Kemenaker: Era 4.0 Akan Ada Pekerjaan Hilang, Tapi Jangan Pesimis

Menurut prediksi Bank Dunia, berbagai pekerjaan yang bersifat rutin, mudah terprediksi, memiliki prosedur baku, serta mengandalkan database bakal digantikan oleh robot.

BERITA | NASIONAL

Kamis, 14 Nov 2019 19:43 WIB

Author

Adi Ahdiat

Kemenaker: Era 4.0 Akan Ada Pekerjaan Hilang, Tapi Jangan Pesimis

Ilustrasi: Buruh industri garmen. (Foto: www.setkab.go.id)

KBR, Jakarta- Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) meminta masyarakat tidak pesimistis menghadapi era industri 4.0.

"Era industri 4.0 akan ada konsekuensi pekerjaan hilang, namun kita jangan pesimis," kata Sekjen Kemenaker Khairul Anwar, seperti dilansir Antara, Kamis (14/11/2019).

Menurut Khairul, era industri 4.0 akan memunculkan tren otomatisasi pada sejumlah sektor pekerjaan. Namun, menurut dia sektor pekerjaan lain akan terus tumbuh.

"Kita harus mengantisipasi perubahan-perubahan itu sehingga memberikan pelayanan kepada masyarakat," kata Khairul.

Khairul menyebut pemerintah bertugas mengkaji pekerjaan-pekerjaan yang bakal hilang, serta bidang pekerjaan baru yang akan tumbuh.

Ia jmenyebut pemerintah akan menyiapkan lembaga pelatihan untuk meningkatkan kompetensi pekerja.


Baca Juga:


"Ramalan" Bank Dunia dan WEF

Pernyataan Kemenaker tentang era industri 4.0 sejalan dengan "ramalan" Bank Dunia dan World Economic Forum (WEF).

Menurut prediksi Bank Dunia dalam laporan The Changing Nature of Work (2019), berbagai pekerjaan yang bersifat rutin, mudah terprediksi, memiliki prosedur baku, serta mengandalkan database bakal digantikan robot.

Bank Dunia juga menyebut, di tahun-tahun mendatang akan muncul berbagai jenis pekerjaan baru yang terkait dengan teknologi 4.0.

Berbagai pekerjaan baru itu akan membutuhkan keahlian seperti penguasaan teknologi digital, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, problem-solving, kolaborasi, serta kemampuan empati.

Hal serupa disampaikan WEF dalam laporan The Future of Jobs Report (2018).

Menurut laporan WEF, sekitar 88 persen industri di Indonesia berencana menerapkan otomatisasi dalam berbagai bidang kerjanya.

Di satu sisi, otomatisasi berpeluang membuka berbagai model bisnis dan lapangan kerja baru. Tapi di sisi lain, hal itu juga berpotensi meminggirkan pekerja-pekerja berkeahlian rendah.

Untuk mengantisipasi dampak negatif tersebut, WEF menganjurkan negara-negara dan perusahaan supaya berinvestasi serius dalam pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM).

Menurut laporan WEF, sekurang-kurangnya mulai tahun 2022, industri di Indonesia akan banyak membutuhkan:

  • software developer;
  • apps developer;
  • analis data;
  • manajer operasional;
  • sales representatives;
  • analis keuangan;
  • human resources specialist;
  • teknisi dan insinyur bidang robotika.

Editor: Sindu Dharmawan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Mahkamah Agung Tuai Protes Usai Mengobral Pengurangan Hukuman Koruptor