covid-19

Sri Mulyani: Inflasi di Indonesia Masih Rendah, Tapi Tetap Harus Waspada

Saat ini negara maju menghadapi inflasi yang sangat tinggi dan dihadapkan pada disrupsi dari segi supply dan kenaikan harga komoditas, terutama energi.

BERITA | NASIONAL | KABAR BISNIS

Selasa, 23 Nov 2021 18:49 WIB

Sri Mulyani: Inflasi di Indonesia Masih Rendah, Tapi Tetap Harus Waspada

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. (Foto: ANTARA/Astrid Faidlatul Habibah)

KBR, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pergerakan inflasi di dalam negeri masih cukup rendah jika dibandingkan dengan negara maju seperti Amerika Serikat dan sejumlah negara emerging market.

"Inflasi Indonesia masih sebesar 1,7 persen, sedangkan kenaikan inflasi di Amerika Serikat, Meksiko, Afrika Selatan berada di atas 6 persen. Bahkan, angka inflasi di Turki mencapai 19 persen, menyusul Argentina sebesar 50 persen," kata Sri Mulyani saat memberi sambutan di acara Kongres AAIPI Tahun 2021 secara daring, Selasa (21/11/2021).

Menurut Sri Mulyani, kenaikan inflasi tersebut terjadi akibat pemulihan ekonomi yang cepat terutama dari segi demand, tetapi tidak diikuti oleh pemulihan di segi supply. Kondisi seperti ini menimbulkan kenaikan pada harga-harga barang pasar.

Baca Juga:

Kenaikan inflasi yang begitu tinggi harus diwaspadai oleh Indonesia. Sri Mulyani mengingatkan lingkungan dunia sedang tidak dalam situasi yang tenang. Saat ini negara maju menghadapi inflasi yang sangat tinggi dan dihadapkan pada disrupsi dari segi supply dan kenaikan harga komoditas, terutama energi. Semuanya mendorong pada kenaikan harga yang sangat drastis.

"Pemulihan yang cepat tidak disertai dengan perbaikan sisi supply nya dan bahkan terjadinya disruption karena produksi maupun distribusi masih terkendala dengan masih maraknya Covid-19 sehingga menimbulkan tekanan pada sisi harga," ujarnya.

Sri mengatakan, negara-negara maju kini dihadapkan pada pilihan yang sulit. Keputusan untuk mengerem inflasi berarti memperlambat pemulihan ekonomi melalui kebijakan pengetatan moneter yang akan berujung pada kenaikan suku bunga. Hal tersebut, katanya, mesti diwaspadai karena berdampak kepada capital outflow dan tekanan pada nilai tukar sejumlah negara, termasuk Indonesia.

Hingga saat ini, lanjutnya, pasar keuangan domestik terpantau cukup stabil kendati tekanan global tidak berjalan semulus yang diharapkan. Surat Berharga Negara (SBN) mengalami penurunan dengan spread terhadap dollar Amerika Serikat. Permintaan Bank Indonesia terhadap SBN cukup memberikan stabilisasi pada sisi pasar keuangan negara.

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Toilet Sehat untuk Semua, Sudahkah Terpenuhi?