Share This

Gubernur Jatim Akui Penanganan Pengungsi Syiah Sampang Mandek

Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengakui penanganan pengungsi Syiah Sampang, mandek.

BERITA , NASIONAL

Kamis, 08 Nov 2018 15:36 WIB

Pengungsi Syiah Sampang di Rusun Sidoarjo. (Foto: ANTARA/ Umarul F)

KBR, Surabaya - Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengakui penanganan pengungsi Syiah Sampang, mandek. Ia berdalih tak bisa mengupayakan nasib para jemaat Syiah itu untuk kembali ke kampung halaman, lantaran warga Sampang hingga kini berkeras menolak.

"Yawis, mandek seperti itu, karena di sana nggak ada yang mau menerima," kata Soekarwo di kantor DPRD Jawa Timur pada Kamis (8/11/2018).

Sekitar lima tahun silam, warga Syiah terusir dari desa mereka di Sampang, Madura, Jawa Timur. Kini sedikitnya 300an orang itu tinggal di rumah susun Puspa Agro di Desa Jemundo, Sidoarjo.

Soekarwo mengklaim, Pemprov Jatim sudah menyodorkan beberapa solusi. Salah satunya pernah menawarkan ke para pengungsi Syiah untuk pindah ke Kecamatan Driyorejo, Gresik. Pilihan itu kata dia sudah diikuti dengan kebijakan Pemprov Jatim menyewakan rumah bagi warga Syiah.

"Tetapi yang tujuh kelompok itu tidak mau. Sudah pernah kami tawar sejak setahun lalu," tambahnya.

Sementara di sisi lain menurut Soekarwo, Pemprov Jatim tidak mungkin mengembalikan para pengungsi ke kampung halaman. Pasalnya, sebagian warga masih menolak sehingga jika dipaksakan, ia khawatir bakal memicu konflik yang berujung ke tindakan kekerasan. 

"Permasalahan ini tidak kekhasan Syiah, Probolem kultural, kekhasan Sampang juga," tandas Soekarwo.

Kelompok Syiah diusir dari kampung halaman mereka di Kabupaten Sampang. Sebelum menempati rusun Jemundo pada 2013, mereka sempat diungsikan ke Gelanggang Olahraga di Sampang. Hingga kini warga Syiah masih terkatung dan belum bisa kembali lantaran sebagian penduduk sekitar menolak kehadiran  mereka.

Baca juga:




Editor: Nurika Manan
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.