Share This

Kandidat Capres Saling Sindir, JK Sebut Ini Kampanye Negatif

You salah kita ungkap, you punya kesalahan. Karena itu, jangan berbuat salah. Salah bicara, salah bertindak,"

BERITA , NASIONAL

Selasa, 13 Nov 2018 23:51 WIB

Kandidat Capres Saling Sindir, JK Sebut Ini Kampanye Negatif

Wakil Prsiden Jusuf Kalla.

KBR, Jakarta- Wakil Presiden Jusuf Kalla menyebut aksi saling sindir yang dilakukan kandidat calon presiden sebagai bentuk kampanye negatif. Menurut dia, kedua kubu saling mengungkap kelemahan lawannya. Kalla menilai, jelang Pilpres 2019 , kampanye negatif memang sulit dihindari.

"Itu yang sering saling buka itu kampanye negatif namanya. You salah kita ungkap, you punya kesalahan. Karena itu, jangan berbuat salah. Salah bicara, salah bertindak," kata Kalla di Jakarta, Selasa(13/11).

Kendati saling sindir, Jusuf Kalla yang juga anggota Dewan Pengarah Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf Amin itu menilai situasi saat ini masih kondusif. Dia tidak mempermasalahkan komunikasi politik kandidat yang hingga saat ini belum menyentuh program. Menurut dia, pada saatnya masing-masing kandidat akan menjelaskan program unggulan mereka.

"Masih lima bulan. Biasanya itu visi nanti pada debat-debat di televisi."

Cara kampanye kubu Jokowi maupun Prabowo dikritik keluar dari substansi program yang ditawarkan. Sebelumnya, Jokowi dan Prabowo saling sindir dengan melempar jargon politikus sontoloyo, politikus genderuwo, dan tampang Boyolali. 


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.