Kerumunan Massa, Picu Peningkatan Kasus Covid-19

Pemerintah semestinya terus meningkatkan angka tes Covid-19 meskipun angka kasus mengalami penurunan.

BERITA | NASIONAL

Selasa, 10 Nov 2020 17:53 WIB

Author

Heru Haetami

Kerumunan Massa, Picu Peningkatan Kasus Covid-19

Massa dari berbagai daerah memadati akses tol menuju bandara Soekarno Hatta untuk menjemput Rizieq Shihab, Selasa (10/11/2020). (Foto: Antara/Muhammad Iqbal)


KBR, Jakarta- Epidemiolog Universitas Indonesia Pandu Riono menilai upaya Tracing, Testing, Treatment (3T) untuk mendeteksi seseorang terkena virus Covid-19 di Indonesia masih terbatas.

Pandu mengatakan, tren penularan virus juga masih cukup tinggi. Menurut Pandu, pemerintah semestinya terus meningkatkan angka tes Covid-19 meskipun angka kasus mengalami penurunan.

"Kalau upaya (meningkatkan 3T) masih terbatas. Testing saja masih jauh, kapasitas testing kita masih jauh dari cukup. Kita melihat trennya kan masih belum membaik lah. Tren dari pada penularan masih meningkat. Nanti kalau menurun, testingnya gak boleh menurun. Testingnya harus terus meningkat. Kalau tren penurunan kasusnya karena penurunan testing ya itu artinya belum ada penurunan penularan," kata Pandu kepada KBR, Selasa (10/11/2020).

Pandu Riono menambahkan, selain test yang masih rendah, pelacakan juga masih belum optimal. Ia juga menyarankan pelayanan isolasi sebaiknya dilakukan di tempat khusus seperti RS Darurat Covid-19 di Wisma Atlet Kemayoran Jakarta.

"Isolasi mandiri sebaiknya dilarang. Disiapkan tempat-tempat isolasi seperti Wisma Atlet dan sebagainya," ujar Pandu

Sejalan dengan Pandu, Ahli Epidemiologi Universitas Griffith Australia Dicky Budiman menyatakan, sejumlah kerumunan yang terjadi beberapa waktu terakhir seperti liburan panjang, demonstrasi, dan kerumunan massa lainnya ditambah upaya 3T yang belum maksimal hanya akan memicu lonjakan kasus baru.

"Tidak terlihat di kasus ini, ya karena masalahnya adalah rendahnya testing. Ini bukan hal yang berarti aman, tidak. Ketika ini terjadi kombinasi ya antara banyaknya keramaian massa yang terjadi ditambah dengan intervensi testing, tracing yang tidak optimal, atau rendah. Ini adalah kombinasi sempurna untuk terjadinya ledakan kasus yang tinggi," kata Dicky kepada KBR.

Seperti diketahui, dalam satu bulan terakhir kerumunan di tengah pandemi masih terjadi. Kerumunan masa bisa dilihat dari aksi demonstrasi tolak UU Cipta Kerja, libur panjang akhir pekan Oktober lalu, dan terbaru kerumunan massa dalam prosesi penyambutan pimpinan ormas islam, Rizieq Shihab saat kepulangannya dari Arab Saudi, Selasa (10/11/2020).

Editor: Friska Kalia

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Inggris Perpendek Masa Karantina Turis Asing

Menggunakan Sains Data untuk Atasi Kemacetan di Jakarta

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Beda Nasib Serapan Insentif Usaha di Progam Pemulihan Ekonomi Nasional