DPR Tandingan Hasilkan Kebuntuan Politik

KBR, Jakarta - Sidang Paripurna DPR tandingan akan menghasilkan kebuntuan politik di parlemen. Paripurna tandingan ini diadakan fraksi-fraksi pendukung Jokowi-Kalla, kemarin.

NASIONAL

Sabtu, 01 Nov 2014 10:12 WIB

Author

Rio Tuasikal

DPR Tandingan Hasilkan Kebuntuan Politik

DPR Tandingan, refly harun


KBR, Jakarta - Sidang Paripurna DPR tandingan akan menghasilkan kebuntuan politik di parlemen. Paripurna tandingan ini diadakan fraksi-fraksi pendukung Jokowi-Kalla, kemarin. Pengamat Hukum Tata Negara Refli Harus mengatakan, perpecahan di DPR berpeluang menghambat parlemen yang seharusnya sudah bekerja. Selain itu, pembentukan undang-undang tidak akan berhasil karena DPR sulit satu suara. (Baca:Koalisi PDIP Jadi Gelar Paripurna Tandingan)

"Menurut UU MD3 pengambilan keputusan itu harus dihadiri lebih dari separuh jumlah fraksi, harus dengan suara jumlah fraksi minimal 6. Kalau antara KMP dan KIH itu 5-5, pengambilan keputusan tidak bisa dilakukan. Itulah potesi deadlock-nya," terang Refly saat dihubungi KBR, Sabtu (1/11) siang.

Pengamat Hukum Tata NegaraRefly Harun, menegaskan paripurna kemarin tidak sah. Sebanyak 178 anggota DPR yang kemarin ikut Paripurna tandingan bisa kena sanksi. Namun proses sanksi akan lama karena anggota yang dihukum mencapai ratusan.

 "Cuma kalau hampir separuh ya siapa yang mau memprosesnya, ini kan soal kepercayaan juga. Sekarang yang harus memproses kan Badan Kehormatan, BK mewakili satu kubu, sehingga masalahnya bukan hanya hukum, tapi juga sosial politik," terang Refly lagi. 


Kemarin, 6 fraksi pendukung Jokowi-Kalla melakukan paripurna DPR tandingan. Mereka menyatakan tidak percaya pada Ketua DPR Setya Novanto (Golkar) dan empat wakilnya. Mereka lantas memilih Ida Fauziah (PKB) sebagai Ketua DPR versi Koalisi Jokowi. Paripurna kemarin dihadiri 178 anggota dan tidak memenuhi quorum.

Editor: Nanda Hidayat

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Jurus Investasi Reksadana Antitekor

Kiat Asyik Tegakkan Prokes saat Rayakan Hari Raya

Kabar Baru Jam 7

Upaya Mencegah Penyebaran Covid-19 Klaster Idulfitri