covid-19

Menkeu Ingatkan Waspadai Kenaikan Inflasi

Di sejumlah negara Eropa terjadi kenaikan harga mencapai 16,3 persen, menyusul Republik Rakyat Tiongkok (RRT) mencapai 13,5 persen, dan Amerika Serikat sebesar 8,6 persen.

BERITA | NASIONAL | KABAR BISNIS

Kamis, 18 Nov 2021 22:25 WIB

Menkeu Sri Mulyani saat memberikan keterangan pers terkait Hasil Sidang Kabinet Paripurna, di Kantor

Menkeu Sri Mulyani saat memberikan keterangan pers terkait Hasil Sidang Kabinet Paripurna, di Kantor Presiden. Rabu (17/12/21) (Foto: Sekretariat Presiden)

KBR, Jakarta - Memasuki pemulihan ekonomi pasca pandemi Covid-19, Menteri Keuangan Sri Mulyani mewanti-wanti semua pihak agar waspada terhadap kecenderungan terjadinya inflasi atau kenaikan harga yang berpotensi mengganggu stabilitas sistem keuangan. 

Sri Mulyani mengatakan beberapa negara maju di Eropa terjadi kenaikan harga mencapai 16,3 persen, sementara Tiongkok kenaikan harga mencapai 13,5 persen, dan Amerika Serikat sebesar 8,6 persen.

Begitu juga dengan negara emerging market seperti Korea Selatan yang mengalami kenaikan inflasi sebesar 7,5 persen. 

Sri Mulyani mengatakan kenaikan harga dari produser tersebut harus diwaspadai agar tidak mendorong kenaikan inflasi pada tingkat konsumen dalam negeri. Sementara di Indonesia, harga di tingkat produser terpantau mengalami kenaikan sebesar 7,3 persen.

Baca Juga:

"Di Eropa, Amerika Serikat, Republik Rakyat Tiongkok dan sejumlah negara emerging market terjadi kenaikan dari harga produser. Harga produser ini kemudian bisa menyebabkan kenaikan pada harga di tingkat konsumen," katanya dalam acara Konferensi Pers Menteri terkait Hasil Sidang Kabinet Paripurna, Kantor Presiden, Rabu (17/11/2021).

Dengan terjadinya kenaikan inflasi, potensi terjadinya kebijakan tapering off oleh Federal Reserve (The Fed) menyesuaikan kenaikan inflasi yang sangat tinggi. The Fed diproyeksi akan menaikkan suku bunga acuan atau Federal Funds Rate (FFR) hingga di atas 6 persen.

Biasanya, lanjut dia, kenaikan FFR dapat menimbulkan potensi goncangan dari sisi capital flow ke emerging country seperti Indonesia dan menimbulkan ekses dari sisi nilai tukar.

Bahkan, FFR menyebabkan terjadinya kenaikan inflasi dan depresiasi yang sangat dalam terhadap nilai mata uang di emerging country, termasuk Indonesia. Kondisi ini berpotensi menimbulkan ancaman terhadap stabilitas sistem keuangan dalam negeri.

Oleh karena itu, lanjutnya, Indonesia harus berhati-hati terhadap kemungkinan dinamika global yang berasal dari potensi tapering off tersebut. Dengan pondasi ekonomi yang terus diperkuat, dia berharap Indonesia bersiap dalam menghadapi kemungkinan dinamika global yang dapat melanda dalam waktu dekat.

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Popsiklus, Pemain Lama Bisnis Daur Ulang yang Makin Relevan