sebagai ironi bagi pihak-pihak terkait.

"Saya harus sampaikan justru ini menandakan bahwa penyandang disabilitas terpaksa harus membuka usaha sendiri. Karena sulit untuk masuk dipasar kerja dan masih minimnya alternatif pekerjaan yang bisa dikerjakan. apalagi minimnya awareness perusahaan untuk merekrut tenaga kerja disabilitas," ujar Ida, saat memberikan sambutan dalam acara Pemberian Penghargaan Nasional BUMN Yang Mempekerjakan Penyandang Disabilitas, disiarkan langsung di kanal youtube Kementerian Ketenagakerjaan RI, Senin (21/11/22).

Baca juga:


Ida Fauziyah menyayangkan ketidakmampuan Indonesia dalam merangkul dan menyediakan lapangan kerja bagi kaum disabilitas.

Ia berharap kedepannya pemerintah dan para pengusaha mampu mengakomodir permasalahan ini, walaupun di tengah ancaman resesi global yang menghantui, namun tetap harus memikirkan kesejahteraan bersama bukan hanya segelintir orang.

Editor: Agus Luqman

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 7

Tergoda Perpanjangan Masa Jabatan Kepala Desa

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 11

Most Popular / Trending