Begini Cara Tes Keperawanan untuk Jadi Polwan

KBR, Jakarta - LSM pemantau hak asasi Manusia, Human Rights Watch melansir pengakuan-pengakuan Polwan, bekas Polwan, dan perempuan yang pernah melamar menjadi Polwan. Dari pengakuan itu terkuak cara tes keperawanan untuk masuk kepolisian.

NASIONAL

Rabu, 19 Nov 2014 19:07 WIB

Begini Cara Tes Keperawanan untuk Jadi Polwan

perawan, polisi

KBR, Jakarta - LSM pemantau hak asasi Manusia, Human Rights Watch melansir pengakuan-pengakuan Polwan, bekas Polwan, dan perempuan yang pernah melamar menjadi Polwan. Dari pengakuan itu terkuak cara tes keperawanan untuk masuk kepolisian.

Nama-nama mereka yang mengaku disamarkan. Ada 3 perempuan yang pengakuannya dilansir HRW, Selasa (18/11). Asal mereka dari Makassar, Pekanbaru, dan Bandung.


(Baca: HRW: Ada Tes Keperawanan untuk Masuk Polwan)

Siti, bukan nama sebenarnya asal Makassar mengaku pernah tes keperawanan saat ingin masuk jadi Polwan tahun 2008. Saat itu usianya 18 tahun. Dia bercerita saat tes kesehatan, dia diminta masuk ke ruang pemeriksaan di Rumah Sakit Bhayangkara Makassar.

"Kami diperintahkan untuk membuka pakaian dalam waktu 3 menit. Staf medis perempuan kemudian diperiksa mata kita, hidung, gigi, tulang keselarasan, varises, dan wasir," kata dia.


Setelah itu, Siti diminta masuk ke ruangan terpisah tanpa pintu. Dia kaget, di sanalah dimulai tes keperawanan. Vaginanya dimasukkan telunjuk dan jari tengah (dengan dua jari). Hal itu dilakukan di depan 20 calon Polwan.

"Kami tidak mengenal satu sama lain. Memasuki ruang tes keperawanan pemeriksaan benar-benar menjengkelkan. Saya takut bahwa setelah mereka melakukan tes saya tidak akan perawan lagi. Mereka dimasukkan dua jari. Ini benar-benar sakit. Teman saya bahkan pingsan karena itu benar-benar sakit, benar-benar sakit," Jelas Siti.

Hal serupa dialami Wina asal Bandung. Dia tes menjadi Polwan tahun 2013 lalu. Si tim medis, mengatakan akan ada pemeriksaan internal. Ternyata itu nama lain dari tes keperawanan. Sama seperti Siti, Wina pun menjalankan 'tes dua jari' di depan puluhan calon Polwan dalam satu ruangan.

Panitia seleksi mengatakan kepada pelamar sebelum 'pemeriksaan internal' bahwa kita bisa mengundurkan diri dari proses seleksi jika kita tidak ingin pergi melalui dengan tes keperawanan. Namun, kebanyakan dari kita telah melalui begitu banyak persiapan untuk persyaratan. Aku merasa aku tidak memiliki kekuatan untuk menolak karena jika saya menolak untuk menjalani tes keperawanan, saya tidak akan bisa masuk ke kepolisian," jelas Wina.



Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Survei Sebut Mayoritas Masyarakat Ingin Pandemi Jadi Endemi