HRW: Ada Tes Keperawanan untuk Masuk Polwan

KBR, Jakarta - LSM pemantau hak asasi Manusia, Human Rights Watch mengeluarkan laporan baru soal internal kepolisian. Mereka mengatakan ada tes keperawanan untuk masuk menjadi Polisi Wanita. Benarkah?

NASIONAL

Selasa, 18 Nov 2014 14:42 WIB

HRW: Ada Tes Keperawanan untuk Masuk Polwan

perawan, polisi

KBR, Jakarta - LSM pemantau hak asasi Manusia, Human Rights Watch mengeluarkan laporan baru soal internal kepolisian. Mereka mengatakan ada tes keperawanan untuk masuk menjadi Polisi Wanita. Benarkah?

Dalam laporan HRW, Selasa (18/11), mereka mewawancarai 6 perempuan yang pernah melamar menjadi polwan di 6 kota di Indonesia. Bahkan di antara mereka baru saja melakukan tes masuk Polwan tahun 2014 ini.

Dalam laporan itu, Direktur Hak Perempuan HRW Nisha Varia mengatakan jika tes keperawanan itu diskriminnatif. Tes itu dilakukan dengan cara memalukan dan menyakitkan.

"Kepolisian Nasional Indonesia melakukan tes keperawanan adalah praktik diskriminatif yang merugikan dan menghina perempuan. Otoritas Kepolisian di Jakarta perlu segera dan tegas menghapuskan tes, dan kemudian memastikan bahwa semua tempat merekrut polisi nasional berhenti mengelola itu," kata Nisa.

Dalam laporan itu, Nisa mengatakan mewawancarai para Polwan, mantan Polwan, serta yang pernah melamar jadi Polwan antara Mei dan Oktober 2014. Wawancara dilakukan di Bandung, Jakarta, Padang, Pekanbaru, Makassar, dan Medan.

Tes keperawanan itu dilakukan berdasarkan Peraturan Kepala Kepolisian Nomor 5/2009 tentang Pemeriksaan Kesehatan (Pemeriksaan Kesehatan) Pedoman Calon Polisi. Pasal 36 dari peraturan tersebut dalam pasal itu menyebutkan calon Polwan harus menjalani tes obstetri dan ginekologi.

"Tes ini diberikan pada awal proses rekrutmen sebagai bagian dari pemeriksaan fisik pelamar. Polisi Kedokteran dan Pusat Kesehatan (Pusat Kedokteran dan Kesehatan) personil melakukan tes terutama di rumah sakit polisi," begitu bunyi laporan HRW.



(Baca Juga:  Begini Cara Tes Keperawanan untuk Jadi Polwan)  

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Survei Sebut Mayoritas Masyarakat Ingin Pandemi Jadi Endemi