Bagikan:

Bicara Luka Masa Lalu dan Rekonsiliasi di Forum Agama R20

Forum agama G20 atau Religion of Twenty (R20) yang tengah dihelat di Bali menghadirkan diskusi mengenai luka masa lalu untuk membangun rekonsiliasi dan merangkul nilai-nilai yang dianut bersama.

NASIONAL | INTERNASIONAL

Rabu, 02 Nov 2022 19:29 WIB

Author

Wydia Angga

Religion of  Twenty (R20)

Logo R20

KBR, Bali- Forum Agama G20 atau Religion of Twenty (R20) yang tengah dihelat di Bali menghadirkan diskusi mengenai luka masa lalu. Diskusi ini bertujuan untuk membangun rekonsiliasi dan merangkul nilai-nilai yang dianut bersama dari berbagai agama di dunia. 

Prof. Mary Ann Glendon dari Harvard Law School sebagai salah satu pembicara pada forum R20, mengemukakan tiga cara yang bisa dilakukan untuk menyimpulkan nilai bersama dari berbagai agama demi dapat berjalan berdampingan di masa depan. Yaitu, dengan melihat sekeliling, melihat ke belakang dan melihat ke depan.

"Looking around, looking back, and looking forward," ujar Glendon, Bali, Rabu (2/11)

Glendon menjelaskan, melihat sekeliling adalah untuk mengenali hambatan yang mengadang tiap upaya dalam menemukan nilai-nilai bersama. Sementara melihat ke belakang adalah mencari hal yang bisa dipelajari dari upaya serupa yang dilakukan pada masa-masa awal persatuan bangsa. 

Sedangkan melihat ke depan adalah untuk mengetahui yang dapat dilakukan pemimpin agama dan cendekiawan guna membantu mempromosikan perkembangan manusia dari pada perpecahan dan konflik.

Namun, ia juga menyebutkan masalah saat melihat ke sekeliling, adalah menghadapi orang-orang yang menyebut bahwa agama sudah ketinggalan zaman, tak lagi relevan dan bahkan menjadi penghalang bagi perdamaian dan stabilitas. Ia bahkan menyebut sebagian dari mereka merupakan orang yang berpengaruh. 

Karenanya ia menyebut pentingnya menyadarkan para pembuat keputusan dengan cara meyakinkan mereka bahwa tak hanya krisis lingkungan yang perlu dikhawatirkan, tapi juga krisis sosial. Krisis lingkungan sosial ini dapat dijumpai di sekitar, di mana keberhasilan setiap program kebijakan bergantung. Dan, disinilah menurut Glendon, agama berperan besar.

Sejarah Tak Bisa Diubah

Pada kesempatan yang sama, Pendeta Christian Krieger dari Prancis menekankan pentingnya rekonsiliasi demi mencapai perdamaian di masa datang. Kata dia, manusia tidak dapat mengubah sejarah, tetapi manusia dapat mengubah pengaruhnya terhadap manusia itu sendiri. 

"We can not change the history, but we can change it's influence on us," ungkap Krieger yang juga merupakan President dari Conference of European Churches. 

Menurutnya, ketika penggunaan senjata telah dihentikan dan siklus kekerasan diinterupsi dengan dialog yang adil maka tibalah waktunya untuk berdamai. Namun kata dia, waktu tak serta merta dapat menyembuhkan luka, tapi rekonsiliasilah yang dibutuhkan.

Krieger menjelaskan, rekonsiliasi adalah waktu untuk mengubah kebencian pada yang lain menjadi penghormatan dan mengubah penolakan menjadi persaudaraan. Salah satu kunci proses penyembuhan adalah dengan menulis fakta-fakta sejarah secara bersama, agar bisa masuk dalam proses rekonsiliasi hingga pengampunan.

Forum agama G20 atau Religion of Twenty (R20) di Bali, berlangsung dari 2-3 November 2022, dan dihadiri lebih dari 400 undangan dari dalam dan luar negeri. Mereka adalah para pemimpin agama, sekte, dan aliran kepercayaan dari berbagai negara dengan jutaan pengikut.

Baca juga:

Editor: Sindu

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Kejar Tayang Pengesahan RKUHP