Membaca Arah Kebijakan Gambut

Hilangnya cadangan karbon akibat kebakaran hutan dan konversi lahan membuat Indonesia menjadi salah satu sumber utama emisi karbon dunia.

BERITA | NASIONAL

Jumat, 06 Nov 2020 11:13 WIB

Author

KBR

Menanam bibit di lahan gambut

Menanam bibit di lahan gambut

Indonesia merupakan salah satu negara yang menyimpan cadangan karbon dunia terbesar melalui lahan gambut. Surga karbon lahan gambut Indonesia, hanya mampu ditandingi oleh hutan hujan di Amazon yang menyimpan 86 miliar ton karbon. Hilangnya cadangan karbon akibat kebakaran hutan dan konversi lahan membuat Indonesia menjadi salah satu sumber utama emisi karbon dunia. Karena itulah pemerintah berupaya merestorasi lahan gambut dengan membentuk Badan Restorasi Gambut. Apakah dibentuknya BRG menjadi titik balik membaiknya kondisi Gambut di Indonesia? Podcast Gambut Bakisah episode Membaca Arah Kebijakan Gambut, dengan narasumber Kepala Badan Restoran Gambut, Nazir Foead.

Aika: Halo, kita bertemu lagi di Podcast Gambut Bakisah, kerjasama KBR dengan Kemitraan. Saya Aika Renata.

Asrul: Dan saya Asrul Dwi. Di tengah kondisi Covid19 ini, kita bahas gambut tuh gimana sih hubungannya?

Aika: Wah. Justru sangat berhubungan. Organisasi Pangan Dunia (Food Agriculture Organization/FAO) memprediksikan pandemi Covid-19 bisa berdampak pada krisis pangan dunia, salah satunya Indonesia. Soalnya kegiatan logistik hingga proses impor terganggu akibat pandemi. Alhasil selain kebutuhan pangan berpotensi langka harganya juga bisa melonjak tajam.

Karena itu Presiden Jokowi lantas memerintahkan kementerian terkait untuk membuka lahan persawahan di lahan gambut. Lahan gambut ini ada di Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Sumatera Selatan (Sumsel). Kenapa? Untuk antisipasi krisis pangan ceritanya. Targetnya 900.000 hektare lahan persawahan baru akan muncul dari program itu.

Kata Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, tahun ini akan ada 600 hektar pembukaan sawah baru dari target 900.000 hektar yang dipatok Presiden Jokowi. Ini kata Jokowi akhir April lalu.

Joko Widodo:

“Dan laporan yang saya terima untuk stok beras defisit di 7 provinsi, stok jagung defisit di 11 provinsi, kemudian stok cabai besar defisit di 23 provinsi, stok cabai rawit defisit di 19 provinsi, stok bawang merah diperkirakan juga defisit di 1 provinsi, dan stok telur ayam defisit di 22 provinsi,” ujar Jokowi, dalam video conference, Selasa (28/04/2020).

Asrul: Kemarin kan Presiden Jokowi gencar bangun infrastruktur, kok tiba-tiba mau bangun sawah? Dan kenapa juga di lahan gambut? Ini seperti mengingatkan kita akan kebijakan saat Orde Baru nggak sih? Waktu itu, cetak sawah dijalankan dengan cara membuat kanal-kanal yang bertujuan membelah kubah gambut. Katanya Proyek lahan gambut satu juta hektar dicetuskan di pemerintahan Soeharto karena ambisi mencapai kembali posisi swasembada beras.

Aika: Iya sih, dulu pernah ada kebijakan itu. Banyak catatan buruk pula di sana. Misalnya,

pada pelaksanaan Proyek Lahan Gambut (PLG) sejuta hektare itu, kajian terkait pengolahan lahan gambut tidak maksimal dilakukan. Karena kanal dibangun untuk mengalirkan air ke lahan. Tapi di lahan gambut, proyek ini justru mengalirkan cadangan air dengan sangat cepat. Akhirnya, lahan gambut menjadi kering dan memicu kebakaran hutan.

Salah satu yang terparah adalah Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah.

Dengan kondisi itu, tidaklah heran jika kemudian Kabupaten Pulang Pisau, menjadi salah satu kabupaten yang paling parah terbakar di Kalteng setiap musim kemarau tiba.

Tapi persoalan utama kita adalah lahan sih. Karena yaaaa lahannya udah nggak ada!

Bayangin, lahan pertanian itu sudah dikonversi untuk pengembangan industri, juga infrastruktur dong. Lahan pertanian berkurang, artinya, hasil panen juga berkurang. Data Badan Pusat Statistik menyebut, antara 2018-2019, luas panen padi berkurang dari 11,4 juta hektar jadi 10,7 juta hektar. Akibatnya jumlah panen juga turun sebanyak 7,75 persen dibandingkan tahun 2018.

Asrul: Nah terus sekarang malah diulang lagi.. Lahan nggak ada, dan mau buka sawah di lahan gambut..

Aika: Itulah. Padahal gambut kan ya bukan tanah kosong, bisa dipakai siapa saja gitu lho. Gambut itu gantungan harapan kita. Gambut itu seperti spons. Saat musim hujan, hutan gambut menampung, menyerap dan menyimpan air. Sementara di musim kemarau, hutan gambut mengeluarkan air untuk keseimbangan ekosistem. Dan hutan gambut adalah hutan yang paling kaya dalam kandungan karbon. Lahan gambut itu bisa menyimpan 57 gigaton karbon. Dan ini 20 kali lipat karbon di tanah mineral biasa. Gambut itu menyimpan 30% karbon dunia.

Asrul: Ini berkaitan juga dengan perubahan iklim. Cadangan karbon yang ada di dalam tanah gambut, akan terlepas ke udara jika lahan gambut dikeringkan atau dialihfungsikan. Nah, begitu hutan rawa gambut itu dibuka, , maka karbondioksida di dalamnya, langsung keluar ke atmosfer. Artinya: ya itu, perubahan iklim deh.

Aika: Ini dia yang ngeri kan. Ketika Negara berencana membuka lahan gambut, lantas mengalihfungsikannya sebagai sawah. Betul, kita ada ancaman krisis pangan, tapi membuka lahan gambut jadi kayak membuka kotak Pandora juga kan…

Asrul: Saya sempat wawancara Kepala Badan Restorasi Gambut, Nazir Foead, jauh sebelum pandemi Covid 19 muncul ya. Tapi dulu maupun sekarang, sebetulnya tetap menekankan pentingnya fungsi gambut bagi Indonesia.

Soal BRG, sempat ada rame-rame juga nih. Masa kerja BRG ini semula berakhir Desember 2020. Lantas Presiden Joko Widodo rencananya akan merevisi aturan sebagai dasar untuk memperpanjang masa kerja Badan Restorasi Gambut.

Kepala Badan Restorasi Gambut Nazir Foead minta program restorasi gambut tetap menjadi fokus presiden.

Nazir Foead:

Ya jadi dari perintah presiden kita untuk restorasi gambut seluas 2 juta hektar, itu tentu satu kita artikan restorasi dari sisi hidrologis. Karena kata restorasi sendiri dalam bahasa ilmu ekologi gitu ya itu artinya dikembalikan ke kondisi awal.

Jadi lima tahun kemarin kita banyak kerja dengan mode emergency. Harus short term intervention, jangka pendek dulu. sembari membangun konsep kalau bahasa presiden, solusi permanen. dan itu tentu sudah kausal di tes. Nah ke depannya tentu kita berharap tetap ada badan yang diberikan wewenang oleh Presiden untuk mengkoordinasikan kegiatan restorasi gambut. Karena ini menurut saya salah satu legacy-nya Pak Jokowi.

Di Indonesia apalagi di dunia ya, di dunia bahkan lebih besar apresiasi karena tidak ada negara lain yang memiliki satu lembaga eksekutif yang diberi tugas untuk melakukan restorasi gambut. dan gambut semakin dikenal penting karena dia menyimpan karbon berkali-kali lipat dibanding hutan tropis

Asr: Tuh, sampai disebut sebagai legacy-nya Jokowi lho ini. Soalnya peran hutan gambut memang sangat penting.

Nazir Foead:

Hutan tropis itu kalah bisa 10 kali lipat carbon dengan lahan gambut tropis atau hutan Rawa gambut tropis. Karena gambut di dalamnya 30 meter, itu Indonesia tropis. Jadi karbonnya tidak banyak. Kepentingan dunia untuk agar gambut, karbon dijaga, tidak lepas ke atmosfer untuk perubahan iklim, itu sangat sangat besar kepentingan dunia. makanya dunia memberikan apresiasi yang besar kepada Presiden Jokowi. Indonesia satu-satunya negara. dan ini legacy baik di nasional maupu internasional. kita berharap memang badan seperti ini tetap Diteruskan oleh Pak Jokowi. Dan setelah 10 tahun nanti ada hasil yang jauh lebih konkrit daripada hanya sekitar 4 tahun

Aika: Sayangnya ancaman terhadap gambut ini nggak habis-habis ya. Sekarang, kita terancam menghadapi krisis pangan karena pandemi Covid 19. Sebelumnya, tantangan juga sudah banyak. Mulai dari ekspansi lahan sawit, juga kebakaran hutan dan lahan.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim kemarau tahun ini akan dimulai pada bulan Mei. Puncak kemarau diperkirakan pada Agustus 2020.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga sudah meluncurkan Pelaksanaan Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan mulai 11 Mei 2020 untuk wilayah Riau, Jambi dan Sumatera Selatan. Ini untuk antisipasi musim kemarau, supaya gambut tidak kering dan mudah terbakar.

Asrul: Itulah kenapa peran Badan Restorasi Gambut menjadi sangat krusial. Data KLHK menyebut, Mulai Januari hingga 31 Maret 2020, total luas lahan gambut yang terbakar di seluruh provinsi di Indonesia mencapai 4 ribu hektar lebih.

Aika: Salah satu fungsi penting dari Badan Restorasi Gambut terlihat dari namanya yaitu restorasi. Apa sih sebetulnya yang dilakukan dengan restorasi ini?

Asrul: Restorasi itu bertujuan untuk mengembalikan fungsi ekologi lahan gambut dan sejahterakan masyarakat. Upaya restorasi gambut dilakukan melalui tiga pendekatan, yaitu pembasahan, penanaman ulang, dan meravitalisasi sumber mata pencaharian masyarakat setempat. Nah, suatu restorasi akan dianggap berhasil jika…

Nazir Foead:

Kalau secara teknis pertama tentu kebasahan gambutnya meningkat. Jadi kalau tidak diintervensi, pada musim kemarau gambutnya akan sekering. Misal air turun 2 meter air tanah turun, karena diintervensi turun masih 1,1. berarti kita untung 90 cm kan, kalau mau dihitung untung rugi begitu ya. walaupun belum ideal, idealnya 40 senti. untuk sampai ke sana memang butuh waktu. Kalau para pakar mengatakan, kalau air gambut itu bisa di bawah 40 centi secara rata-rata karena tipe gambut

Ya tentu sulit ya kalau gambut harus kembali ke kondisi awal dengan hutannya dalam kurun 5 tahun. jadi kita interpretasikan, kita artikan itu dikembalikan tata air nya. Nah untuk mengembalikan Tata air gambut itu kita harus mencoba menghentikan kegiatan pengeringan. kegiatan pengeringan gambut memang sudah kadung terlanjur dilakukan dengan berbagai kepentingan. umumnya sih dikeringkan untuk dijadikan lahan budidaya pertanian, perkebunan, dan kehutanan. jadi saluran pengeringnya tutup

Aika: Tapi kalau memang lahan gambut mau dipakai untuk sawah sebagai salah satu upaya meningkatkan produksi pangan, bukannya lebih rumit ya? Ini karena gambut termasuk lahan yang kekurangan mineral, jadi unsur haranya sedikit. Lebih banyak karbon. Nah, jika ingin tumbuhan berkembang baik tentu harus ada unsur hara semacam magnesium, kalsium, potasium dan seterusnya.

Apakah dilakukan pemilihan vegetasi yang rusak melalui kegiatan penanaman dan pemeliharaan?

Nazir Foead:

Kita akan lakukan itu walaupun itu komponen kecil karena sebetulnya di dalam perpres Nomor 1 tahun 2016 itu Perpres nya BRG, perintah presiden situ. kegiatan revegetasi tidak masuk tapi tetap kita lakukan sebagai model percontohan. karena kalau gambutnya dibasahi tapi tidak ada tutupan vegetasi, musim kemarau penguapan kan kencang nih, airnya Cepat turun. nah idealnya ada tutupan vegetasi. jadi itu hanya model-model kita lakukan, dan mencari model terbaik mencari jenis terbaik yang tumbuh cocok dengan gambut. tapi tungguin juga cepat, tidak mudah mati muda, kemudian juga menghitung berapa sih betul betul air muka tanah itu bisa bertahan kalau ada tutupan vegetasi. sementara pohon-pohon gambut tumbuhya lama. nggak bisa 1-2 tahun sudah Rindang.

Gambut termasuk lahan yang kekurangan mineral ya. jadi unsur haranya sedikit, banyaknya karbon. Jadi harus ditambah atau hanya nunggu air hujan. air hujan membawa mineral, ya nggak banyak. akhirnya pohonnya tumbuh itu nggak bisa tumbuh cepat. efek sampai meneduhi. tapi harus kita lakukan untuk memberikan contoh.

Asrul: Memang, merestorasi lahan gambut bukanlah hal yang bisa dilakukan dalam waktu singkat. Kondisinya yang sudah amat rusak. Sebagai salah satu surga penyimpanan karbon dunia lahan Gambut di Indonesia mulai krisis akibat konversi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit dan industri kertas. Sekitar setengah lahan gambut Indonesia telah terdegradasi sehingga mengakibatkan tingkat kebakaran tahunan yang menyebabkan kerugian ekonomi sebesar Rp200 milyar lebih hingga akhir tahun 2015. Selain karena kebakaran lahan, berbagai kebijakan pemerintah daerah juga menjadi salah satu penyebabnya.

Nazir Foead:

Satu, kita harus mengakui keterlanjuran gambut yang sudah rusak karena dikeringkan. Kerusakan ada juga terjadi karena memang usaha yang sah, ada izin dikeluarkan entah oleh bupati atau gubernur atau oleh menteri sampai tahun berapa begitu. Sehingga orang punya izin mengusahakan, mengeringkan. orang sudah berupaya, sial juga dia kebakaran, habis juga tanamannya kan. Tapi di sisi lain kita minta dibasahi, pembasahan efeknya tuh bisa membuat tanaman tumbuhnya lebih pelan. Dia tumbuh di area produktivitas buahnya kalau dia dalam bisnis jual buah akan turun. tentu itu tidak mudah. jadi ada di satu sisi membasahi agar tidak hujan, di sisi lain kalau terlalu basah nanti tanaman yang mati. jadi kan harus dicari titik temu yang pas ya.

Saya bisa katakan ilmu restorasi gambut ilmu baru. Data yang ada juga terbatas. sembari kita kerja, kita harus bersama para pakar, para peneliti, ahli pemetaan dari di BIG. Banyak orang geospasial, lembaga penelitian tanah atau sekarang disebutnya BPSDLP di bawah Kementan, dan KLHK itu,

Asr: Balai Penelitian Sumber daya Lahan Pertanian (BPSDLP) yang bertugas melakukan penelitian dan pengembangan sumberdaya lahan pertanian.

Nazir Foead:

BPSDLP di bawah Kementan dan KLHK itu bersama-sama untuk memutakhikan peta-peta gambut kita. Berapa kedalamannya, berapa kelerengan dan topografinya, karena berubah. gambut ini dia hidup kan. Maksudnya tahun ini dia bisa tingginya sekian, tahun depan dia bisa turun karena pengeringan yang terlalu banyak dan seterusnya. Jadi data tetap harus dimutakhirkan dan banyak data lama.

Ekosistem gambut luas. ada yang 50 ribu hektar, ada yang 500 ribu hektar. Dan keterkaitan airnya kan tinggi sekali, dari ujung utara ke ujung selatan gitu. Jadi kerjanya harus menyeluruh, terintegrasi 1 areal. dan itu bisa lintas 2 Provinsi, lintas 5 Kabupaten, lintas berbagai macam sektoral. mulai dari tambang, pertanian, kehutanan, kemendagri begitu ya, PU. Sehingga menyatukan program pemerintah dari desa sampai ke pusat berbagai sektor, agar lahan 600 ribu gambut ini dapat terkelola dengan baik, secara ekonomi secara ekologi, itu juga bukan tugas yang cepat bisa dilakukan. jadi harus pelan-pelan. Dan cobanya mungkin Coba dulu sekian ribu hektar. Kalau oke baru tambah sekian. enggak bisa tambah Coba langsung 500 ribu hektar. Jadi butuh upaya yang tidak boleh setengah-setengah, tapi kecepatan kita bekerja harus di-adjust setiap tahun. ini yang kedua.

Aika: Ini persoalan kita banget ya. Data. Mulai dari soal bansos, pemilih Pemilu sampai ini - data untuk peta gambut kita. Padahal tanpa data yang akurat dan update, ya tentu susah pemerintah pusat maupun daerah bikin kebijakan. Ujung-ujungnya, ambyar semuanya…

Asr: Nah itulah. Intinya kerja-kerja restorasi kedepan masih memerlukan banyak pembenahan. Termasuk soal rencana pemerintah yang akan mencetak sawah di lahan gambut. Jangan sampai mengulang sejarah kelam yang justru merugikan Indonesia.

Podcast Gambut Bakisah akan balik lagi dengan episode lain yang membuat kita lebih paham soal pentingnya gambut. Masukan atau saran, ditunggu ya. Silakan email ke podcast@kbrprime.id Sampai ketemu lagi!

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Utang Negara Kian Meningkat

Kabar Baru Jam 7

Peran UMKM Pangan dalam Pemberdayaan Ekonomi Gambut

Kabar Baru Jam 8

Desakan Memberantas Intoleransi di Sekolah