ANBTI: 1500 Lebih Kasus Kekerasan Agama Terjadi Pasca Reformasi

Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBTI) mencatat 1.500an lebih kasus kekerasan agama terjadi pasca reformasi di Indonesia. Angka tersebut adalah 65 persen dari 2.300an total kasus kekerasan yang terjadi di Indonesia.

NASIONAL

Jumat, 14 Nov 2014 18:44 WIB

Author

Nur Azizah

ANBTI: 1500 Lebih Kasus Kekerasan Agama Terjadi Pasca Reformasi

kekerasan, tempat ibadah, reformasi

KBR, Jakarta- Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBTI) mencatat 1.500an lebih kasus kekerasan agama terjadi pasca reformasi di Indonesia. Angka tersebut adalah 65 persen dari 2.300an total kasus kekerasan yang terjadi di Indonesia. 


Peneliti ANBTI Sudarto mengatakan, 500an kasus kekerasan isu agama terjadi sepanjang era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.


"Zaman Orde Lama atau Soekarno itu hanya terjadi dua kali pembakaran gereja. Sementara Orde Baru sekitar 450an Gereja. Post Reformasi justru sampai seribu gereja, rumah ibadah lah,” kata Sudarto, Jumat (14/11).


“Zaman Habibie kurang lebih 21 bulan atau 17 bulan itu sekitar 200an Gereja karena situasinya sedang konflik atau transisi yang begitu kuat. Sementara zaman Gus Dur juga konflik Ambon Poso dan sekitarnya masih kuat itu sekitar 248 kasus. Dan era SBY ternyata juga kurang lebih 500 kasus terkait dengan pembakaran rumah ibadah karena tidak senang, termasuk di dalamnya ada penyegelan, perusakan,” tambahnya.  


Pekan Toleransi merayakan Hari Toleransi Internasional akan digelar mulai tanggal 15 sampai 19 November di Jakarta. Rangkaian kegiatan bakal diawali Pawai Obor Perdamaian dan Panggung Budaya Sabtu (14/11). 


Kegiatan yang digagas sejumlah LSM ini akan berlanjut pada konferensi regional yang juga dihadiri peserta dari Filipina, Singapura dan sejumlah negara lain. Rencananya konferensi regional yang dilaksanakan Senin (17/11) akan dihadiri sejumlah pejabat kementerian dan akan dibuka oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.


Editor: Antonius Eko 


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14

Waspada Beragam Modus Perdagangan Orang

Kabar Baru Jam 13

Kabar Baru Jam 12