Resiliensi DuitHape Jangkau Masyarakat Unbanked

Lika-liku mengembangkan startup solid dan berkelanjutan

Rabu, 24 November 2021

KBR, Jakarta - Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per September 2021 mencatat ada 2.100 perusahaan rintisan (startup) di tanah air. Menjamurnya startup juga tak lepas dari ekosistem digital yang makin akseleratif sejak pandemi.

Namun, membangun bisnis startup yang solid dan sustainable, butuh banget nafas panjang. Itu salah satu kesimpulan yang bisa ditarik dari perjalanan Sara Dhewanto mendirikan DuitHape.

"It's not easy to become an entrepreneur. Tapi ada beberapa hal yang penting banget, we are solving a true problem, a true need," ujar Sara.

Persoalan besar yang Sara temukan adalah banyaknya masyarakat yang tidak punya rekening bank (unbanked). Kala itu, pada 2015, ia bekerja di lembaga nirlaba Millenium Challenge Account Indonesia (MCA-I). Sara mesti menyalurkan dana hibah 600 juta dolar AS atau sekitar Rp8 triliun ke masyarakat miskin.

"Satu-satunya cara untuk bisa mendistribusikan uang itu adalah dengan dibawa pakai karung, masukin ke amplop, kasihin satu-satu,"

Ternyata memang jumlah masyarakat unbanked di Indonesia separuh lebih dari total penduduk usia dewasa atau sekitar 95 juta jiwa, menurut data OJK. Hal ini membuat mereka sulit mengakses layanan jasa keuangan seperti investasi, kredit, asuransi maupun bantuan. Sara memandang situasi itu sebagai peluang sekaligus tantangan.

"Oke, if i want to really do something for my country, ini dia. Dari situ langsung kepikiran, it has to be financial technology startup,"

Baca juga: Siap-Siap Era Bank Digital

Tangkapan layar dari web DuitHape. (Foto: KBR/Valda)

Desember 2015, Sara dan suaminya, Hario Dhewanto mendirikan DuitHape. Ia mempertaruhkan seluruh tabungan untuk membangun startup ini dari nol.

"Itu seluruh tabungan saya sampai berapa tahun saya ga terima gaji. Jadi benar-benar puasanya puasa,"

Padahal Sara punya karier moncer di keuangan. Sebelum di MCA-I, peraih gelar MBA dari State University of New York ini bekerja 10 tahun di Exxon Mobil. Alih-alih menikmati comfortable life, Sara memilih jatuh bangun membesarkan DuitHape.

"Kami menciptakan sistem pembayaran digital yang bisa digunakan siapapun, termasuk yang ga punya rekening bank. Bahkan tanpa perlu kartu, ga perlu HP pun, hanya perlu muka,"

DuitHape menerima banyak klien yang ingin menyalurkan bantuan sosial maupun program CSR ke warga miskin. Penerima bantuan yang tak punya kartu identitas pun bisa mendapatkan haknya, berkat fitur face recognition.

Dalam mengembangkan sistem ini, DuitHape merekrut toko atau warung kecil sebagai mitra sekaligus penyalur bantuan. Bisa ditebak, dampak ekonominya bakal mengalir sampai jauh.

"Yang mendapat manfaat si penerima bantuan, toko-toko sekitar, dia beli dari grosiran, grosirannya beli dari distributor, dst. Itu multiplier effect-nya, berkali-kali lipat,"

Baca juga: Transformasi si Smash 100 Watt, dari Bulu Tangkis ke Bisnis 

Founder DuitHape Sara Dhewanto. (Foto: KBR/Valda)

DuitHape berulang kali melakukan perubahan untuk sampai di titik sekarang. Sara cerita, berkali-kali nyaris putus asa karena periode 'bakar duit' hampir limit, tapi klien tak kunjung merapat.

"Setiap kali doa, ya Allah jalan terus atau ga? Saya udah 8-10 kali hampir kehabisan uang. Ya Allah, saya udah capek, eh dibukain jalannya. Sambil nangis-nangis tapi sambil jalan,"

Sara bilang, punya tim yang solid juga jadi kunci DuitHape mampu bertahan dan berkembang. Faktor tim ini, kata Sara, memang krusial dalam mengembangkan startup.

"Get the right team dan make sure that your vision becomes the whole team vision. Dan mereka masing-masing jadi leaders. Jangan saya yang CEO, saya yang paling pintar, there are people that actually smarter than you," kata Sara.

Pengin tahu cerita lengkap Sara Dhewanto bangun startup? Simak ya Uang Bicara episode 34.