Banyak Kesenjangan Gender, Mendes akan Bangun Desa Ramah Perempuan

Pembangunan Desa Ramah Perempuan akan tercantum dalam program Sustainable Development Goals (SDGs). Kata dia, ada beberapa kebijakan yang perlu dibuat untuk mendukung rencana itu.

BERITA | NASIONAL

Rabu, 11 Nov 2020 20:58 WIB

Author

Wahyu Setiawan

Banyak Kesenjangan Gender, Mendes akan Bangun Desa Ramah Perempuan

Mendes PDTT Abdul Halim Iskandar

KBR, Jakarta - Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Abdul Halim Iskandar ingin membangun Desa Ramah Perempuan di Indonesia.

Itu dilakukan karena di beberapa desa saat ini dinilai masih banyak kesenjangan pekerjaan antara perempuan dan laki-laki, minimnya kebijakan yang memihak perempuan, serta maraknya pemerkosaan.

Ia mengatakan, pembangunan Desa Ramah Perempuan akan tercantum dalam program Sustainable Development Goals (SDGs). Kata dia, ada beberapa kebijakan yang perlu dibuat untuk mendukung rencana itu.

"Untuk itu maka dibutuhkan kebijakan yang memihak perempuan. Ketidaksetaraan gender yang masih terjadi lebih bersifat struktural, sehingga membutuhkan kebijakan yang memihak perempuan. Arah kebijakannya yakni meningkatkan partisipasi perempuan, melindungi perempuan dalam ranah domestik, dan meningkatkan akses perempuan dalam ranah publik," kata dia dalam konferensi pers daring, Rabu (11/11/2020).

Abdul Halim menjelaskan, untuk mendukung kebijakan desa yang responsif gender, tiap kepala desa harus menyusun peraturan tentang pemberdayaan perempuan minimal 30 persen.

Selain itu, pemerintah desa juga harus membuat program pemberdayaan perempuan, memberi bantuan modal usaha, hingga pelatihan wirausaha.

Kata dia, arahan tersebut sudah disampaikan ke semua kepada kepala desa. Realisasi kebijakan tersebut akan dimasukkan dalam rencana anggaran dana desa tahun 2021.

Hingga saat ini, sedikitnya ada 43 contoh Desa Ramah Perempuan. Ia menargetkan akan lebih banyak lagi terbentuk di tahun mendatang. Kementerian Desa akan mengawasi pembentukan Desa Ramah Perempuan tersebut.


Editor: Ardhi Rosyadi

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Utang Negara Kian Meningkat

Kabar Baru Jam 7

Peran UMKM Pangan dalam Pemberdayaan Ekonomi Gambut

Kabar Baru Jam 8

Desakan Memberantas Intoleransi di Sekolah