Polisi Klaim Belum Ada Bukti Aliran Dana Djoko Tjandra ke Petinggi Polri

Juru bicara Mabes Polri Awi Setiyono mengatakan, penyidik belum bisa menelusuri itu karena belum ada bukti permulaan yang cukup. Sehingga hal tersebut tidak terungkap saat proses penyidikan.

BERITA | NASIONAL

Senin, 09 Nov 2020 19:42 WIB

Author

Wahyu Setiawan

Polisi Klaim Belum Ada Bukti Aliran Dana Djoko Tjandra ke Petinggi Polri

Terpidana Cessie Bank Bali, Djoko Tjandra

KBR, Jakarta - Mabes Polri mengklaim belum ada bukti permulaan yang cukup soal dugaan aliran dana dari Djoko Tjandra ke petinggi Polri.

Dugaan itu mencuat dalam persidangan saat jaksa menyebut Napoleon Bonaparte meminta uang Rp7 miliar untuk dibagi ke petinggi Polri. Napoleon Bonaparte merupakan salah satu tersangka yang diduga menerima suap terkait red notice Djoko Tjandra.

Juru bicara Mabes Polri Awi Setiyono mengatakan, penyidik belum bisa menelusuri itu karena belum ada bukti permulaan yang cukup. Sehingga hal tersebut tidak terungkap saat proses penyidikan.

"Malah itu belum terungkap (di penyidikan), kalau terungkap berarti kan ada buktinya. Itu buktinya belum ada," kata Awi di Mabes Polri, Senin (9/11/2020).

Juru bicara Mabes Polri Awi Setiyono mengatakan, informasi adanya aliran dana ke petinggi Polri hanya pengakuan sepihak dari tersangka. Kata dia, penyidik tidak bisa menelusuri jika hanya berdasarkan pengakuan semata.

"Nah bisa saja ini alibi masing-masing, kita tidak tahu," ujarnya.

Ia melanjutkan, Polri tidak mau membahas terlalu jauh terkait hal ini. Ia menyerahkan pengakuan-pengakuan tersebut ke persidangan.

Sebelumnya dalam persidangan, Napoleon Bonaparte didakwa menerima suap sekitar Rp6,1 miliar. Sementara jenderal polisi lain, Prasetijo Utomo didakwa menerima suap sekitar Rp2,2 miliar.

Suap tersebut diberikan oleh Djoko Tjandra melalui Tommy Sumardi. Dua jenderal polisi itu disangka melanggar Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Editor: Ardhi Rosyadi

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Utang Negara Kian Meningkat

Kabar Baru Jam 7

Peran UMKM Pangan dalam Pemberdayaan Ekonomi Gambut

Kabar Baru Jam 8

Desakan Memberantas Intoleransi di Sekolah