Tingkat Kelulusan CPNS Rendah, JK Salahkan Kesenjangan Pendidikan

Wakil Presiden Jusuf Kalla menganggap kesenjangan pendidikan antara Pulau Jawa dan luar Jawa menjadi penyebab lebih dari 90 persen pelamar CPNS tak lolos seleksi kompetensi dasar.

BERITA , NASIONAL

Kamis, 15 Nov 2018 19:45 WIB

Author

Dian Kurniati

Tingkat Kelulusan CPNS Rendah, JK Salahkan Kesenjangan Pendidikan

Ilustrasi: Seleksi CPNS. (Foto: ANTARA)

KBR, Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla menganggap kesenjangan pendidikan antara Pulau Jawa dan luar Jawa menjadi penyebab lebih dari 90 persen pelamar CPNS gugur dalam seleksi kompetensi dasar.

Menurut JK, peserta yang lolos tahapan seleksi kompetensi dasar bahkan hanya separuh dari formasi yang tersedia yakni sebanyak 238 ribu. Padahal idealnya, pelamar yang lolos pada tahapan itu setara tiga kali formasi yang tersedia.

"Saya baru menerima laporan dari Menteri PAN tadi pagi, tentang hasil ujian masuk PNS. Yang bisa lulus hanya 8 persen. 8 persen itu, kurang lebih 100 ribu, padahal yang dibutuhkan 200 ribu," kata Jusuf Kalla di Hotel Ritz Carlton Jakarta, Kamis (15/11/2018).

"Sangat terjadi perbedaan-perbedaan antara yang terbaik, dan yang di belakang. Itu artinya tingkat pendidikan kita mengalami gap yang sangat besar, antara Jawa dan luar Jawa," sambung Kalla.

JK mengatakan, pemerintah masih memikirkan solusi rendahnya pelamar CPNS yang lolos seleksi kompetensi dasar dan akan mengikuti seleksi bidang. Namun sebagai solusi jangka panjang, menurutnya kesenjangan kualitas pendidikan antarpulau tersebut juga harus dikurangi.

Ia pun mengklaim pemerintah sudah berusaha menyetarakan kualitas pendidikan di seluruh wilayah. Meski begitu, ia mengakui tugas menghilangkan kesenjangan tersebut adalah pekerjaan panjang dan sulit. Ia berkata, negara bertanggung jawab memberikan pendidikan yang berkualitas agar diperoleh sumber daya manusia yang mampu bersaing pada masa datang, tidak hanya dalam seleksi CPNS.

Baca juga:




Editor: Nurika Manan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Pengelolaan Sisa Anggaran Lebih Kembali Disorot