Nurhayati Mendobrak Tradisi Perempuan Pesisir

Saya mau kalau ada musyawarah atau pertemuan di desa, perempuan diberi kesempatan untuk berbicara. Misalnya ada laki-laki, saya mau perempuan dulu yang bicara. Laki-laki hanya mendengarkan. Dia tidak boleh mengggugat apa yang disampaikan perempuan

NASIONAL

Senin, 03 Nov 2014 11:51 WIB

Author

Antonius Eko

Nurhayati Mendobrak Tradisi Perempuan Pesisir

nurhayati, oxfam, sulawesi selatan

Siang itu belasan perempuan tengah berkumpul di balai desa Pitusungu, Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan. Mereka sibuk menyusun kursi dan buku tamu untuk acara sosialisi dengan dinas perikanan setempat. 


Yang paling terlihat sibuk adalah Nurhayati, sang kepala desa. Dia menjadi sorotan karena berani mengubah anggapan bahwa perempuan hanya berdiam di rumah, mengurusi rumah tangga dan anak. Dialah yang menggerakkan perempuan untuk ikut berperan menopang kehidupan keluarga. 


Perubahan sosial mulai dilakukannya saat Nurhayati menjadi kepala desa pada 2007. Dia mengajak ibu-ibu untuk bekerja. Perempuan kelahiran Maret 1972 itu mau di Pitusungu  ada perubahan, awalnya di tingkat keluarga, kemudian meluas ke masyarakat. 


“Selama ini perempuan merasa tertekan, kalau lagi bicara terus dibantah laki-laki. Mereka jadi pikir, apakah saya salah?  Kesempatan perempuan untuk berbicara sangat kecil sekali. Kalau ada kegiatan mereka hanya urusan seksi konsumsi,” katanya. 


“Saya mau kalau ada musyawarah  atau pertemuan di desa, perempuan diberi kesempatan untuk berbicara. Misalnya ada laki-laki, saya mau perempuan dulu yang bicara. Laki-laki hanya mendengarkan. Dia tidak boleh menggugat apa yang disampaikan perempuan.” 


Pesan Ibu 


Nurhayati datang ke ke Pitusungu pada 1987. Ayahnya asli orang Sulsel, tapi keluarga itu lama menetap di Jayapura, Papua. Saat sang anak memutuskan pulang kampung, ibunya sempat khawatir Nurhayati tak bisa sekolah, karena dulu para orangtua di Pitusungu tak mengizinkan anak perempuan sekolah. 


“Saya dulu dikasih tahu untuk tidak sekolah. ‘Buat apa sekolah tinggi-tinggi’ begitu mereka bilang. Jangankan sekolah, pakai celana panjang katanya tidak bagus. Saya datang dengan apa yang saya lihat di Jayapura dan selalu ingat dengan pesan mama. Dia selalu bilang perempuan jangan banyak mengeluh, karena tidak menyelesaikan masalah,” kenangnya. 


Di matanya, sang ibu adalah sosok yang kuat. Dialah yang mencari biaya sekolah untuk Nurhayati dan dua saudaranya. Ibunya harus bangun pagi untuk membuat kue dan diantar ke toko-toko. Anak pertamanya terpaksa dikawinkan saat usianya masih muda, demi adik-adiknya tetap bisa sekolah tinggi. 


Memberdayakan perempuan 


Saat Nurhayati tiba di Pitusungu kondisi desa masih sangat terbelakang. Untuk ke sekolah saja harus melewati jalan berlumpur. Namun menurutnya, desa ini punya potensi untuk maju, tapi belum ada yang memikirkannya. 


Setelah jadi sarjana, semangat Nurhayati memajukan desanya makin besar. Namun saat dia mulai mengajak kaum perempuan untuk bangkit, banyak yang menanggapinya dengan sinis. Bahkan menudingnya terlalu bebas bergaul. 


“Saya bilang ‘yang terlalu bebas itu yang mana? Kalau bebas bicara kan tidak masalah’. Itu yang menurut mereka tidak boleh. Bicara itu harus pelan-pelan.” 


Penolakan paling keras datang dari kaum pria. Dulu banyak bapak yang melarang istrinya ikut penyuluhan KB. Ada bapak yang bilang ‘ini ternyata orangnya yang ngajak-ngajak istri saya. Bawa penyakit untuk anak saya’ sambil membanting pintu.


Hurhayati tak mau menyerah. Sedikit demi sedikit mulai ada kaum perempuan yang hadir di sosialisasi KB, terlibat dalam usaha rumahan, seperti membuat kue kering, dan aneka kegiatan lain yang bisa menambah penghasilan untuk keluarga. 


“Saya mau perempuan berbuat yang sama dengan laki-laki. Tapi bukan berarti kita mau melawan laki-laki. Saya cuma mau perempuan berani mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran mereka, misalnya tentang pembangunan di desa ini.” 


Pada 2010, perjuangan Nurhayati mendapat amunisi baru dengan hadirnya Oxfam, sebuah lembaga bantuan internasional yang bekerja untuk menghapuskan kemiskinan di hampir 100 negara. 


Mereka mulai belajar mengolah tambak, memanfaatkan pekarangan. Oxfam juga mendorong para perempuan untuk  untuk berani bicara di depan umum. 


Hampir Menyerah


Gara-gara urusan jalan, Nurhayati hampir patah semangat. Dia ingin memperbaiki jalan yang panjangnya 770 meter. Untuk memulai usahanya itu, dia harus mengumpulkan tandatangan warga. Ini diperlukan agar pengurus desa bisa mencari bantuan dana. 


Ada satu orang yang sangat keras menolak rencana ini. Dia tak yakin ini bisa dilaksanakan. Nurhayati dianggap terlalu percaya diri. 


“Saya datangani lagi rumah orang tua itu. Dia masih menolak, sambil bilang ‘potong tangan saya, kalau jalan ini ternyata bisa diperbaiki’. 


“Saya bilang kasihan ibu-ibu mau ambil air saja harus berbecek-becek. Akhirnya dukungan dari perempuan mulai banyak. Sebelas bulan saya urus perbaikan jalan ini sampai selesai,” kenang Nurhayati. 


Di saat Nurhayati berjuang memajukan kaum perempuan, suami terus mendukungnya dan rela berbagi peran dalam urusan rumah tangga. 


“Mereka mungkin kaget melihat saya sibuk, sementara suami jaga anak. Tapi sebelum berangkat saya selalu memasak, mencuci. Tapi memang jaga anak itu susah sekali. Ada yang bilang suami saya terlalu tunduk pada istri. Padahal saya selalu tanya ke suami apa bisa bantu saya untuk jaga anak. Suami tak keberatan.” 


Wakil Rakyat


Sekarang perempuan di Pitusungu  semuanya sekolah, bahkan sudah ada yang kuliah. Jadi bidan dan sebagainya. Atas semua prestasinya ini, Nurhayati sudah dua kali menjadi kepala desa, sejak 2007 hingga sekarang. Bahkan yang meminta jadi kepala desa adalah para pria. 


Saat pemilihan, dia bersaing dengan dua calon pria. Nurhayati mendapat dukungan 500 suara dari 800 wajib pilihan. Namun ibu tiga anak ini tak bisa ambisi untuk menjadi anggota dewan. Toh, sebagai kades dia sudah menjadi wakil rakyat, begitu alasannya. 


Setelah jadi kepala desa, banyak program yang digagas olehnya. Dua usaha pertama yang dirintis Nurhayati adalah pembuatan jaring ikan dan kue hasil olahan rumput laut. Ia melatih sekitar 40 perempuan sebagai bekal usaha itu melalui Program Sekolah Lapang.


Setelah itu, dia menambah lima jenis usaha yang masing-masing dijalankan sekitar 20 perempuan. Usaha itu antara lain pembuatan abon bandeng, ikan bandeng tanpa tulang, dan sayuran organik.


Semua unit usaha pangan itu didistribusikan ke Makassar dan Surabaya. Ia mencontohkan, usaha abon bandeng bisa menghasilkan 100 kilogram abon per bulan sehingga tiap- tiap anggota mendapatkan penghasilan hingga Rp 650.000 per bulan.


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Antisipasi Arus Balik Pemudik ke Jakarta