covid-19

Target Pertumbuhan Ekonomi, Keraguan DPR, dan Realisasi PEN

Anggota Komisi bidang Keuangan DPR RI, Junaidi belum yakin pemerintah mampu mewujudkan target itu.

BERITA | NASIONAL

Selasa, 23 Nov 2021 10:30 WIB

Perkiraan pertumbuhan ekonomi kuartal IV

Ilustrasi para pelaku usaha mengikuti pameran UMKM di Semarang, Jawa Tengah, Jumat (30/4). Foto: ANTARA

KBR, Jakarta- Presiden Joko Widodo (Jokowi) memerintahkan para kepala daerah menyimbangkan antara gas dan rem dalam upaya pengendalian pandemi dan pemulihan ekonomi. Keseimbangan itu perlu dilakukan dengan harapan dapat mendongkrak perumbuhan ekonomi di kuartal IV-2021.

"Agar juga disampaikan kepada gubernur, bupati, dan wali kota untuk menyeimbangkan betul-betul gas dan rem sehingga kita bisa mempertahankan momentum (perekonomian) untuk tumbuh positif. Kita tahu di kuartal II tumbuh 7,07 persen, di kuartal III tumbuh 3,51 persen, dan kita harapkan di kuartal IV ini lebih baik dari kuartal yang ketiga," ucap Jokowi dalam Pengantar Presiden RI pada Rapat Terbatas Mengenai Evaluasi PPKM, Senin, (22/11/2021).

Perkiraan Kuartal IV

Dalam kesempatan yang berbeda, Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menargetkan pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2021 berada di kisaran 5,5%-6% year on year (yoy). Ia mengklaim target itu bisa terealisasi pada Oktober-Desember 2021.

Sebab, pemulihan ekonomi nasional sudah terlihat. Antara lain, indikator makro ekonomi mulai membaik dibandingkan kuartal III-2021, misalnya pada Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), dan inflasi bulanan sebesar 0,12% pada Oktober 2021, sebagai indikasi peningkatan daya beli masyarakat.

"Kita berharap kuartal 4 ini kita bisa menjaga di angka 5-6% kalau kita mau tumbuh di angka 4%, maka di kuartal keempat ini harus memacu 5,5-6%," kata Airlangga di acara Ekonomi Outlook 2021, Senin, (22/11/2021).

Ekspor Menggeliat

Tren ekspor mulai menggeliat sejak bulan lalu, kelapa sawit dan turunannya masih menjadi komoditas andalan karena tingginya permintaan di global dan dalam negeri. Selain itu, ekspor produk manufaktur juga diharapkan semakin banyak hingga akhir Desember 2021. Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut nilai ekspor Indonesia pada Oktober 2021 mencapai US$22,03 miliar atau sekira Rp320-an triliun.

"Ini juga akan meningkatkan dunia usaha, sehingga investasi, investor bisa memanfaatkan yang lebih baik, pemerintah menggenjot industri berbasis ekspor,” kata Airlangga.

Airlangga menyebut pemulihan ekonomi di kuartal IV-2021 dipicu penurunan kasus COVID-19, sehingga meningkatkan aktivitas perekonomian masyarakat. Kata dia, kuartal IV-2021 akan mengompensasi perlambatan pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2021 yang tumbuh 3,51% year-on-year (yoy), atau lebih rendah dari kuartal II-2021 yang mencapai 7,07% yoy.

"Di kuartal ketiga, konsumsi rumah tangga hanya tumbuh 1% karena PPKM ketat seiring adanya varian Delta pada Juli lalu. Sekarang (kuartal-IV) relatif terkendali sehingga bisa meningkatkan konsumsi, demikian juga konsumsi pemerintah," ujar Airlangga.

DPR Ragu

Anggota Komisi bidang Keuangan DPR RI, Ahmad Junaidi Auly menilai target pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2021 sebesar 6 persen cukup wajar.

"Kalau pertimbangan atau alasan logis yang disampaikan pemerintah, saya kira wajar mereka menargetkan 5 sampai 6 persen di kuartal IV ini," kata Junaidi saat dihubungi KBR, Senin, (22/11/2021).

Namun, Junaidi belum yakin pemerintah mampu mewujudkan target itu, mengingat capaian di kuartal III-2021 juga tidak sesuai ekspektasi.

"Kuartal III itu relatif perkembangan pandemi yang cukup landai, tapi ternyata pertumbuhan ekonominya juga tidak begitu meningkat sesuai yang ditargetkan," tambahnya.

Karena itu, ia mendorong pemerintah cermat dan teliti, dalam melakukan strategi pertumbuhan ekonomi nasional di kuartal IV-2021. 

Menurutnya, momentum pandemi yang tengah sedang melandai harus dimanfaatkan secara optimal. Namun, pemerintah juga tidak boleh lalai dan mengorbankan penanganan COVID-19 yang dikhawatirkan terjadi lonjakan di akhir tahun ini.

"Jadi tetap dalam konteks pertumbuhan ekonomi dengan item-item yang dicanangkan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi itu secara optimal tetap dikejar, tetapi jangan dilupakan protokol kesehatan yang juga dilakukan untuk mencegah pandemi menjadi meningkat lagi, itu juga yang harus dipertimbangkan," kata Junaidi saat dihubungi KBR, Senin (22/11/2021).

Sulit Dicapai

Sementara itu, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad pesimistis pemerintah bakal mampu mencapai target pertumbuhan ekonomi seperti yang ditetapkan pada kuartal IV. Hal ini menyusul pembatasan mobilitas atau penerapan PPKM level 3 untuk mengantisipasi penularan COVID-19 saat libur Natal dan Tahun Baru 2022 (Nataru).

Ia menyarankan, pemerintah memaksimalkan sejumlah sektor yang masih bisa bertumbuh di tengah pembatasan mobilitas. Dengan begitu, pemerintah bisa mengejar target pertumbuhan ekonomi, sekaligus mengendalikan pandemi COVID-19. Ia memperkirakan ekonomi hanya bakal tumbuh di kisaran 4 persen pada kuartal keempat.

"Usahakan ekspor itu benar-benar surplus nya bertahanlah jangan turun. Surplusnya tetap di angka minimal misalnya 5 miliar US dolar. Kalau di bawah itu maka agak sangat sulit untuk yang bulanannya. Gimana caranya surplusnya? Impor nya jangan cepat naik dulu. Karena trennya pemulihan ekonomi, impor barang konsumsi, modal naik. Usahakan agar industri dalam negeri bisa menjalankan substitusi impor. Jadi mengganti kebutuhan industrinya berasal dari dalam negeri," kata dia kepada KBR, Senin, (22/11/22).

Realisasi PEN Rendah

Tauhid meminta pemerintah menggenjot konsumsi rumah tangga dengan cara menambah bantuan sosial, terutama untuk 20 persen masyarakat terbawah. Selain itu sektor yang bisa dimanfaatkan untuk mengejar pertumbuhan ekonomi kuartal keempat adalah pengeluaran pemerintah. Terutama belanja modal pemerintah yang realisasinya masih kecil, di bawah 50 persen. Kata dia, hal itu semestinya bisa cepat direalisasikan agar bisa membantu ekonomi.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad juga menyoroti rendahnya realisasi program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Yakni mencapai 66,6 persen atau setara Rp495,77 triliun dari pagu anggaran Rp744,77 triliun pada November 2021.

Ia mendesak penyaluran sisa anggaran PEN segera dilakukan, terutama di sektor yang realisasinya masih rendah seperti bantuan UMKM, kesehatan dan perlindungan sosial. Hal itu sangat penting untuk bisa meningkatkan daya beli masyarakat dan otomatis berdampak ke pertumbuhan ekonomi.

Baca juga:

Editor: Sindu

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Popsiklus, Pemain Lama Bisnis Daur Ulang yang Makin Relevan