Pahami Tanda Bahaya Kehamilan Sejak Dini

KBR, Jakarta - Kementerian Kesehatan menyatakan sekitar 50 persen ibu tidak menyadari tanda bahaya dalam kehamilannya. Direktur Bina Kesehatan Ibu Kemenkes, Gita Maya mengatakan ini lantaran banyak ibu yang tidak mau memeriksakan kehamilannya sejak awal.

NASIONAL

Selasa, 25 Nov 2014 14:34 WIB

Author

Aisyah Khairunnisa

Pahami Tanda Bahaya Kehamilan Sejak Dini

kehamilan, kementerian kesehatan

KBR, Jakarta - Kementerian Kesehatan menyatakan sekitar 50 persen ibu tidak menyadari tanda bahaya dalam kehamilannya. Direktur Bina Kesehatan Ibu Kemenkes, Gita Maya mengatakan ini lantaran banyak ibu yang tidak mau memeriksakan kehamilannya sejak awal.

Kata Gita, masih banyak masyarakat yang menganggap kehamilan wajar terjadi pada wanita sehingga tidak perlu memeriksa. Padahal tanda bahaya, seperti kondisi fisik sang ibu yang lemah bisa mengancam proses bersalin.

"Misalnya dari awal apakah ibu itu tinggi badannya tidak proporsional sehingga tidak bisa melahirkan secara normal. Atau ibu itu punya darah tinggi, punya gejala anemia, sehingga kita bisa cegah dari awal agar ketika ibu itu melahirkan bisa melahirkan dengan selamat. Misalnya dengan pemeriksaan rutin tahu-tahu diketahui jalan lahirnya ketutup oleh plasenta. Itu tidak bisa melahirkan normal. Jadi itu yan penting kenapa ibu wajib memeriksakan kehamilan," kata Gita, Selasa (25/11).

Gita menambahkan, pemeriksaan saat hamil sedianya dilakukan minimal empat kali sejak awal kehamilan. Satu kali pada trimester pertama (0-12 minggu). Satu kali pada trimester kedua (12-24 minggu) dan dua kali pada trimester ketiga (24-40 minggu).

Nila mengatakan ibu juga harus memiliki dan membaca buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Dengan buku berwarna pink ini diharapkan para ibu bisa mendeteksi dan mencegah bahaya yang dialami saat kehamilan.

Nila menekankan ini adalah cara perempuan untuk bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan keluarganya.

"Saya tidak mengatakan perempuan harus sekolah sampai pandai. Tapi cukup berpengetahuan. Dan dia harus bertanggung jawab. Artinya dia harus bisa menjaga dirinya sendiri dan dia tahu  bagaimana merencakan keluarganya. Karena perempuan adalah pengubah perilaku dalam keluarga. Agen perubahan adalah kaum ibu," kata Nila.

Editor: Pebriansyah Ariefana

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Pilkada Serentak Diwarnai Calon Tunggal