KBR, Jakarta

NASIONAL

Kamis, 06 Nov 2014 14:04 WIB

Author

Pebriansyah Ariefana

Allan Nairn, munir, HAM, jokowi

KBR, Jakarta – Selama 10 tahun berlalu, aktivis Munir Said Thalib terbunuh. Hanya Pollycarpus Budihari Priyanto yang dijerat sebagai pelaku pembunuhan. Sementara menurut kabar jika Badan Intelijen Negara (BIN) juga terlibat dalam pembunuhan ini.

Munir tewas terbunuh 7 September 2004. Aktivis HAM itu tewas diracun saat terbang ke Belanda menggunakan pesawat Garuda Indonesia GA 974 tujuan Amsterdam. Di Belanda, Munir ingin meneruskan kuliah S2 bidang Hukum Humaniter di Universitas Utrecht.

Jurnalis asal Amerika Serikat Allan Nairn mewawancarai bekas Kepala BIN di masa Munir terbunuh, Hendropriyono bulan lalu. Allan mengatakan keterlibatan BIN dalam pembunuhan Munir memang belum terbukti. Namun ada keanehan setelah Munir terbunuh. BIN tidak bergerak menyelidiki.

Padahal saat itu berita pembunuhan Munir sangat masif. Bahkan Munir dianggap orang besar, sampai diperbincangkan di kalangan Kongres Amerika Serikat.

“Pertama saya tanya (ke Hendro) setelah kematian Munir. BIN selidiki soal itu? Dia sedikit terkejut dengan pertanyaan itu. Katanya nggak (menyelidiki) Saya jawab masuk akal kalau BIN sebagai kelompok intel harus mau selidiki soal besar seperti yang di Munir,” kata Allan saat berbincang dengan KBR, di Gedung KBR Jakarta, Kamis (6/11).

Allan menduga kuat, jika BIN memang merencanakan pembunuhan Munir. Buktinya, setelah ditanya berulang kali, Hendro mengakui bertanggungjawab secara komando atas pembunuhan itu. Namun Hendro yang pernah menjadi penasehat Joko Widodo saat kampanye menyangkal memerintahkan untuk membunuh Munir.

“Jadi kalau secara logis kalau dia ada tanggungjawab komand, itu operasi BIN. Kalau itu bukan operasi BIN tidak masuk akal bahwa dia tanggungjawab komando,” papar Allan.

Hendro mengatakan, BIN tidak menyelidiki pembunuhan Munir, karena kasus itu ditangani kepolisian. Padahal jika diselidiki BIN, kemungkinan besar otak pembunuan Munir bisa cepat terungkap.

Dengan dasar itu Allan mengambil kesimpulan dan dugaan jika pembunuhan Munir tidak dilakukan dengan perseorangan, tapi atas perintah institusi yaitu BIN.

“Saat dia bilang itu dia bilang, ‘oh ya saya memang ada tanggungjawab komando tapi saya tidak perintahkan pembunuhan itu’. Saya jawab, ’okay saya mau mengerti posisi bapak, bapak pasti ada tanggung jawab komando ya?”. Dia bilang, ‘iya pasti ada saya pemimpin BIN’. Jadi saya bilang, ‘bapak tahu bahwa bisa dipenjarakan untuk tanggungjawab komando itu, misalnya kasus Wiranto ada dakwaan dari PBB persisnya atas tanggungjawab komando.’ Dan dia terkejut. Dia sudah punya kelompok pengacara tapi dia terkejut. Dia jawab, ‘itu tidak adil itu,’. Jawab saya, ‘itulah hukum internasional, kalau ada tanggungjawab dan ada kejahatan harus diadili harus dipenjarakan.’ Tapi dia sudah mengaku,” papar Allan menirukan saat wawancara dengan Hendro.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 14

Kabar Baru Jam 15

Menguasai Manajemen Amarah

Kabar Baru Jam 7

Wacana Jokowi Presiden 3 Periode